Mutiara Pagi: Rabiul Awwal - Ketika Cahaya Itu Datang. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 16 Aug 2026 00:34 Admin NA
Mutiara Pagi: Rabiul Awwal - Ketika Cahaya Itu Datang. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Hari ini kita berada di bulan Rabiul Awwal—bulan yang namanya saja telah membawa aroma musim semi. Tetapi bagi hati orang-orang beriman, Rabiul Awwal bukan sekadar pergantian hari dalam kalender hijriah. Ia adalah bulan yang mengajak kita menengok ke belakang, kepada sebuah peristiwa agung yang mengubah wajah sejarah manusia: kelahiran Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Ada kelahiran yang hanya menambah jumlah manusia di bumi.

Namun ada kelahiran yang mengubah arah kehidupan manusia.

Ada seorang bayi yang lahir untuk menjadi anak bagi kedua orang tuanya. Tetapi ada seorang manusia yang Allah pilih untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164)

Perhatikanlah bagaimana Al-Qur'an menyebut kedatangan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sebagai مَنٌّ — karunia yang besar.

Sebab sebelum mengenal Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, manusia mungkin mengenal banyak jalan, tetapi tidak mengetahui jalan mana yang menuju Allah.

Mereka memiliki mata, tetapi tidak menemukan cahaya.

Mereka memiliki akal, tetapi kehilangan arah.

Mereka memiliki kekuatan, tetapi tidak mengetahui untuk apa kekuatan itu digunakan.

Kemudian Allah mengutus Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

Beliau datang bukan sekadar membawa sebuah risalah, tetapi membawa cahaya yang menerangi jalan kehidupan.

Beliau mengajarkan kepada kita siapa Tuhan yang kita sembah.

Beliau mengajarkan dari mana kita datang.

Beliau mengajarkan untuk apa kita hidup.

Dan beliau mengajarkan ke mana perjalanan ini akan berakhir.

Karena itu Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ۝ وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, penyeru kepada Allah dengan izin-Nya, dan sebagai pelita yang menerangi.” (QS. Al-Ahzab: 45–46)

سِرَاجًا مُنِيرًا

pelita yang menerangi.

Betapa indah ungkapan itu.

Pelita tidak memaksa orang untuk melihat.

Ia hanya menerangi.

Begitulah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Beliau menerangi jalan ketika manusia tersesat.
Beliau menghidupkan hati ketika hati telah mati.
Beliau mengajarkan kasih sayang ketika manusia tenggelam dalam kebencian.
Beliau mengajarkan tauhid ketika manusia bersujud kepada batu dan berhala.

Dan cahaya itu tidak berhenti pada generasi sahabat.

Cahaya itu sampai kepada kita.

Kita mengenal Allah karena Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan tauhid.

Kita mengenal shalat karena beliau mengajarkannya.

Kita mengenal Al-Qur'an karena beliau menyampaikannya.

Kita mengenal halal dan haram karena beliau menjelaskannya.

Kita mengetahui bagaimana menjadi seorang ayah, suami, anak, tetangga, pedagang, pemimpin, dan hamba Allah—karena kehidupan beliau menjadi teladan yang hidup.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Maka mencintai Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bukan hanya dengan menyebut namanya.

Cinta yang benar bukan sekadar lisan yang banyak bershalawat, sementara akhlak kita jauh dari akhlaknya.

Cinta yang benar adalah ketika jejak beliau mulai terlihat dalam kehidupan kita.

Beliau shalallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling jujur—maka kita belajar meninggalkan dusta.

Beliau shalallahu alaihi wasallam adalah orang yang paling amanah—maka kita menjaga kepercayaan.

Beliau shalallahu alaihi wasallam penuh kasih sayang—maka kita tidak menjadikan agama sebagai alasan untuk berlaku kasar.

Beliau shalallahu alaihi wasallam rendah hati—maka kita tidak membesarkan diri di hadapan manusia.

Beliau shalallahu alaihi wasallam banyak beribadah—maka kita tidak merasa cukup hanya dengan mengaku mencintainya.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak mengatakan: “hingga ia banyak berbicara tentang aku.”

Tetapi beliau mengatakan: hingga aku lebih ia cintai.

Sebab cinta yang sejati selalu mencari jalan untuk mendekat kepada yang dicintai.

Orang yang mencintai Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam akan bertanya kepada dirinya:

“Sudahkah akhlakku menyerupai akhlak beliau?”

“Sudahkah sunnah beliau hidup dalam rumahku?”

“Sudahkah shalatku seperti yang beliau ajarkan?”

“Sudahkah lisanku selamat dari dusta, ghibah, dan menyakiti orang lain?”

“Sudahkah hatiku memiliki kasih sayang sebagaimana beliau menyayangi umatnya?”

Inilah makna Rabiul Awwal yang seharusnya kita renungkan.

Bukan sekadar mengenang kapan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dilahirkan, tetapi bertanya kepada diri kita:

“Apa yang telah lahir dalam kehidupan kita karena kita mengenal Rasulullah shalallahu alaihi wasallam?”

Apakah telah lahir kecintaan kepada Allah?

Apakah telah lahir semangat untuk beribadah?

Apakah telah lahir akhlak yang mulia?

Apakah telah lahir kerinduan kepada akhirat?

Apakah telah lahir perubahan dalam diri kita?

Sebab boleh jadi seseorang telah berkali-kali melewati Rabiul Awwal, tetapi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam belum benar-benar hidup dalam akhlaknya.

Boleh jadi lisannya sering bershalawat, tetapi tangannya masih menyakiti.

Boleh jadi ia sering memuji Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, tetapi sunnah beliau belum menjadi pedoman dalam hidupnya.

Padahal Allah telah menegaskan:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali ‘Imran: 31)

Maka tanda cinta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bukan hanya air mata ketika mendengar kisah kelahirannya.

Tanda cinta itu adalah mengikuti jalannya.

Bukan hanya mengagungkan namanya, tetapi mengagungkan sunnahnya.

Bukan hanya mengenang kehidupannya, tetapi menjadikan kehidupannya sebagai petunjuk kehidupan kita.

Wahai hati yang sedang berjalan menuju Allah...

Rabiul Awwal datang setiap tahun, kemudian pergi.

Tetapi pertanyaannya bukan apakah bulan itu akan kembali.

Pertanyaannya:

Apakah kita akan menjadi manusia yang sama setelah Rabiul Awwal berlalu?

Ataukah kali ini kita benar-benar kembali kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam?

Kembali kepada shalatnya.

Kembali kepada akhlaknya.

Kembali kepada kesederhanaannya.

Kembali kepada kasih sayangnya.

Kembali kepada sunnahnya.

Kembali kepada ajarannya.

Sebab dunia ini panjang jalannya, tetapi pendek umurnya.

Kita berjalan hari demi hari menuju sebuah pintu yang tidak seorang pun dapat menghindarinya: kematian.

Dan ketika seluruh jalan dunia telah berakhir, kita akan sangat membutuhkan cahaya.

Pada saat itulah kita akan menyadari bahwa nikmat terbesar bukanlah harta yang pernah kita kumpulkan, bukan rumah yang pernah kita bangun, bukan jabatan yang pernah kita sandang.

Tetapi nikmat terbesar adalah:

Allah mengenalkan kita kepada-Nya.

Dan di antara sebab terbesar kita mengenal-Nya adalah karena Allah mengutus kepada kita Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Maka selamat datang, wahai Rabiul Awwal.

Bukan sekadar sebagai bulan untuk mengingat sebuah kelahiran.

Tetapi sebagai kesempatan untuk menghidupkan kembali cinta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Agar kita tidak hanya mengenal namanya, tetapi mengenal jalannya.

Tidak hanya mengagumi sejarahnya, tetapi mengikuti sunnahnya.

Tidak hanya bershalawat dengan lisan, tetapi membuktikan cinta dengan amal.

Dan semoga ketika suatu hari perjalanan kita sampai kepada ujungnya, kita termasuk orang-orang yang mendapatkan syafaat beliau shalallahu alaihi wasallam dan dikumpulkan bersama beliau di tempat yang paling mulia.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka cintailah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Kenalilah beliau.

Bacalah sirahnya.

Hidupkan sunnahnya.

Teladanilah akhlaknya.

Perbanyaklah shalawat kepadanya.

Karena boleh jadi, di antara seluruh cinta yang kita bawa dalam perjalanan hidup ini, cinta kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam-lah yang kelak menjadi sebab kita dikumpulkan bersamanya.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَاتِّبَاعَ سُنَّتِهِ، وَالِاقْتِدَاءَ بِهَدْيِهِ، وَاجْمَعْنَا مَعَهُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ.

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kecintaan kepada Nabi-Mu Muhammad shalallahu alaihi wasallam, kemampuan untuk mengikuti sunnahnya, meneladani petunjuknya, dan kumpulkanlah kami bersamanya di dalam surga-Mu yang penuh kenikmatan.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
(*/318)
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

4 + 5 = ?
Berita Terkait