Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung Meput Lesung, Ketika Makan Menyatukan Kampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 30 Oct 2026 01:47 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 21 kali dibaca
Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung Meput Lesung, Ketika Makan Menyatukan Kampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun.
Kalau kamu datang ke kampung kami waktu musim panen, jangan heran kalau di tengah halaman ada lesung besar yang ditumbuk beramai-ramai. Bunyinya "tung... tung... tung..." bersahutan, seperti detak jantung kampung yang tidak pernah berhenti. Orang menyebutnya Meput Lesung, menumbuk padi bersama-sama di lesung panjang.
Tapi Meput Lesung bukan cuma soal menumbuk padi. Ia lebih dari itu. Ia adalah alasan orang berkumpul.
Saya masih ingat betul, dulu kakek saya yang seorang Punyimbang di kampung sering bilang: "Jama sai lain, kita harus nemui nyimah. Jama sai dighi, kita harus sakai sambayan.", Kepada orang lain, kita harus ramah dan saling memberi. Kepada sanak sendiri, kita harus bergotong royong. Dua kalimat itu beliau ucapkan sambil duduk di beranda, melihat orang-orang datang membawa padi masing-masing.

Di kampung kami, Meput Lesung biasanya dilakukan menjelang musim tanam berikutnya. Padi yang sudah kering dari sawah dibawa ke halaman rumah tetua kampung. Ada yang datang dengan Saibatin yang masih memegang adat pesisir, ada juga yang dari pihak Pepadun yang lebih terbuka. Semua bercampur jadi satu. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah.
Yang menarik, Meput Lesung tidak pernah diumumkan lewat pengeras suara. Cukup satu orang bilang ke tetangga, "Besok kita meput lesung, ya." Dalam hitungan jam, seluruh kampung tahu. Inilah yang orang Lampung sebut Nengah Nyappur, terbuka, tidak menutup diri, selalu tahu kabar tetangga tanpa perlu diundang resmi.

Pagi-pagi sekali, ibu-ibu sudah datang membawa beras dan ayam. Bapak-bapak menyiapkan lesung dan alu. Anak-anak berlarian, ada yang membantu, ada juga yang cuma main. Tapi semua ada di sana. Tidak ada yang tinggal di rumah sendirian.
Kakek saya dulu pernah berpesan: "Ngelak ngelamon, ngelak ngelamon. Artinya, kalau kita tidak pernah datang ke acara orang, jangan harap orang datang ke acara kita." Pesan ini sederhana, tapi dalam. Dalam falsafah Piil Pesenggiri, ini disebut Nemui Nyimah, keramahan yang diwujudkan dengan kehadiran, bukan cuma ucapan.

Lesung itu sendiri punya cerita. Konon, lesung panjang di kampung kami sudah ada sejak zaman nenek moyang. Kayunya dari pohon besar yang tumbang sendiri, bukan ditebang. Orang tua bilang, pohon itu "memberi diri" untuk kampung. Dari situ kami belajar, alam pun kalau dijaga akan memberi dengan sendirinya.
Proses Meput Lesung sendiri memakan waktu berjam-jam. Padi dimasukkan ke lubang lesung, lalu ditumbuk dengan alu panjang. Satu orang menumbuk, yang lain menunggu giliran. Tapi tidak pernah ada yang mengeluh. Sambil menumbuk, mereka bercerita. Tentang panen yang bagus, tentang anak yang mau sekolah, tentang tetangga yang sedang sakit.
Di sinilah Sakai Sambayan benar-benar hidup. Bukan cuma gotong royong fisik, tapi juga gotong royong cerita. Saling menguatkan. Saling mengingatkan.
Menjelang siang, beras sudah mulai jadi. Ada yang masih kasar, ada yang sudah halus. Ibu-ibu lalu memasak nasi bersama di dapur besar. Ada yang menanak, ada yang menyiapkan lauk, ada yang mengiris sayur. Semua punya peran. Tidak ada yang duduk diam.
Lauknya sederhana saja. Biasanya ikan asin, sambal terasi, sayur daun singkong, dan kadang ayam kampung yang dimasak gulai. Tidak ada yang mewah. Tapi rasanya selalu istimewa, karena dimakan bersama.
Kakek saya pernah bilang, "Makan itu bukan soal kenyang. Makan itu soal kebersamaan." Saya baru paham kalimat itu setelah dewasa. Makan sendiri di rumah dengan lauk enak, tidak ada rasanya. Makan bersama di tikar dengan lauk sederhana, rasanya seperti pesta.

