Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Pandap dalam Jejak Budaya Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
SOSIAL DAN BUDAYA
•
21 Jul 2026 03:41
•
Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung.
Pandap dalam Jejak Budaya Lampung.
Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, di pesisir barat tanah Lampung, hiduplah sebuah komunitas nelayan dan petani yang hidup sederhana namun kaya akan kearifan lokal. Mereka adalah masyarakat Saibatin, salah satu kelompok adat terbesar di Lampung, yang memiliki hubungan erat dengan laut dan hutan di sekitarnya.
Konon, pada suatu musim paceklik, seorang Punyimbang (pemuka adat yang dituakan) yang bijaksana merasa prihatin melihat warganya kesulitan mendapatkan lauk-pauk. Namun, di halaman rumahnya masih tumbuh subur pohon kelapa dan talas, sementara para nelayan hanya membawa pulang ikan kecil yang tidak seberapa.
Dari keprihatinan itulah muncul inspirasi. Sang Punyimbang mengajak istrinya untuk mengolah ikan yang sedikit itu dengan parutan kelapa yang melimpah, lalu membungkusnya dengan daun talas dan daun pisang, kemudian merebusnya berjam-jam hingga bumbu meresap sempurna. Hasilnya luar biasa! Hidangan sederhana itu terasa gurih, kaya rempah, dan mampu mengenyangkan. Warga pun berbondong-bondong mencoba resep tersebut, mengembangkannya sesuai dengan bahan yang tersedia di sekitar mereka. Makanan inilah yang kemudian dikenal dengan nama Pandap.
Pandap ternyata lebih dari sekadar makanan pengganti lauk. Ada filosofi mendalam yang diwariskan para leluhur melalui hidangan ini. Proses pembuatan Pandap yang memakan waktu lama, bisa mencapai 6 hingga 8 jam perebusan, mengajarkan tentang kesabaran dan ketekunan.
Seperti halnya kehidupan, untuk mencapai hasil yang baik diperlukan proses yang panjang dan tidak instan.
Bahan-bahan Pandap juga sarat makna. Daun talas yang digunakan sebagai pembungkus bagian dalam melambangkan perlindungan, sementara daun pisang di bagian luar melambangkan kekuatan dan ketahanan. Ikan atau udang yang menjadi isi utama adalah simbol rezeki dari laut yang harus disyukuri. Kelapa yang diparut dan diolah menjadi bumbu gurih melambangkan kemakmuran dan kebersamaan, karena kelapa adalah pohon serbaguna yang semua bagiannya bermanfaat.
Menurut cerita turun-temurun, Pandap kerap disajikan dalam acara-acara penting adat seperti pernikahan dan upacara pemberian gelar adat atau cakak pepadun. Dalam momen-momen sakral tersebut, Pandap menjadi hidangan yang mempersatukan seluruh hadirin, mengingatkan mereka akan pentingnya kebersamaan dan rasa syukur.
Untuk merasakan kelezatan Pandap, kita perlu memahami bagaimana hidangan ini dibuat secara tradisional. Bahan dasarnya adalah ikan (biasanya ikan tongkol atau ikan teri) atau udang segar yang dihaluskan dan dicampur dengan bumbu rempah. Bumbu yang digunakan antara lain bawang merah, bawang putih, lengkuas, jahe, kunyit, cabai merah, cabai rawit, dan asam kandis. Yang membuat Pandap istimewa adalah penggunaan parutan kelapa tua yang disangrai dan kelapa muda yang digiling halus, memberikan tekstur dan cita rasa yang khas.
Semua bahan dicampur merata, lalu dibungkus dengan daun talas terlebih dahulu, kemudian dibungkus lagi dengan daun pisang, dan diikat dengan tali serat rami. Bungkusan ini kemudian direbus dalam air yang diberi tambahan asam kandis dan pala selama berjam-jam hingga matang sempurna. Menurut para tetua, memasak Pandap tidak bisa terburu-buru; proses perebusan yang lama justru membuat bumbu meresap hingga ke dalam dan menghasilkan cita rasa yang kaya.
Cara menghidangkan Pandap juga penuh makna. Biasanya disajikan bersama nasi hangat, gulai taboh iwa tapa (gulai ikan khas Lampung), dan sambal mentah.
Dalam acara adat, Pandap disajikan dalam wadah besar dan dinikmati bersama-sama sebagai simbol kebersamaan. Masyarakat Saibatin di Pesisir Barat juga menjadikan Pandap sebagai makanan sehari-hari yang dijual di pasar tradisional, menunjukkan bahwa kuliner ini tidak hanya untuk upacara adat tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pandap menjadi cerminan dari falsafah hidup masyarakat Lampung yang dikenal dengan Piil Pesenggiri. Dalam falsafah ini terkandung lima nilai utama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Lampung: Pesenggiri (harga diri dan kehormatan), Juluk-Adok (gelar kehormatan), Nemui Nyimah (keramahan dan saling memberi), Nengah Nyappur (keterbukaan dan bersosialisasi), serta Sakai Sambayan (gotong-royong).
