Cekhita Lappung - Nasihat Mehayu: Riya'kah? atawa Mekhatok di Pujikah? Tulisan: Mang Kumir *)

CEKHITA LAPPUNG 09 Aug 2026 18:01 Admin NA
Cekhita Lappung - Nasihat Mehayu: Riya'kah? atawa Mekhatok di Pujikah?  Tulisan: Mang Kumir *)

nataragung.id - Teginenong - Tengah khani sina mesigid Al-Hidayah, tenah-han tenang, sekhadu sembayyang luhokh berjamaah kak selesai, kaban jama'ah sebagian mulang nuju pok kekhaj-ja masing-masing, sementara sebagian bakhih ni, pagun mejong di tepas mesigid suwa ngekhasa ko angin sai berhembus semilir di tengah khani sina.

Di pojok tepas mesigid, Irwan jama Marwan tenah-han lagi bebalah serius.

Nyak ngenah di Facebook, niku nayah mosting ibadah umroh mu," cawa Irwan suwa medduko layar telepon kat-ca ni.

Marwan:
"Yu...., sangun ulah-hapi.....?"

Irwan: "Nyak khawatekh, dang sappai ina ku-khuk riya'. Khabai ni hati jadi ge-khing di puji ulun, dianggap alim atau saleh.

Marwan nyengih cutik. "Awat munih.., nyak cuma nulis, misal ni 'OTW Madinah' atawa 'Alhamdulillah sappai di mesigid Haram.' Masak gohna gawoh salah? Kan Allah sangun ngayinko kham nyekhita ko nikmat Ni?"

Balahan tiyan khua tam-mbah seru...

Tiba-tiba tengisan suara salam.

"Assalamu'alaikum..."

Ternyata Ustadz Munawar lagi teliyu.

Irwan:
"Wa'alaikumussalam... eh Ustadz... pas temon. Dapok kilu wattu ni sekhab-bok?"

"Dapok, ulah hapi kidah...." tim-mbal ustadz suwa ia mejong di samping tiyan khua.

Marwan laju nyekhita ko persoalan tiyan, mem-posting ibadah di media sosial.

Ustadz Munawwar nyengih, tekhus cawa lalun.

Masalah sa, muloh guk niat. Niat ina sai paling faham, hanyalah Allah jama sai ngelakuko niat ina."

Beliau tekhus ngelaju ko,

"Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah nekhangko, ulun sai nyekhita ko amal ibadah ni mak dapok lepas anjak Khua keadaan.

Pertama, niat ni supaya mekhatok dipuji, dianggap alim, atawa nyepok penilaian jelema bakhih. Nah sa, sai bahaya malah dapok ngehapus pahala amal ni."

Tekhus beliau ngebacako Firman Allah:

﴿ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى ﴾

Khat-ti ni: "Mulani dang lah kuti nganggap badan kuti suci. Dialah Allah sai paling mengetahui sapa sai bertakwa." (QS. An-Najm: 32)

"Sedongko keadaan kedua," lanjut beliau," ia nyekhita ko nikmat Allah supaya ulun bakhih nutuk semangat ngelakuko perbuatan sai betik. Nah lamun gegoh iji In Syaa Allah jadi kebetik'an."

Beliau ngebaca ko ayat  luwot:

﴿ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ﴾

Khat-ti ni: "Khik jama Nikmat Tuhanmu, mula hendaklah niku cekhita ko." (QS. Adh-Dhuha: 11)

Beliau munih ngebacakon sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا

Khat-ti ni: "Bakhang sapa nyontoh ko delom Islam suatu kebetik'an mula ia massa pahala khik pahala ulun sai ngamalkon."

Irwan ngangguk-ngangguk, sedongkon Marwan mennong suwa mikekh.

"Jadi, sebettik ni picawa ustadz?" lulih Irwan.

Ustadz Munawwar nakhik hang-ngas.

"Saran ku, sedapok mukkin lamun mak dok maslahat sai jelas, lebih betik dang gappang-gappang ngeposting amal ibadah pribadi. Sebab belis ina halus temon. Kadang kham nge-khasa ikhlas, padahal hati menong-menong ge-khing lamun wat sai muji,"

Beliau ngelanjutko penjelasan ni:

"Riya' ina sangat halus. Kaban kiyai ngejelasko riya' lebih samar anjak sekhom halom sai lapah di lam-mbung batu halom di debingi sai gelap."

Suasana jadi han-ning.

"Bayangko," cawa ustadz, "sayang temon lamun pahala umroh, haji, sedekah, tahajud atawa amal layin ni jadi cadang gakha-gakha hati kham mekhatok nengis ko balahan:

'Masya Allah, saleh temon.'

'Masya Allah, ibadah ni luar biasa.'

"Padahal sai di sepok seharus ni ridha Allah layin pujian kaban jelema."

Marwan nunduk ko hulu ni lalun-lalun.

"Layin munih unyin postingan ina hakham. Tapi hati jelema gappang berbolak-balik. Menjaga keikhlasan jawoh lebih penting anjak ngejaga eksistensi kham di media sosial."

Tekhus Ustadz nyengih.

"Cukuplah Allah sai pan-ndai amal kham. Sebab sai kham seppok layin tepukan pungu kaban jelema, melayinko ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala."

"Jazakallahu khairan, Ustadz. Maaf khadu nyita wattu pusekam." Cawa Irwan

"Iya Ustadz, syukran atas nasihat ni," tim-mbal Marwan.

"Wa iyyakum. Assalamu'alaikum." Jawab ustadz Munawwar suwa ngelak-kah lijung.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah." Tim-mbal tiyan khua.

