Mutiara Pagi: Apa Yang Sebenarnya Kita Tangisi? Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 19 Sep 2026 02:22 Admin NA 30 kali dibaca
Mutiara Pagi: Apa Yang Sebenarnya Kita Tangisi? Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Ada sesuatu yang sangat mengherankan dalam kehidupan manusia.

Ketika rumah rusak, kita bersedih.
Ketika kendaraan rusak, kita gelisah.
Ketika harga-harga naik, kita mengeluh.
Ketika rezeki berkurang, kita resah.
Ketika orang yang kita cintai meninggal, kita menangis.

Semua itu manusiawi.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih dalam:

Pernahkah kita menangis ketika iman kita melemah?

Pernahkah kita gelisah ketika shalat mulai ditinggalkan?
Pernahkah hati kita hancur ketika sunnah semakin asing?
Pernahkah kita merasa kehilangan ketika Al-Qur’an mulai jarang disentuh?
Pernahkah kita bersedih ketika dosa menjadi kebiasaan dan maksiat tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan?

Inilah yang dahulu direnungkan oleh Ibnu Muflih al-Hanbali rahimahullah

Manusia begitu banyak meratapi rusaknya dunia, tetapi sedikit yang meratapi rusaknya agama.

Kita sibuk menghitung kenaikan harga, tetapi lupa menghitung berapa banyak shalat yang kita lalaikan.

Kita takut kehilangan harta, tetapi tidak takut kehilangan kekhusyukan.

Kita cemas ketika tabungan berkurang, tetapi tidak cemas ketika umur berkurang sementara amal tidak bertambah.

Kita takut rumah roboh, tetapi tidak takut iman runtuh.

Kita menangisi orang yang pergi meninggalkan dunia, tetapi jarang menangisi diri sendiri yang setiap hari semakin dekat menuju kematian.

Barangkali di situlah letak masalahnya:

Dunia terlalu besar di mata kita, sementara akhirat terlalu kecil dalam perhatian kita.

Padahal dunia hanya tempat singgah.

Harta akan ditinggalkan.
Rumah akan ditinggalkan.
Jabatan akan ditinggalkan.
Nama akan dilupakan.

Yang akan menemani kita hanyalah amal.

Maka jangan hanya bertanya:

“Mengapa hidupku semakin sulit?”

Tanyakan juga:

“Mengapa hatiku semakin jauh dari Allah?”

Jangan hanya menangisi berkurangnya rezeki.

Tangisilah jika keberkahan hidup mulai hilang.

Jangan hanya takut kehilangan dunia.

Takutlah kehilangan iman.

Sebab kehilangan dunia mungkin hanya membuat hidup kita terasa sempit.

Tetapi kehilangan iman dapat membuat perjalanan menuju akhirat menjadi sangat panjang dan berat.

Maka ketika kita melihat zaman semakin berubah, jangan hanya mengeluh tentang zaman.

Periksalah hati kita.

Ketika masjid mulai sepi, tanyakan apakah kaki kita masih ringan menuju rumah Allah.

Ketika sunnah mulai asing, tanyakan apakah kita masih berusaha menghidupkannya.

Ketika kemaksiatan semakin terbuka, tanyakan apakah hati kita masih merasa takut melihatnya.

Dan ketika dosa semakin banyak, jangan tunggu sampai hati tidak lagi mampu menangis.

Sebab salah satu musibah terbesar bukanlah ketika seseorang berbuat dosa.

Tetapi ketika ia berbuat dosa, lalu tidak lagi merasa bahwa dirinya sedang kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

Semoga Allah mengembalikan ukuran yang benar dalam hati kita:m

dunia di tangan, bukan di hati;
akhirat di pandangan, iman di jiwa, dan Allah menjadi tujuan terakhir dari seluruh perjalanan. (*/252)
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 5 = ?
Berita Terkait