Mengkaji Tantangan Globalisasi, Modernisasi, dan Perubahan Sosial Bahasa Lampung di Tengah Dominasi Bahasa Global Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 12 Aug 2026 00:33 Admin NA
Mengkaji Tantangan Globalisasi, Modernisasi, dan Perubahan Sosial Bahasa Lampung di Tengah Dominasi Bahasa Global Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para penyimbang, saudara-saudara, dan anak cucu Lampung yang saya muliakan.
Semoga kita semua dalam lindungan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pada malam yang hening ini, izinkanlah saya, seorang tua yang telah banyak merasakan asam garam kehidupan, untuk membawa kita semua menyelami sebuah cerita. Bukan cerita biasa, tetapi cerita tentang kita, tentang tanah kelahiran yang mulai lupa akan bisik leluhurnya.

Di sebuah kampung tua di kaki Gunung Pesagi, hiduplah seorang gadis bernama Indah Bungsu. Ia adalah keturunan dari Paksi Pak Sekala Brak, salah satu dari empat paksi yang menyimpan sejarah awal mula masyarakat Lampung. 
Dalam kesehariannya, Indah Bungsu lebih fasih berbahasa Indonesia dan sesekali menyelipkan kata-kata asing dari gawai yang selalu ia genggam. Ia bangga bisa berkomunikasi dengan dunia luar, namun ia mulai kesulitan memahami wejangan neneknya yang berbahasa Lampung dialek Api yang kental.

Suatu senja, neneknya, seorang Punyimbang dari Keratuan Darah Putih, memanggilnya. “Indah, nyak (kakek/nenek) rindu mendengar alunan bahasa induk. Di mana hujung (lidah) Lampungmu yang dulu pandai melantunkan hiwang (nyanyian tradisional)?” tanya si Nenek dengan mata berkaca-kaca. 
Indah Bungsu terdiam. Ia merasa asing dengan logat neneknya, lebih akrab dengan gawai dan bahasa global yang ia gunakan setiap hari. Saat itulah, neneknya memulai sebuah kisah yang akan mengubah pandangan Indah Bungsu tentang dirinya sendiri.
“Anakku,” ujar Nenek, “kita adalah Sai Bumi Ruwa Jurai. Ada Pepadun dan Saibatin, dan di mana pun kita berada, Piil Pesenggiri adalah napas kita. Tapi tahukah engkau, dari mana semua ini bermula?”
Dengan suara parau yang sarat makna, si Nenek mulai bertutur tentang sejarah panjang marga-marga Lampung. Konon, nenek moyang kita berasal dari daratan Sekala Brak yang dipimpin oleh para raja. Mereka kemudian menyebar mengikuti aliran sungai-sungai besar seperti Way Tulang Bawang, Way Sekampung, hingga ke pesisir. Dari situlah terbentuk marga-marga, seperti Marga Legun di Lampung Selatan yang dihuni oleh keturunan Saibatin, atau Marga Abung yang terkenal dengan Siwo Mego-nya.
“Cerita ini bukan dongeng pengantar tidur, Indah,” kata Nenek sambil mengusap kepala cucunya. “Setiap marga memiliki kebuayan, satu ikatan darah yang suci. Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, nenek moyang kita telah menuliskan aturan dan falsafah hidup yang begitu dalam. 
Sebutir mutiara dari kitab itu berbunyi: “Idup ulun Lampung dilom Piil Pesenggiri, dilom balak piil agemik malu nangguk ghik.” (Hidup orang Lampung di dalam Piil Pesenggiri, berjiwa besar, memiliki malu, dan menghargai diri).
Nenek menatap Indah dalam-dalam. "Kata Piil Pesenggiri bukan sekadar semboyan. Ini adalah harga diri kita. Ini yang membedakan ulun Lampung dengan yang lain. Jika kita kehilangan bahasa, bukankah kita kehilangan kunci untuk memahami warisan luhur ini? 
Bahasa bukan sekadar alat, Indah. Bahasa adalah wadah dari falsafah Juluk-Adok, dari rasa Nemui Nyimah, dan jiwa Sakai Sambayan. Bagaimana engkau bisa mengerti mendalam arti Nengah Nyappur jika engkau tak lagi mengenal kata-kata halus dalam bahasa kita?”