Jam di dinding mesigid kak nunjuk ko jam setengah sai de-khani. Matakhani tam-mbah terik panas ni. Jama'ah sai-sai mulang guk mahan jama pok kekhaj-jaan tiyan.

Tapi delom hati Irwan jama Marwan ning-ngal sai pelajakhan sai mak gappang di lupako:

Betapa amal sai paling biyak layin sai paling nayah di ten-nah kaban jelema, melayinko amal sai paling asuk di sippon jama paling ikhlas di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. (*/314)
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
📚 Cekhita Lappung

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Tulisan Versi Bahasa Indonesia:

RIYA’KAH?

Siang itu suasana Masjid Al-Hidayah tampak tenang. Setelah shalat Dzuhur berjamaah selesai, sebagian jamaah pulang menuju tempat kerja masing-masing, sementara sebagian lainnya masih duduk santai di teras masjid menikmati semilir angin siang.

Di sudut teras, Irwan dan Marwan terlihat sedang berbincang serius.

“Saya lihat di Facebook, sampeyan banyak memposting kegiatan umrah sampeyan,” kata Irwan sambil memandang layar ponsel temannya.

“Ya… memang kenapa?” tanya Marwan keheranan.

“Begini… saya khawatir itu menimbulkan sifat riya’, yaitu ingin dipuji dan dianggap saleh,” jawab Irwan pelan.

Marwan tersenyum kecil.

“Ya enggaklah. Saya cuma menulis status seperti ‘OTW Madinah’, atau ‘Alhamdulillah sampai juga di Masjidil Haram’. Masa begitu saja enggak boleh? Bukankah ada perintah untuk menceritakan nikmat Allah?” sanggahnya.

Perbincangan mereka semakin hangat. Tiba-tiba terdengar suara salam.

“Assalamu’alaikum…”

Ternyata Ustadz Munawwar baru saja lewat di depan mereka.

“Wa’alaikumussalam… eh ustadz! Kebetulan sekali. Bisa minta waktunya sebentar?” kata Irwan cepat.

“Bisa… memang ada apa?” jawab ustadz sambil duduk di samping mereka.

Marwan segera menjelaskan perdebatan mereka tentang memposting aktivitas ibadah di media sosial.

Ustadz Munawwar tersenyum tipis, lalu berkata dengan tenang, “Masalah ini kembali kepada niat dan motivasi, dan itu hanya Allah serta pelakunya yang benar-benar tahu.”

Beliau lalu melanjutkan,

“Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah menjelaskan bahwa seseorang yang menceritakan amal ibadahnya tidak lepas dari dua keadaan.

Pertama, ia ingin dipuji, dianggap saleh, atau ingin mendapatkan penilaian manusia. Ini berbahaya, bahkan bisa menghapus pahala amalnya.”

Kemudian beliau membaca firman Allah:

﴿ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى ﴾

“Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dialah Allah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)

“Sedangkan keadaan kedua,” lanjut beliau, “ia menceritakan nikmat Allah agar orang lain ikut termotivasi melakukan kebaikan. Maka ini bisa menjadi amal yang baik.”

Beliau lalu membaca ayat:

﴿ وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ ﴾

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau ceritakan.” (QS. Adh-Dhuha: 11)

“Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا

‘Barang siapa mencontohkan dalam Islam suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala dan pahala orang yang mengamalkannya.’”

Irwan mengangguk pelan, sementara Marwan tampak memperhatikan dengan serius.

“Lalu bagaimana baiknya ustadz?” tanya Irwan.

Ustadz Munawwar menarik napas sejenak.

“Saran saya… sebisa mungkin hindari memposting amal ibadah pribadi, terutama bila tidak ada maslahat yang jelas. Karena setan itu sangat halus. Kadang kita merasa ikhlas, padahal diam-diam hati senang ketika dipuji.”

Beliau melanjutkan dengan suara lembut,

“Riya itu lebih samar daripada semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di malam yang gelap. Sangat sulit dideteksi.”

Suasana mendadak hening.

“Bayangkan,” kata ustadz lagi, “betapa sayangnya jika pahala umrah, haji, sedekah, atau tahajud kita berkurang hanya karena ingin mendapat komentar: ‘Masya Allah mas Saleh’, ‘Masya Allah ibadahnya luar biasa’.”

Marwan menunduk perlahan.

“Bukan berarti semua posting haram,” lanjut ustadz, “tetapi hati manusia itu mudah berbolak-balik. Maka menjaga keikhlasan jauh lebih penting daripada menjaga eksistensi di media sosial.”

Kemudian beliau tersenyum.

“Cukuplah Allah yang mengetahui amal kita. Karena yang kita cari bukan tepuk tangan manusia, tetapi ridha Allah.”

“Jazakallahu khairan ustadz… afwan sudah menyita waktunya,” kata Irwan.

“Iya ustadz… syukran atas nasihatnya,” sambung Marwan.

“Assalamu’alaikum,” pamit ustadz Munawwar sambil melangkah pergi.

“Wa’alaikumussalam…”

Jam dinding masjid menunjukkan pukul 12.30 siang. Matahari mulai terasa terik. Sebagian jamaah beranjak menuju rumah dan tempat kerja masing-masing. Sementara di hati Irwan dan Marwan, tersisa satu renungan penting:

Betapa amal yang paling berat bukanlah yang paling banyak dilihat manusia, tetapi amal yang paling tersembunyi namun paling ikhlas di sisi Allah. <>

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

9 + 1 = ?