Cermin Retak: Siapapun Terpilih, Ini Tiga Amanahnya. Oleh : Mukhotib MD. Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta

ARTIKEL 30 Aug 2026 16:33 Admin NA
Cermin Retak: Siapapun Terpilih, Ini Tiga Amanahnya. Oleh : Mukhotib MD.  Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta

nataragung.id - Yogyakarta - Pakde No kali ini angkat bicara di podium meja makan warung Yuk Nah. Ia berdiri tegap di depan Yuk Nah dan Pakde Kliwon.

Saya duduk di belakang mereka, selang dua meja. Posisi ini cukup strategis untuk menghindari lompatan benda cair.

"Saya tidak peduli siapapun yang terpilih menjadi Rais Am dan Ketua Umum PBNU," katanya meluap-luap seperti lidah bah sungai Tambakberas, saat menjilat tepian sungai tanah-tanah yang siap tergerus arus.

"Lha, yang dipedulikan apa?" sahut Kliwon.

"Sebentar. Ini pidato kebudayaan kok di sela dengan pertanyaan," sahut Pakde No. Saya tersenyum, tetapi segera menyibukkan mulut dengan tempe mendoan maut tangan kreatif Yuk Nah.

"Setidaknya ada tiga amanah yang harus dijalankan siapapun yang terpilih," lanjut Pakde No.

Pandangannya memutari ruangan warung. Tentu saja tak menemukan siapa-siapa, kecuali kami berempat. Sebab pagi itu warung memang belum buka secara resmi. Tak ada satu pun pembeli yang duduk di kursi dan meja makan yang berjajar rapi.

Sapuan matanya terus berkeliling merayapi lukisan-lukisan yang tergantung di dinding bambu warung itu. Selain lukisan berbagai hewan, juga ada gambar para aktivis gerakan reformasi jilid 1. Tak ada yang tahu maksud Yuk Nah menulis judul lukisan itu dengan jilid 1.

Amanah yang utama, kata Pakde No harus mampu membawa NU menjadi organisasi masyarakat sipil yang kuat. Melakukan pemberdayaan masyarakat miskin, dan terus berada di jalur luar kekuasaan.

"Tidak ikutan menjilat penguasa, tetapi melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang menindas rakyat," katanya.

Ia bilang, ini impian dan cita-cita Gus Dur. Ia rela dimusuhi para penguasa, dia enggak perduli dengan keselamatan dirinya. NU mendapat tekanan dari sana sini, ia bergeming dengan ideologi dan idealismenya.

Pakde No mengatakan amanah kedua, NU harus mampu membangun kemandirian ekonomi. Tak perlu malu-malu, bangun bisnis dengan kepemilikan di tangan warga NU. Badan usaha milik warga, bukan milik para pengurusnya.

Warga NU bisa menjadi pelaku usaha, menjadi pemasok bisnis NU yang berbentuk produksi. Begitu juga bentuk usaha lain seperti bisnis transportasi, dan komunikasi. NU harus bisa memetakan bisnis strategis berskala nasional.

"NU membina warga NU menjadi pebisnis dengan kompetensi dan berstandar nasional, bila perlu internasional," ucapnya. Tangan kanannya menyambar air putih di gelas yang disiapkan sendiri sejak awal. Sebab ia tahu persis, tidak akan ada yang menyediakannya.

Saya membayangkan, andai saja ... andai saja, ia menjadi pejabat tinggi di negeri ini, alangkah mewahnya kehidupan rakyat Indonesia. Ia pasti akan menggusur praktik premanisme, bagi-bagi posisi di kementerian dan  BUMN, menertibkan ulah para penjaga kenyamanan sosial, dan penjaga keamanan negara.

Namun, jelas ini hanya andaian saya saja. Sebab saya tahu, sejak lama ia telah memilih jalur gerakan kebudayaan, bukan jalur politik di negeri ini.

Ketiga, kata Pakde No, NU harus menolak segala macam program yang tidak jelas desainnya dan berpotensi menjadi sarang korupsi untuk memperkaya diri sendiri. Banyak program yang di atasnamakan kepentingan rakyat, tetapi rakyat hanya menjadi alasan atas nama, dan program tetap berjalan, bahkan ketika ditolak rakyat. Dan pengerukan uang negara terus berjaya dan lancar jalannya.

"Sekali lagi, siapapun yang terpilih tak penting. Namun, ia harus menjaga tiga amanah dasar ini," pungkasnya.

Ia duduk, nafasnya seakan saling berkejaran. Keringat sebesar biji jagung berguguran dari dahinya. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

9 + 7 = ?
Berita Terkait