Buku Seri: Lima Keratuan dan Sembilan Marga Struktur Kekuasaan Adat Sebelum Kolonial. Seri – 4: Piil Pesenggiri. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 08 Nov 2026 00:14 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 38 kali dibaca
Buku Seri: Lima Keratuan dan Sembilan Marga Struktur Kekuasaan Adat Sebelum Kolonial. Seri – 4: Piil Pesenggiri. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, punyimbang sekalian. 
Mari kita duduk sebentar di beranda. Kali ini saya mau bercerita tentang satu hal yang paling sering disebut tapi jarang benar-benar dipahami: Piil Pesenggiri. Banyak orang mengira ini hanya soal gengsi, soal tidak mau kalah, soal harga diri yang mudah tersinggung. Padahal, kalau kita telusuri dari cerita para leluhur, Piil Pesenggiri jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah fondasi akhlak, tiang penyangga martabat, dan jalan hidup yang menuntun kita menjadi manusia yang beradab.

Kata piil dalam bahasa Lampung berarti tingkah laku atau perbuatan. Sementara pesenggiri bermakna kehormatan atau harga diri. Jadi Piil Pesenggiri bukan sekadar perasaan gengsi yang berkobar di dada. Ia adalah prinsip hidup yang mengatur bagaimana kita bertindak, bagaimana kita bersikap, dan bagaimana kita menjaga martabat di tengah masyarakat.
Orang tua dulu sering berpesan: “Jangan bikin malu keluarga.” Kalimat itu sederhana, tapi mengandung Piil Pesenggiri yang utuh. Menjaga nama baik bukan untuk pamer, melainkan untuk memastikan bahwa setiap perbuatan kita tidak mencoreng kehormatan diri, keluarga, dan marga.

Dalam pandangan orang Lampung, malu bukanlah hal yang sepele. Rasa malu adalah benteng yang menjaga seseorang dari berbuat curang.
Tapi di sinilah letak pentingnya batas. Piil Pesenggiri bukan alasan untuk menjadi sombong. Kalau seseorang merasa harga dirinya terusik lalu ia membalas dengan kekerasan, itu bukan Piil Pesenggiri. Itu hawa nafsu yang dibungkus dengan nama adat. Piil Pesenggiri yang sejati justru menuntut kita untuk rendah hati, teguh pendirian, tapi tidak menyakiti orang lain.

Piil Pesenggiri tidak berdiri sendiri. Ia ditopang oleh empat pilar yang saling menguatkan: Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Sakai Sambayan, dan Bejuluk Beadek. Keempatnya bukan sekadar hafalan, melainkan praktik sehari-hari yang harus dihidupi.
Nemui Nyimah adalah tentang keramahan dan kemurahan hati. Nemui berarti menerima tamu, nyimah berarti suka memberi dengan ikhlas. Orang Lampung yang sejati tidak akan membiarkan tamunya pulang tanpa disuguhi sesuatu. Kopi diseduh, makanan dihidangkan, senyum tidak pernah lepas. Bahkan ketika sedang kekurangan, rasa malu karena tidak menjamu tamu lebih besar daripada rasa lapar. 
Sikap ini sejalan dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya.”

Hadis ini bukan sekadar anjuran, melainkan ukuran iman.
Nengah Nyappur berarti bergaul, membuka diri, tidak menyendiri. Orang Lampung tidak boleh menjadi katak dalam tempurung. Kita harus berbaur dengan siapa saja, tanpa membedakan suku, agama, atau golongan. Tapi berbaur bukan berarti kehilangan jati diri. Nengah Nyappur justru menuntut kita untuk hadir di tengah masyarakat, menjadi penengah ketika ada perselisihan, dan menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Sakai Sambayan adalah gotong royong, tolong-menolong, bahu-membahu. Ketika ada tetangga membangun rumah, kita datang membantu. Ketika ada gawi adat, semua tangan turun. Tidak ada yang menghitung untung rugi.

Dalam Islam, ini sejalan dengan perintah Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 2:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُحِلُّوۡا شَعَآٮِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهۡرَ الۡحَـرَامَ وَلَا الۡهَدۡىَ وَلَا الۡقَلَٓاٮِٕدَ وَلَاۤ آٰمِّيۡنَ الۡبَيۡتَ الۡحَـرَامَ يَبۡـتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّهِمۡ وَرِضۡوَانًا ‌ؕ وَاِذَا حَلَلۡتُمۡ فَاصۡطَادُوۡا‌ ؕ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡكُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا‌ ۘ وَتَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡبِرِّ وَالتَّقۡوٰى‌ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ‌ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِ
Ya ayyuhal-lazina amanu la tuhillu syaa'irallahi wa lasy-syahral-harama wa lal-hadya wa lal-qala'ida wa la amminal-baital-harama yabtaguna fadlam mir rabbihim wa ridwana(n), wa iza halaltum fastadu, wa la yajrimannakum syana'anu qaumin an saddukum anil- asjidil-harami an tatadu, wa taawanu alal-birri wat-taqwa, wa la taawanu alal-ismi wal-udwan(i), wattaqullah(a), innallaha syadidul-iqab
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridhaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya."

Gotong royong bukan tradisi yang bisa ditinggalkan begitu saja. Ia adalah wujud nyata dari iman.
Bejuluk Beadek adalah tentang gelar dan kehormatan. Dalam adat Lampung, seseorang memiliki juluk sebelum menikah dan adok setelah menikah. Gelar ini bukan sekadar nama. Ia membawa tanggung jawab. Semakin tinggi gelar seseorang, semakin besar pula kewajibannya untuk menjadi teladan. Gelar bukan untuk dibangga-banggakan, melainkan untuk dipertanggungjawabkan.

Piil Pesenggiri tidak hanya berhenti pada ajaran lisan. Ia dijaga oleh aturan adat yang disebut Cempala. Cempala adalah ketentuan tentang sopan santun dan etika, tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam pergaulan. Kalau seseorang melanggar, ada sanksi adat. Tapi sanksi ini bukan hukuman yang bertujuan menyakiti. Ia adalah cara untuk memulihkan kehormatan yang rusak, untuk mengembalikan orang yang bersalah ke jalan yang benar.

Dalam masyarakat Pepadun, pelanggaran adat bisa berujung pada pepadun kotor, pepadun miring, bahkan pepadun terbalik. Istilah-istilah ini terdengar keras, tapi maknanya jelas: ada konsekuensi bagi setiap perbuatan. Orang yang berbuat memalukan tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tapi juga keluarganya. Karena itu, orang Lampung dulu sangat menjaga tutur kata dan perilaku. Bukan karena takut dihukum, tapi karena sadar bahwa kehormatan adalah amanah yang harus dijaga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 7: 
اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِكُمۡ‌ۖوَاِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَهَا ‌ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَةِ لِيَسُـوْۤءُو ا وُجُوۡهَكُمۡ وَلِيَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ كَمَا دَخَلُوۡهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِيۡرًا‏
In ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asaatum falahaa; fa izaa jaaa'a wa'dul aakhirati liyasuuu'uu wujuu hakum wa liyadkhulul masjida kamaa dakhaluuhu awwala marratinw wa liyutabbiruu mass'alaw tatbiira
"Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai."

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap perbuatan, baik atau buruk, akan kembali kepada pelakunya. Piil Pesenggiri mengajarkan hal yang sama: jaga kehormatanmu, karena kehormatan itu untuk kebaikanmu sendiri.

Sekarang kita hidup di zaman yang berbeda. Anak-anak muda lebih akrab dengan layar gawai daripada dengan balai adat. Godaan untuk melupakan adat sangat besar. Tapi justru di sinilah Piil Pesenggiri menjadi semakin relevan. Ketika seseorang memilih untuk tidak menyontek saat ujian, meskipun tidak ada guru yang mengawasi, itu Piil Pesenggiri. Ketika seseorang memilih untuk bersikap sopan kepada orang tua, meskipun teman-temannya menertawakan, itu Piil Pesenggiri.

Tapi Piil Pesenggiri juga bisa disalahpahami. Ada yang mengira bahwa menjaga harga diri berarti tidak boleh mengalah. Ada yang mengira bahwa memiliki gelar berarti boleh bersikap angkuh. Itu bukan Piil Pesenggiri. Itu kesombongan yang mencari pembenaran. Piil Pesenggiri yang sejati justru menuntut kita untuk semakin rendah hati ketika semakin dihormati. Seperti kata pepatah, padi semakin berisi semakin merunduk.

Nilai-nilai Piil Pesenggiri sejalan dengan apa yang diajarkan Pancasila. Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab, tercermin dalam Nemui Nyimah. Sila ketiga, persatuan Indonesia, tercermin dalam Nengah Nyappur. Sila keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, tercermin dalam musyawarah para penyimbang. Sila kelima, keadilan sosial, tercermin dalam Sakai Sambayan. Piil Pesenggiri bukan hanya milik orang Lampung. Ia adalah sumbangan Lampung untuk Indonesia.

Punyimbang sekalian, Piil Pesenggiri bukanlah cerita tentang masa lalu yang sudah usang. Ia adalah cermin yang bisa kita gunakan untuk melihat apakah kita masih pantas disebut orang Lampung. Ketika kita menghormati tamu, ketika kita bergotong royong, ketika kita menjaga tutur kata, ketika kita tidak sombong meski memiliki gelar, di situlah Piil Pesenggiri masih hidup.

Tugas kita bukan menghafal lima pilar itu untuk ujian adat. Tugas kita adalah menghidupinya dalam perbuatan sehari-hari. Sebab harga diri yang sejati bukan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling ringan langkahnya untuk membantu sesama. Harga diri yang sejati adalah rendah hati tapi teguh pendirian, ramah tapi tidak kehilangan prinsip, dan selalu ingat bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Tabik pun. (*)

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, M. M. (2025). Sejarah dan Asal-Usul Marga Pubian Bukuk Jadi. Lampung: Natar Agung.
2. Bahagianda, M. M. (2026). Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang: Tata Krama Berbicara yang Mulai Terlupakan. Natar Agung.
3. Dalom Putekha Jaya Makhga. (2025). Filosofi Tata Krama dan Unggah-Ungguh dalam Pergaulan Sehari-Hari Masyarakat Lampung. Natar Agung.
4. Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
5. Jurnal Majelis. (2019). Piil Pesenggiri sebagai Falsafah Hidup Orang Lampung. Edisi 05.
6. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (n.d.). Arsitektur Tradisional Rumah Masyarakat Kampung Wana di Lampung Timur. Jakarta: Repositori Kemendikbud.
7. Qur’an Kemenag. (n.d.). Surat Al-Maidah Ayat 2. quran.kemenag.go.id.
8. Qur’an Kemenag. (n.d.). Surat Al-Isra Ayat 7. quran.kemenag.go.id.
9. Republika. (2024). Hadits Memuliakan Tamu. Iqra.republika.co.id.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

4 + 7 = ?
Berita Terkait