Mutiara Pagi: Ketika Musa Belajar Dari Khidir. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Ada sebuah pelajaran yang sangat dalam dari perjalanan Nabi Musa ‘alaihis salam ketika berguru kepada Nabi Khidir.
Menariknya, tiga peristiwa yang dilakukan Khidir di hadapan Musa ternyata memiliki kemiripan dengan sesuatu yang pernah dialami atau dilakukan Musa sendiri.
Seolah-olah Allah sedang memperlihatkan kepada Musa:
“Engkau sedang belajar memahami sesuatu yang dahulu pernah terjadi dalam perjalanan hidupmu sendiri.”
Ketika Khidir melubangi perahu yang mereka tumpangi, Musa pun mengingkarinya.
Namun kelak Musa mengetahui bahwa perahu itu sengaja dilubangi agar tidak dirampas oleh seorang raja zalim.
Peristiwa itu mengingatkan kita pada masa kecil Musa.
Dahulu Musa juga pernah berada di atas sebuah benda yang mengapung di atas air—sebuah tabut—ketika ibunya menghanyutkannya ke sungai atas perintah Allah.
Allah berfirman:
﴿أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ﴾
"Letakkanlah dia di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai, maka sungai itu akan membawanya ke tepi." (QS. Thaha: 39)
Dan siapa yang saat itu menjadi ancaman bagi Musa?
Fir'aun, seorang penguasa zalim.
Musa dahulu tidak memahami mengapa dirinya harus dihanyutkan ke sungai.
Tetapi ternyata sesuatu yang tampak seperti bahaya justru menjadi jalan keselamatan.
Lalu Khidir membunuh seorang anak kecil.
Musa kembali tidak mampu menerimanya.
Namun Khidir kemudian menjelaskan bahwa anak itu kelak akan menyeret kedua orang tuanya yang beriman kepada kekufuran dan kesusahan.
Peristiwa ini kembali mengingatkan Musa pada masa mudanya.
Musa pernah secara tidak sengaja membunuh seorang dari kaum Fir'aun ketika ia membela seseorang dari Bani Israil.
Allah berfirman:
﴿فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ﴾
"Maka Musa meninjunya, lalu orang itu mati." (QS. Al-Qashash: 15)
Musa pernah berada dalam sebuah peristiwa yang sangat berat akibat kematian seseorang.
Dan sekarang, ia menyaksikan Khidir melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dipahami oleh akal manusia.
Kemudian Khidir menegakkan sebuah dinding yang hampir roboh di sebuah negeri, padahal penduduknya tidak mau menjamu mereka. Khidir bahkan tidak meminta upah atas kebaikan tersebut.
Musa pun bertanya:
﴿لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا﴾
"Kalau engkau mau, tentu engkau dapat meminta upah atas pekerjaan itu." (QS. Al-Kahfi: 77)
Sekali lagi, Musa seakan sedang diperlihatkan kembali sesuatu dari perjalanan hidupnya sendiri.
Bukankah Musa dahulu juga pernah menolong dua perempuan yang sedang memberi minum ternak mereka?
Musa membantu mereka tanpa meminta upah, tanpa meminta imbalan, dan tanpa menunggu ucapan terima kasih.
Allah berfirman:
﴿فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ﴾
"Maka Musa memberi minum ternak kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh seraya berdoa: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.'" (QS. Al-Qashash: 24)
Musa menolong, lalu pergi.
Tidak menagih balasan.
Tidak menunggu pujian.
Tidak pula menyebut-nyebut kebaikannya.
Dan ternyata, pertolongan yang dilakukan Musa itu menjadi salah satu pintu perubahan besar dalam hidupnya.
Lalu apa pelajarannya?
Boleh jadi perjalanan Musa bersama Khidir bukan sekadar perjalanan untuk mengetahui tiga perkara yang tersembunyi.
Lebih dari itu, Allah sedang mendidik Musa dengan pengalaman hidupnya sendiri.
Musa pernah berada di atas air dan diselamatkan.
Musa pernah terlibat dalam kematian seseorang.
Musa pernah menolong tanpa meminta imbalan.
Lalu ia melihat Khidir melakukan sesuatu yang memiliki kemiripan dengan perjalanan hidupnya sendiri.
Seolah Allah sedang mengajarkan:
Jangan terlalu cepat menilai sebuah peristiwa hanya dari apa yang tampak di depan mata.
Ada sesuatu yang belum engkau ketahui.
Ada hikmah yang belum engkau pahami.
Ada takdir yang sedang Allah susun.
Dan ada bagian dari kehidupanmu yang baru akan engkau mengerti setelah engkau berjalan lebih jauh.
Karena itulah, pada akhir penjelasan Khidir, ia berkata:
﴿وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي﴾
"Dan aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri." (QS. Al-Kahfi: 82)
Inilah puncak pelajarannya:
Tidak ada yang terjadi secara kebetulan.
Perahu yang dilubangi, anak yang dibunuh, dinding yang ditegakkan—semuanya berada dalam ilmu dan kehendak Allah.
Begitu pula dengan perjalanan hidup kita.
Ada sesuatu yang kita anggap kehilangan, ternyata perlindungan.
Ada sesuatu yang kita anggap musibah, ternyata penyelamatan.
Ada sesuatu yang kita sesali, ternyata Allah sedang mengarahkan kita menuju jalan yang lebih baik.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kita menoleh ke belakang, kita akan berkata:
“Oh… ternyata Allah tidak sedang menghancurkan hidupku.
Allah sedang menyusunnya.”
Maka jangan tergesa-gesa menyimpulkan takdir.
Kita hanya melihat satu halaman, sedangkan Allah mengetahui seluruh buku.
Kita melihat peristiwa hari ini.
Allah mengetahui bagaimana kisah itu akan berakhir.
Karena itu, ketika jalan hidup terasa penuh tanda tanya, tetaplah percaya.
Allah tidak pernah salah dalam mengatur kehidupan hamba-Nya.
Boleh jadi kita belum memahami hikmahnya hari ini.
Tetapi sebagaimana Musa akhirnya memahami penjelasan Khidir, akan ada saatnya kita memahami mengapa Allah memilihkan jalan itu untuk kita.
Dan ketika hari itu tiba, mungkin kita akan menangis, bukan karena kecewa, tetapi karena akhirnya kita sadar:
“Selama ini, ternyata Allah selalu menjagaku.” (*/247)
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar