Mutiara Pagi: Beruntung dengan Ibadah dan Berbuat Kebaikan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 23 Aug 2026 00:23 Admin NA
Mutiara Pagi: Beruntung dengan Ibadah dan Berbuat Kebaikan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Allah Subḥanahu wata'ala memberikan kepada orang-orang beriman sebuah jalan yang sederhana, tetapi penuh makna. Jalan itu adalah ibadah kepada-Nya dan memperbanyak amal kebaikan.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77)

Perhatikanlah bagaimana Allah menghubungkan ibadah dengan berbuat baik. Rukuk dan sujud adalah bentuk penghambaan kepada Allah, sedangkan berbuat baik merupakan buah dari keimanan yang tercermin dalam kehidupan bersama manusia.

Seorang Muslim tidak cukup hanya rajin beribadah, tetapi juga harus menghadirkan kebaikan dalam kehidupannya. Lisannya menjaga orang lain dari perkataan yang menyakitkan, tangannya ringan membantu, hatinya mudah memaafkan, dan kehadirannya membawa manfaat.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. ath-Thabrani; dinilai hasan oleh sebagian ulama)

Karena itu, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Bisa jadi senyuman yang kita berikan, bantuan yang kita ulurkan, ilmu yang kita ajarkan, makanan yang kita berikan kepada orang yang membutuhkan, atau sekadar menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, menjadi sebab datangnya keberkahan dalam hidup kita.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا

“Janganlah engkau meremehkan suatu kebaikan sedikit pun.”
(HR. Muslim)

Kebaikan tidak selalu langsung dibalas dengan harta. Kadang Allah membalasnya dengan ketenangan hati, kesehatan, kemudahan urusan, keluarga yang harmonis, terhindar dari musibah, atau pahala yang Allah simpan untuk kehidupan akhirat.

Allah menegaskan:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Maka jangan bosan berbuat baik, meskipun tidak ada manusia yang memuji. Jangan berhenti membantu, meskipun kebaikan kita tidak dibalas. Jangan lelah beribadah, meskipun hasilnya belum terlihat.

Sebab kita tidak beramal untuk mencari penilaian manusia. Kita beramal karena Allah melihatnya.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)

Inilah hakikat keberuntungan yang sesungguhnya. Bukan sekadar banyaknya harta, tingginya kedudukan, atau panjangnya usia. Keberuntungan adalah ketika umur kita dipenuhi ketaatan, hati kita dekat dengan Allah, dan kehidupan kita menjadi jalan manfaat bagi sesama.

Ibadah mendekatkan kita kepada Allah, sedangkan kebaikan mendekatkan kita kepada manusia. Keduanya menjadi sebab datangnya keberkahan di dunia dan keselamatan di akhirat.

Maka mari kita renungkan:

Sudahkah rukuk dan sujud kita membuat hati semakin tunduk kepada Allah?
Sudahkah ibadah kita melahirkan akhlak yang baik?
Dan sudahkah keberadaan kita menjadi manfaat bagi orang-orang di sekitar kita?

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang banyak beribadah, ringan berbuat kebaikan, luas manfaatnya, dan memperoleh الفلاح—keberuntungan yang sempurna di dunia dan akhirat.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُصَلِّينَ، وَمِنَ الْمُحْسِنِينَ، وَمِنَ الْمُفْلِحِينَ

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mendirikan salat, orang-orang yang berbuat kebaikan, dan orang-orang yang memperoleh keberuntungan.” (*/323)
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 8 = ?
Berita Terkait