Cermin Retak: Pil Pahit dari Tambakberas. Oleh : Mukhotib MD. Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta

ARTIKEL 03 Sep 2026 07:12 Admin NA
Cermin Retak: Pil Pahit dari Tambakberas. Oleh : Mukhotib MD.  Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta

nataragung.id - Yogyakarta - Tiga hari berlalu sejak Muktamar NU ke-35 di Tambakberas selesai. Semua peserta resmi, romli (rombongan liar), dan para petualang politik telah kembali. Mungkin, saat ini mulai muncul rasa penyesalan di hati sebagian para peserta resmi, setelah mereka bisa berpikir jernih di kampung masing-masing.

Yuk Nah memang gagal membuka booth dalam pesta demokrasi para warga NU yang dijegal dengan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Namun, sebagai anggota Muslimat militan, dia merasa marah dengan pergeseran cara pemilihan Ketua Umum dengan model ini.

"Pembajakan demokrasi. Dan tentu saja bentuk penaklukan suara dari Cabang-cabang sehingga tak perlu lagi harus dikendalikan dengan repot," kata Yuk Nah. Tangannya terlihat makin cepat mengaduk adonan terigu bakal pembungkus tempe mendoannnya.

Pakde Kliwon kena semprot seperti tamparan air keluar dari pipa milik pemadam kebakaran yang kini sedang naik daun di mata akar rumput karena dinilai lebih responsif ketimbang polisi. Pasalnya dia bilang AHWA itu isinya kan orang-orang yang berkapasitas dalam menyusun rumusan, mengambil keputusan, dan akhirnya menetapkan sebuah perkara dengan pertimbangan kemaslahatan warga NU.

"Pikiranmu koyo zaman masih murni ketika Mbah Hasyim masih menjadi pimpinan NU," kata Yuk Nah.

Dulu, kata Yuk Nah, NU. Itu masih murni benar-benar gerakan untuk kebaikan warga, dan membela perjuangan kemerdekaan negeri ini. Titik. Bahkan zaman Gus Dur menjadi penyeimbang kekuasaan yang sangat diperhitungkan. Sekarang, NU itu sudah dikerubuti para petualang politik, para pengejar kekuasaan, dan untuk kepentingan sendiri.

Agen-agen kekuasaan berkeliaran membawa agenda penguasa. Dalan situasi yang kacau balau, dan rakyat mulai kecewa dengan pemerintahan saat ini, penguasa membutuhkan tameng menghadapi kritik dari rakyat. NU satu di antara sekian organisasi yang diandalkan untuk bisa meredam kemarahan rakyat itu.

"Setelah Prabowo menjadi anggota NU, memangnya hanya sekadar seremonial saja tidak berdampak secara politis?" ungkap Yuk Nah dengan mata lurus menatap tajam Pakde Kliwon.

Saya tahu persis Pakde Kliwon sungguh tak lagi bisa keluar dari blunder di petang hari itu. Ia akan menjadi serba salah, seperti para Muktamirin yang masih memiliki akal sehat, tetap enggak berdaya menghadapi situasi dalam suasana gegap gempita Muktamar itu.

"Muktamar ke-35 itu memang wilayah yang melahirkan puluhan tafsir, dan ragam perspektif. Tak ada tafsir tunggal atas peristiwa kaum sarungan itu," ujarku mencoba menengahi perdebatan keras Yuk Nah dan Pakde Kliwon.

Bagi kelompok perpanjangan penguasa, dan para makelar tentu saja Muktamar itu telah melahirkan hasil yang luar biasa dahsyatnya. Kemenangan telak dan mutlak. Kegembiraan itu tidak saja akan dinikmati sesaat, tetapi sampai tahun 2029.

Sementara bagi orang-orang seperti Yuk Nah, yang memiliki kesadaran kritis, tentu saja akan merasa kecewa, dan mungkin akan menjadi ganjalan sepanjang perjalanan NU masa depan.

Berbeda lagi bagi kalangan akademisi, gelaran Muktamar ke-35 itu menjadi medan penelitian yang tak akan habisnya untuk digali, dikaji dengan ratusan rumusan masalah yang bisa dikembangkan, dan tentu saja ragam teori yang bisa digunakan.

"Maksud saya begitu," kata Pakde Kliwon sumringah seperti anggota Pramuka yang berhasil menemukan jalan dan memecahkan sandi yang disiapkan Kakak Pembinanya. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

8 + 3 = ?
Berita Terkait