Analisis mendalam dari petuah Nenek ini mengungkapkan bahwa bahasa Lampung adalah "rumah" bagi filosofi adat. Setiap dialek, baik dialek O dari masyarakat Pepadun maupun dialek A dari Saibatin, menyimpan cara pandang yang unik. 
Kehilangan bahasa berarti menggusur fondasi dari mana Piil Pesenggiri itu sendiri tumbuh. Harga diri, keramahan, dan gotong royong yang kita agungkan, semuanya terpatri dalam kosakata dan petuah-petuah lama yang kini mulai tak terdengar.
Saat matahari mulai terbenam, si Nenek melanjutkan, “Anakku, jangan kau sangka adat ini bertentangan dengan Islam yang kita peluk. Justru, adat dan agama kita bagaikan dua sisi mata uang. Dalam Al-Qur'an, Allah Ta'ala berfirman: 
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiir
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."  (Q.S. Al-Hujurat [49]: 13).

Turunnya ayat ini sebagai pengingat bahwa perbedaan suku dan bahasa adalah rahmat, termasuk bahasa dan marga yang kita miliki.
Kemuliaan dalam Islam bukan pada banyaknya harta atau seberapa global bahasa yang kita kuasai, melainkan pada ketakwaan. Dan salah satu bentuk ketakwaan adalah menjaga amanah, termasuk amanah berupa warisan budaya. 
Sifat Pesenggiri kita, yang membuat kita pantang menyerah dan menjaga kehormatan, sejalan dengan perintah Nabi Muhammad SAW: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Bukhari). Akhlak mulia inilah yang tercermin dalam Nemui Nyimah dan Nengah Nyappur.
Bukan itu saja, saudara-saudara. Nilai-nilai adat Lampung juga selaras dengan Pancasila. Sikap Sakai Sambayan (gotong-royong) adalah cerminan dari sila ke-3, Persatuan Indonesia. Sedangkan kebersamaan dalam musyawarah adat yang melibatkan para Punyimbang adalah praktik nyata dari sila ke-4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dengan berpegang teguh pada Piil Pesenggiri, kita tidak hanya menjadi orang Lampung sejati, tetapi juga menjadi warga negara Indonesia yang baik.

Malam semakin larut. Nenek memegang erat tangan Indah Bungsu. “Anakku, arus globalisasi itu deras. Bahasa asing dan budaya baru datang silih berganti. Namun, ingatlah pepatah lama kita, ‘Kenui mak kenui, pesaghi mak pesaghi’ (Meskipun sama, tetapi tidak sama). Kita boleh menerima yang baru, tetapi jangan sampai kehilangan yang lama. Jangan sampai karena pandai berbahasa asing, engkau menjadi bodoh akan bahasamu sendiri.”
Mulai hari itu, Indah Bungsu bertekad mempelajari kembali bahasa Lampung dari neneknya. Ia mulai bangga menyebut dirinya sebagai ulun Lampung yang memiliki Piil Pesenggiri. Ia menyadari bahwa bahasa daerahnya bukanlah penghalang untuk maju, melainkan jati diri yang akan membuatnya dihormati di mana pun ia berada. Sebab, memahami bahasa adalah memahami sejarah, dan memahami sejarah adalah memahami siapa diri kita sebenarnya.

Sebagai penutup, perkenankan saya menyampaikan petuah pendek: Jangan biarkan api dapur padam, dan jangan biarkan hiwang bahasa Lampung menghilang dari gema rumah-rumah kita. Mari kita sampaikan kepada anak cucu, bahwa menjadi orang Lampung berarti menjaga kata-kata, merawat adat, dan mengamalkan falsafah yang telah diwariskan turun-temurun. Karena dengan begitu, kita tidak hanya menyelamatkan identitas, tetapi juga memperkuat pondasi kebangsaan kita dari kampung halaman.
Tabik pun, semoga Allah meridhoi langkah kita semua.

Daftar Pustaka
1. Kebudayaan Lampung. (n.d.). Wikipedia. 
2. Strategi Pelestarian Eksistensi Bahasa Lampung dalam Konteks Keberagaman Bahasa Daerah di Indonesia. Jurnal Punyimbang, 4(1), 1-8. 
3. Falsafah Piil Pesenggiri. (n.d.). Repository UIN Raden Intan Lampung. 
4. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Hadikusuma, H. (1990). 
5. Muzakki, A. (2018). Introducing Local Genius-Based Harmony Education (Piil Pesenggiri) among the Indigenous People of Lampung. Penamas, 30(3). 
6. Sarbini, A., & Khalik, A. T. (n.d.). Piil Pesenggiri. 
7. Nurdin, B. V. (2017). Marga Legun Way Urang (Sebuah Catatan Etnografi). Bandar Lampung: AURA Publishing.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 5 = ?
Berita Terkait