Mutiara Pagi: Ketika Uzur Tidak Menghalangi Pahala.Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 05 Aug 2026 02:25 adm@nataragung.id

nataragung.id - Pemanggilan - Tidak semua pejuang berada di garis depan. Ada yang memegang pedang di medan perang, dan ada yang terbaring di atas pembaringan, tubuhnya lemah, namun hatinya terbang mengikuti setiap langkah para pejuang. Allah Yang Maha Mengetahui tidak hanya menghitung langkah kaki, tetapi juga melihat kerinduan hati yang terhalang oleh uzur.

Betapa banyak orang yang tidak mampu hadir di majelis ilmu karena sakit, tidak dapat berdiri di saf jihad karena kelemahan, tidak sanggup bersedekah karena kefakiran, atau tidak dapat berhaji karena keterbatasan. Di mata manusia mereka tampak tertinggal, tetapi di sisi Allah mereka dapat berjalan sejajar dengan orang-orang yang beramal, karena hati mereka telah lebih dahulu sampai.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan rahasia agung ini melalui sabda beliau.

Dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي غَزَاةٍ، فَقَالَ: إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا، إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ، حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ

Dalam riwayat lain:

إِلَّا شَرَكُوكُمْ فِي الْأَجْرِ

"Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang. Setiap kali kalian menempuh suatu perjalanan atau melintasi sebuah lembah, mereka selalu bersama kalian. Mereka terhalang oleh sakit."

Dalam riwayat lain:

"Mereka ikut memperoleh pahala bersama kalian." (HR. Muslim).

Dalam riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu disebutkan bahwa ketika Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kembali dari Perang Tabuk, beliau bersabda:

إِنَّ أَقْوَامًا خَلْفَنَا بِالْمَدِينَةِ، مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلَا وَادِيًا، إِلَّا وَهُمْ مَعَنَا؛ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ

"Sesungguhnya ada beberapa orang yang kami tinggalkan di Madinah. Tidaklah kita melewati suatu jalan di antara gunung-gunung ataupun suatu lembah, melainkan mereka bersama kita. Mereka tertahan oleh suatu uzur." (HR. Al-Bukhari).

Alangkah luas rahmat Allah. Dia tidak hanya memberi pahala kepada tangan yang bekerja, tetapi juga kepada hati yang jujur. Selama niat telah bulat dan tekad telah teguh, kemudian seseorang terhalang oleh uzur yang dibenarkan syariat, Allah tetap menuliskan baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya.

Inilah keluasan kasih sayang Rabb semesta alam. Seorang ibu yang ingin menghadiri majelis ilmu, tetapi harus merawat anaknya yang sakit. Seorang ayah yang ingin berjamaah di masjid, namun tubuhnya terbaring karena demam. Seorang hamba yang telah merindukan tanah suci, namun belum memiliki kemampuan untuk berangkat. Jika hati mereka benar-benar tulus dan uzur itulah yang menghalangi, maka Allah tidak menyia-nyiakan kerinduan mereka.

Sungguh, amal lahiriah terkadang dibatasi oleh keadaan, tetapi amal hati tidak pernah terhalang selama iman masih hidup di dalam dada.

Hadis ini juga mengajarkan agar kita tidak mudah menilai manusia hanya dari apa yang tampak. Mungkin ada seseorang yang tidak hadir dalam suatu amal saleh, namun namanya telah dicatat di langit bersama orang-orang yang hadir. Sebaliknya, ada yang hadir dengan tubuhnya, tetapi hatinya kosong dari keikhlasan sehingga pulang tanpa membawa apa-apa selain keletihan.

Maka janganlah engkau bersedih ketika uzur menghalangimu melakukan suatu kebaikan. Bersedihlah jika keinginan untuk berbuat baik telah padam dari hatimu. Sebab uzur hanya menahan langkah, tetapi tidak mampu menghalangi pahala bagi hati yang ikhlas.

Marilah kita memelihara niat sebelum memelihara kemampuan. Sebab kemampuan datang dan pergi, sedangkan niat yang jujur akan tetap hidup hingga menghadap Allah. Bila suatu hari kita tidak mampu lagi berdiri, semoga hati kita tetap berjalan. Bila kaki kita tak sanggup melangkah, semoga kerinduan kita kepada amal saleh tetap mengantarkan kita kepada limpahan pahala dari Allah Yang Maha Pemurah.

Semoga Allah, menganugerahkan kepada kita niat yang jujur, mengikhlaskan hati kita hanya untuk-anya, dan menuuliskan bagi kita pahala setiap kebaikan yang kita niatkan, tetapi terhalang oleh uzur yang ditetapkan. Sesungguh, Allah Maha Pemberi Karunia. Amin." (*/311)
WaAllahu A'lam


✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
? Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 1 = ?
Berita Terkait