Pandap dengan proses pembuatannya yang memakan waktu dan tenaga mengajarkan tentang Pesenggiri, bahwa untuk mencapai kehormatan diperlukan usaha dan kerja keras. Hidangan ini juga melambangkan Nemui Nyimah, karena masyarakat Lampung selalu terbuka menerima tamu dengan hidangan terbaik mereka. Dalam acara adat, penyajian Pandap menunjukkan Nengah Nyappur dan Sakai Sambayan, di mana seluruh warga berkumpul, berinteraksi, dan berbagi bersama.
Selaras dengan nilai-nilai Islam, Pandap juga menjadi simbol syukur kepada Allah atas limpahan rezeki dari darat dan laut. Tradisi memasak dan menyantap Pandap selalu diawali dengan doa, dan tidak ada unsur yang bertentangan dengan syariat.
Bahkan, proses penyembelihan hewan untuk bahan Pandap dilakukan sesuai dengan aturan Islam.
Sebagai bagian dari identitas budaya Lampung, Pandap juga mengandung nilai-nilai Pancasila secara natural. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, tercermin dalam rasa syukur yang selalu dipanjatkan sebelum menikmati hidangan ini. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, terlihat dari sikap Nemui Nyimah yang mengajarkan keramahan dan saling menghargai tanpa memandang status. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, diwujudkan dalam semangat Sakai Sambayan saat memasak dan menyantap Pandap bersama. Sila keempat, Kerakyatan, terlihat dari musyawarah dalam menentukan cara penyajian adat. Sila kelima, Keadilan Sosial, tercermin dalam semangat berbagi yang menjadi ciri khas penyajian Pandap.
Untuk memahami lebih dalam tentang tradisi Pandap, kita perlu menengok naskah-naskah kuno masyarakat Lampung. Salah satu kitab adat yang penting adalah Kuntara Raja Niti, yang memuat hukum-hukum adat tentang kehidupan masyarakat Lampung. Meskipun dalam naskah ini tidak secara spesifik menyebut Pandap, namun nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti gotong-royong, musyawarah, dan penghormatan terhadap alam, tercermin dalam tradisi pengolahan dan penyajian Pandap.
Kutipan dari kitab adat yang sering diingat oleh para Punyimbang berbunyi: "Pepat belah depati, adek ngeliyom mak ngungkung wat balak"
Secara sederhana, kutipan ini mengajarkan bahwa keputusan dalam masyarakat harus diambil melalui musyawarah, dan perilaku baik tidak mengenal batas. Nilai musyawarah ini terlihat dalam tradisi Pandap, di mana seluruh warga dilibatkan dalam proses pembuatan dan penyajiannya.
Meskipun zaman terus berubah, Pandap tetap bertahan sebagai warisan kuliner yang dijaga kelestariannya. Di Pesisir Barat, Pandap masih mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional dengan harga yang terjangkau. Bahkan, generasi muda Lampung mulai melirik kembali kuliner ini sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Festival kuliner dan acara budaya sering menampilkan Pandap sebagai salah satu hidangan andalan, mengenalkan cita rasa Lampung kepada wisatawan dan generasi penerus. Keberlanjutan tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal dapat bertahan di tengah arus globalisasi, selama kita mau menjaga dan mewariskannya.
Pandap bukan sekadar makanan khas Lampung. Ia adalah cerminan kedekatan masyarakat dengan alam, simbol persaudaraan, dan warisan adat yang sarat nilai-nilai luhur. Dari kisah leluhur di Pesisir Barat yang menciptakannya untuk mengatasi masa paceklik, hingga cara penyajiannya yang penuh makna, Pandap mengajarkan kita tentang kesabaran, kebersamaan, dan rasa syukur.
Melalui Pandap, kita belajar bahwa makanan bukan hanya untuk mengisi perut, tetapi juga untuk mengingatkan kita akan jati diri dan tanggung jawab moral. Marilah kita jaga dan lestarikan Pandap, agar generasi mendatang masih bisa merasakan kelezatan dan makna dari hidangan yang lahir dari kearifan lokal masyarakat Lampung ini. (*)
Daftar Pustaka
1. Ethnobotany of "Pandap": Traditional cuisine from Saibatin community in West Pesisir Regency, Lampung, Indonesia. Zenodo, 2019.
2. "Pandap." Budaya Indonesia, 2018.
3. Nilai-nilai Islam dalam Falsafah Hidup Masyarakat Lampung. Jurnal Kalam, Vol. 10 No. 1, 2016.
4. Hilman Hadikusuma. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju, 1989.
5. "Soal Rasa Jangan Diragukan, 2 Makanan Khas Lampung Paling Favorit..." Jurnal Aceh, 2023.
6. Imron, Ali dan Arifin, Razi. Kuntara Raja Niti (Transkripsi Naskah Kuno dan Analisis Sejarah). Universitas Lampung.
7. Pudijastuti, Titik. Aksara dan Naskah Kuno Lampung dalam Pandangan Masyarakat Lampung Kini. Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1996.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar