Mimbar Jum'at: 7 Hal Yang Wajib Diperhatikan Dalam Membaca Al-Qur'an. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MIMBAR JUMAT • 06 Nov 2026 02:11 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 43 kali dibaca
Mimbar Jum'at: 7 Hal Yang Wajib Diperhatikan Dalam Membaca Al-Qur'an. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan huruf demi huruf atau menyelesaikan halaman demi halaman. Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia. Karena itu, membacanya membutuhkan perhatian, adab, dan kesungguhan hati.

Ada tujuh hal penting yang hendaknya diperhatikan ketika membaca Al-Qur’an, disertai dalil dari Al-Qur’an dan hadis Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Pertama, Meluruskan niat

Bacalah Al-Qur’an dengan niat ikhlas karena Allah. Bukan untuk mendapatkan pujian, memperindah suara di hadapan manusia, atau sekadar mengejar jumlah bacaan. Jadikan tilawah sebagai ibadah dan jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

"Mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 5).

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

"Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua, Menjaga kesucian dan adab

Menghormati Al-Qur’an merupakan bagian dari memuliakan kalam Allah. Hendaknya kita membaca dalam keadaan suci, memilih tempat yang bersih, duduk dengan sopan, dan menjaga sikap selama tilawah.

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

"Tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan." (QS. Al-Waqi'ah: 79).

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

"Nabi shalallahu alaihi wasallam senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan." (HR. Muslim).

Hadis ini menunjukkan luasnya anjuran berzikir dalam berbagai keadaan. Adapun membaca Al-Qur'an tanpa menyentuh mushaf, seseorang yang berhadas kecil tidak disyaratkan berwudu menurut pendapat mayoritas ulama.

Ketiga, Memulai dengan isti'adzah dan basmalah

Sebelum membaca Al-Qur’an, dianjurkan memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan dengan membaca ta'awudz. Kemudian membaca basmalah pada awal surah, kecuali Surah At-Taubah.

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

"Apabila engkau membaca Al-Qur’an, hendaklah engkau memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS. An-Nahl: 98).

Keempat, Memperhatikan makhraj dan tajwid

Setiap huruf Al-Qur’an memiliki tempat keluar dan sifat masing-masing. Karena itu, bacalah dengan memperhatikan makhraj, panjang pendek, dengung, serta hukum tajwid agar bacaan terjaga dan tidak mengubah makna ayat.

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

"Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil." (QS. Al-Muzzammil: 4).

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ

"Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat." (HR. Bukhari dan Muslim).

Kelima, Membaca dengan tartil dan tidak tergesa-gesa

Jangan terburu-buru mengejar banyaknya ayat. Bacalah secara perlahan, jelas, dan teratur. Berikan hak setiap huruf dan berhentilah pada tempat yang tepat.

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

"Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil." (QS. Al-Muzzammil: 4).

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا

"Akan dikatakan kepada orang yang selalu membaca Al-Qur’an: Bacalah, naiklah, dan tartilkanlah sebagaimana engkau dahulu membacanya dengan tartil di dunia." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Keenam, Berusaha memahami dan mentadabburi maknanya

Jangan hanya membiarkan lisan bergerak sementara hati tidak ikut hadir. Renungkan pesan setiap ayat, pahami perintah dan larangannya, serta ambil pelajaran dari kisah-kisah yang disampaikan Allah.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

"Maka tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka sudah terkunci?" (QS. Muhammad: 24).

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

"Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya." (HR. Muslim).

Ketujuh, Mengamalkan isi kandungannya

Inilah tujuan penting dari membaca Al-Qur’an. Jangan sampai kita rajin membacanya, tetapi enggan mengamalkannya. Al-Qur’an bukan sekadar untuk dilantunkan, melainkan untuk dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan.

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." (QS. Al-A'raf: 3).

الْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

"Al-Qur’an itu bisa menjadi pembela bagimu atau menjadi penuntut atasmu." (HR. Muslim).

Jadi, Pada akhirnya, keberhasilan membaca Al-Qur’an bukan hanya diukur dari berapa banyak halaman yang mampu kita selesaikan, tetapi juga sejauh mana bacaan itu menyentuh hati, memperbaiki akhlak, dan mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik.

Jangan sampai lisan kita begitu akrab dengan ayat-ayat Allah, tetapi perilaku kita justru jauh dari petunjuk-Nya.

Sebab, Al-Qur’an tidak hanya ingin didengar oleh telinga dan dilafalkan oleh lisan, tetapi juga ingin dihayati oleh hati dan diwujudkan dalam perbuatan.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai ahli Al-Qur’an, yaitu orang-orang yang senantiasa membaca, memahami, mengamalkan, dan memperjuangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. <>
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mimbar Jum'at

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

8 + 3 = ?
Berita Terkait