Dalam Islam, kita diajarkan bahwa makan bersama itu membawa berkah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Makanlah bersama-sama dan sebutlah nama Allah, niscaya makanan itu akan diberkahi untukmu." Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Jadi Meput Lesung bukan cuma tradisi, tapi juga sejalan dengan ajaran agama.
Al-Qur'an juga mengingatkan kita dalam Surah Al-Hujurat ayat 13: 
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiir
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."

Artinya, yang membedakan manusia bukan marga, bukan gelar, bukan kekayaan. Tapi ketakwaan.

Di tikar Meput Lesung, semua duduk sama rata. Tidak ada Bejuluk Beadek yang merasa lebih tinggi.
Pancasila juga mengajarkan hal yang sama. Sila ketiga, "Persatuan Indonesia," bukan cuma slogan. Ia hidup di tikar Meput Lesung. Orang dari berbagai marga, berbagai latar, duduk bersama, makan bersama, tanpa memandang siapa yang lebih dulu datang.
Menjelang sore, Meput Lesung selesai. Beras sudah ditumbuk halus, siap disimpan di lumbung. Tapi yang paling berharga bukan berasnya. Yang paling berharga adalah kebersamaan yang tercipta sejak pagi.
Anak-anak pulang dengan perut kenyang dan cerita. Orang tua pulang dengan hati ringan. Tetangga yang tadinya jarang bertemu, jadi saling menyapa lagi. Itulah keajaiban Meput Lesung.
Kakek saya pernah berpesan lagi, "Kampung itu bukan tempat. Kampung itu orang." Kalau orang-orangnya tidak pernah berkumpul, kampung itu mati. Meput Lesung adalah cara kami menghidupkan kampung.

Di zaman sekarang, ketika orang sibuk dengan ponsel masing-masing, Meput Lesung jadi pengingat. Bahwa manusia itu makhluk sosial. Bahwa kita tidak bisa hidup sendiri. Bahwa makan bersama itu menyembuhkan.
Saya pernah bertanya ke kakek, "Kenapa harus meput lesung? Kan bisa beli beras di pasar." Kakek menjawab dengan tenang, "Beli beras di pasar itu mengisi perut. Meput Lesung itu mengisi hati." Saya diam. Kalimat itu tidak pernah saya lupakan.

Dalam falsafah Pesenggiri, harga diri bukan soal punya banyak harta. Harga diri itu soal menjaga hubungan. Kalau kita punya banyak uang tapi tidak punya tetangga, apa artinya? Meput Lesung mengajarkan bahwa harga diri itu dibangun dari kebersamaan.
Juluk-Adok, gelar kehormatan, juga bukan soal pangkat. Gelar itu diberikan kepada orang yang benar-benar menjaga adat dan membantu sesama. Di Meput Lesung, gelar tidak penting. Yang penting adalah kehadiran.

Malamnya, setelah semua selesai, biasanya ada yang masih duduk di beranda. Ngobrol ringan, minum kopi, tertawa kecil. Tidak ada agenda. Tidak ada target. Cuma kebersamaan yang sederhana. Dan itu cukup.

Tabik pun. Kalau kamu suatu hari ke Lampung, dan kebetulan ada Meput Lesung, jangan cuma nonton. Ikutlah duduk di tikar. Ambil sepiring nasi. Makan bersama kami. Karena di situ, kamu akan tahu apa artinya kampung. Apa artinya saudara. Apa artinya hidup. (*)

Daftar Pustaka
1. Abu Dawud. Sunan Abu Dawud, Kitab Al-At'imah, Hadis no. 3764.
2. Departemen Agama RI. (2019). Al-Qur'an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an.
3. Detikcom. (2026). Mengulik tentang Pepadun dan Saibatin, Masyarakat Adat di Provinsi Lampung. detikSumbagsel.
4. Direktorat Jenderal Pajak. (2026). Kepatuhan Pajak dalam Falsafah Hidup Masyarakat Lampung. stats.pajak.go.id.
5. Masita. (2026). Aktualisasi Nilai-Nilai Falsafah Piil Pesenggiri dalam Pemberdayaan Masyarakat Islam [Disertasi, UIN Raden Intan Lampung].
6. Medani Bahagianda, Mohammad. (Dalom Putekha Jaya Makhga). Karya dan catatan adat Lampung.
7. Ramadhan, R. H. (2025). Pancasila dan kearifan lokal: Sinergi paradigma dalam membangun identitas dan ketahanan budaya bangsa. Maliki Interdisciplinary Journal, 4(2), 39–43.
8. Radio Rodja. (2022). Rezeki Akan Langgeng dengan Ketaatan dan Hilang dengan Maksiat. radiorodja.com.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

4 + 6 = ?
Berita Terkait