Mutiara Pagi: Ketika Pertolongan Menjadi Jalan Datangnya Pertolongan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Ada saat-saat dalam hidup ketika seseorang merasa seperti Musa ‘alaihissalam ketika sampai di Madyan.
Ia datang tanpa rumah untuk berteduh, tanpa keluarga untuk menemani, tanpa pekerjaan untuk menghidupi diri. Ia tidak membawa harta yang cukup, tidak memiliki kepastian tentang hari esok. Yang ia miliki hanyalah iman, keberanian, dan hati yang masih mampu berbuat baik di tengah kesempitan.
Namun lihatlah Musa.
Ketika ia melihat dua perempuan berdiri menunggu di belakang para penggembala, ia tidak berkata, “Aku sendiri sedang membutuhkan pertolongan.” Ia justru menolong mereka terlebih dahulu.
Allah mengabadikan:
فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰٓ إِلَى ٱلظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلۡتَ إِلَيَّ مِنۡ خَيۡرٖ فَقِيرٞ
“Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.’”
(QS. Al-Qashash: 24)
Perhatikan keindahan kisah ini.
Musa tidak menunggu menjadi kaya untuk berbuat baik. Ia tidak menunggu hidupnya lapang untuk menolong orang lain. Ia menolong dalam keadaan dirinya sendiri sedang membutuhkan pertolongan.
Dan setelah ia menolong, ia tidak menagih balasan kepada manusia.
Ia pergi ke tempat yang teduh.
Di sana, di bawah naungan pohon, seorang Musa yang tidak memiliki apa-apa mengangkat wajahnya kepada Dzat yang memiliki segala-galanya.
Ia tidak merangkai doa yang panjang.
Ia hanya berkata:
رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat membutuhkan kebaikan apa pun yang Engkau turunkan kepadaku.”
Betapa indahnya doa seorang yang benar-benar mengenal Tuhannya.
Ia tidak menentukan bentuk rezekinya.
Ia tidak mendikte bagaimana pertolongan itu harus datang.
Ia hanya mengakui kefakirannya dan menyerahkan bentuk kebaikan kepada Allah.
Dan lihatlah apa yang terjadi sesudah itu.
Belum lama Musa menyelesaikan doanya, datang salah seorang dari kedua perempuan itu dengan berjalan penuh rasa malu. Ia membawa kabar yang akan mengubah seluruh perjalanan hidup Musa.
Dari sebuah pertolongan kecil, Allah bukakan jalan menuju rumah.
Dari menolong dua perempuan, Allah bukakan jalan menuju keluarga.
Dari seorang pengembara tanpa pekerjaan, Allah bukakan jalan menuju pekerjaan.
Dan dari seorang yang datang ke Madyan sendirian, Allah karuniakan kehidupan baru.
Begitulah cara Allah bekerja.
Kadang-kadang pintu rezeki tidak diketuk dengan tangan kita, tetapi dibukakan melalui kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain.
Kadang-kadang pertolongan yang kita berikan kepada seseorang, ternyata adalah jalan yang Allah siapkan untuk pertolongan yang akan kembali kepada kita.
Maka jangan pernah meremehkan sebuah kebaikan hanya karena ia tampak kecil.
Segelas air yang engkau berikan.
Seseorang yang engkau bantu.
Hati yang engkau hibur.
Beban yang engkau ringankan.
Kesulitan seseorang yang engkau bantu selesaikan.
Boleh jadi itulah benih yang diam-diam sedang Allah tumbuhkan menjadi pohon pertolongan untuk hidupmu.
Musa datang ke Madyan tanpa apa-apa.
Tetapi ia membawa sesuatu yang lebih berharga daripada harta: kebaikan hati.
Dan ternyata, orang yang datang dengan tangan kosong tetapi membawa kebaikan, tidak pernah benar-benar kosong di hadapan Allah.
Sebab rezeki Allah tidak selalu turun dari langit dalam bentuk uang.
Kadang ia turun dalam bentuk pekerjaan.
Kadang dalam bentuk pasangan hidup.
Kadang dalam bentuk rumah.
Kadang dalam bentuk seorang sahabat.
Kadang dalam bentuk jalan keluar yang tidak pernah kita sangka.
Dan terkadang, satu-satunya yang harus kita lakukan adalah:
berbuat baik ketika kita sendiri sedang membutuhkan kebaikan, lalu berdoa ketika manusia tidak lagi mampu memberikan apa-apa.
Jangan takut berbuat baik di saat hidupmu sedang sempit.
Sebab boleh jadi, di balik kebaikan yang engkau lakukan hari ini, Allah sedang menyiapkan kehidupan yang jauh lebih luas untukmu esok hari.
Musa hanya memberi minum beberapa ekor kambing.
Tetapi Allah memberinya kehidupan baru.
Begitulah ketika seorang hamba berbuat baik karena Allah:
ia mungkin merasa sedang menolong orang lain, padahal sesungguhnya Allah sedang menolong dirinya sendiri. (*/321)
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar