Rasa Aman Psikologis dan Keterlibatan Belajar Siswa Pasca Konflik Dengan Guru di Sekolah

ARTIKEL 02 Sep 2026 15:59 Admin NA
Rasa Aman Psikologis dan Keterlibatan Belajar Siswa Pasca Konflik Dengan Guru di Sekolah

Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA.
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

nataragung.id - Metro - Sekolah merupakan lingkungan penting bagi perkembangan akademik, sosial, dan emosional anak. Hubungan yang positif antara guru dan siswa dapat membantu membangun rasa aman, kepercayaan diri, motivasi, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Sebaliknya, konflik dengan guru sebagai figur otoritas dapat menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan dan berpotensi memengaruhi kondisi psikologis siswa. Hal ini relevan dengan pemberitaan mengenai dugaan seorang guru mengusir siswa dari kelas di Pesisir Selatan pada Agustus 2026. Dinas Pendidikan setempat menyatakan bahwa persoalan masih dalam proses klarifikasi dan menunggu hasil mediasi pengawas. Karena itu, peristiwa tersebut perlu dipahami secara objektif tanpa terlebih dahulu memberikan label atau kesimpulan psikologis terhadap pihak yang terlibat.

Menurut psikologi perkembangan, anak usia sekolah sedang membangun rasa kompeten dan harga diri. Pengalaman di sekolah, termasuk interaksi dengan guru, dapat memengaruhi bagaimana anak memandang dirinya dan lingkungan sekolah. Penelitian Huang, Sang, dan Chao (2021) menunjukkan adanya hubungan antara relasi guru-siswa, self-worth, dan keterlibatan siswa. Sementara itu, Kang et al. (2023) menemukan bahwa konflik dalam hubungan guru-siswa berkaitan dengan school engagement siswa. Dengan demikian, pertanyaan penting dalam kajian ini adalah: bagaimana pengalaman konflik antara siswa dan guru dapat memengaruhi rasa aman, kondisi emosional, harga diri, dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran?.

Dampak Psikologis Konflik Guru-Siswa.

Konflik di kelas dapat memengaruhi siswa dalam beberapa aspek. Pertama, rasa aman psikologis. Siswa membutuhkan lingkungan yang membuatnya merasa diterima dan aman untuk belajar, bertanya, serta melakukan kesalahan. Apabila konflik dipersepsikan sebagai ancaman atau penolakan, sebagian siswa dapat mengalami rasa takut, malu, atau tidak nyaman berada di kelas. Kedua, kondisi emosional. Anak dapat menunjukkan kecemasan, kesedihan, kemarahan, menarik diri, atau perubahan perilaku. Namun, tidak setiap pengalaman konflik otomatis menyebabkan trauma. Kondisi psikologis siswa perlu diketahui melalui asesmen yang tepat.

Ketiga, harga diri (self-esteem). Cara guru memberikan teguran sangat penting. Koreksi sebaiknya diarahkan pada perilaku yang perlu diperbaiki, bukan memberikan label negatif terhadap pribadi anak. Kalimat “perilakumu perlu diperbaiki” berbeda secara psikologis dengan “kamu anak yang buruk”.Keempat, keterlibatan belajar (school engagement). Konflik yang tidak terselesaikan dapat membuat siswa enggan berpartisipasi, kehilangan motivasi, atau menjauh dari guru dan kegiatan pembelajaran. Penelitian Kim, Kwon, dan Park (2021) serta Roorda et al. (2021) menunjukkan pentingnya kualitas relasi guru-siswa terhadap keterlibatan siswa di sekolah.

Fenomena serupa juga pernah menjadi perhatian publik di beberapa daerah di Indonesia, termasuk kasus konflik guru-siswa di Lampung dan daerah lainnya. Berbagai kasus tersebut menunjukkan bahwa konflik di sekolah dapat berkembang menjadi persoalan sosial ketika direkam dan disebarluaskan melalui media sosial. Karena itu, penyelesaian perlu memperhatikan bukan hanya aspek disiplin, tetapi juga kondisi psikologis anak, guru, dan lingkungan sekolah.

Intervensi Psikologi Terapan dan Perspektif Islam.

Penanganan konflik guru-siswa perlu mengutamakan kepentingan terbaik anak, pemulihan rasa aman, dan perbaikan hubungan. Beberapa intervensi yang dapat dilakukan antara lain: Psychological First Aid (PFA) untuk memberikan dukungan awal dan membantu siswa merasa aman, Asesmen psikologis untuk mengetahui kecemasan, rasa aman, harga diri, dan perubahan keterlibatan belajar. Konseling individual atau kelompok apabila siswa menunjukkan masalah emosional, Pelatihan regulasi emosi agar siswa mampu mengenali dan mengelola perasaan, Pemulihan iklim kelas melalui komunikasi yang positif dan aturan yang konsisten, dan Restorative practice, yaitu dialog pemulihan antara siswa, guru, dan pihak terkait apabila kondisi memungkinkan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan nilai Islam. QS. Al-Hujurat ayat 11 mengingatkan: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka.” Ayat ini memberikan prinsip bahwa pendidikan harus tetap menjaga martabat manusia. Nabi Muhammad SAW juga bersabda: “Tidak boleh membahayakan dan tidak boleh saling membahayakan.”
(HR. Ibnu Majah; kaidah lā ḍarar wa lā ḍirār). Nilai tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian konflik hendaknya tidak menimbulkan kerugian psikologis baru bagi siswa maupun guru. Kebijakan pendidikan Indonesia juga mengarah pada penguatan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman menekankan kesejahteraan psikologis, pendekatan humanis, partisipatif, kolaboratif, dan pemulihan.

Akhirnya penting untuk dicermati bahwa konflik antara guru dan siswa sebagai persoalan yang memiliki dimensi psikologis dan pendidikan. Pengalaman konflik dapat berpengaruh terhadap rasa aman, kondisi emosional, harga diri, dan keterlibatan belajar siswa, meskipun dampaknya berbeda pada setiap anak. Oleh karena itu, penyelesaian kasus di sekolah sebaiknya tidak berhenti pada penentuan pihak yang benar atau salah. Sekolah perlu melakukan klarifikasi, asesmen psikologis, pemulihan hubungan, serta memastikan siswa kembali merasa aman untuk belajar. Psikologi terapan memiliki peran penting dalam membangun sekolah yang tidak hanya disiplin, tetapi juga aman, humanis, suportif, dan menghargai martabat setiap siswa. Konflik hendaknya menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas hubungan guru-siswa dan membangun budaya sekolah yang lebih sehat. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 4 = ?
Berita Terkait