Seri Buku: Sakai Sambayan, Gotong Royong yang Tak Boleh Hilang. Seri 1: Dari Mana Nama Sakai Sambayan? Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun. Silakan duduk, minum teh hangat dulu, biar saya yang tua ini bercerita perlahan tentang sepenggal kisah lama bangsa Lampung.
Dahulu kala, para leluhur kami tinggal di kaki Sekala Brak, di bawah Gunung Pesagi yang puncaknya sering diselimuti kabut seperti selendang putih. Konon, dari sanalah orang Lampung pertama kali melangkah keluar, lalu terbelah menjadi dua aliran keturunan, satu bernama Saibatin, yang tinggal di pesisir dan hidup bersama debur ombak; satu lagi bernama Pepadun, yang menuju pedalaman, membuka ladang di antara sungai-sungai, dan mendirikan tiyuh, yakni kampung mereka sendiri.
Adat kedua pihak memang berbeda. Namun ada satu hal yang sama: tidak ada seorang pun yang bisa hidup sendirian.
Orang Saibatin biasa mengucapkan Khepot Delom Mufakat, artinya bermusyawarah di bawah satu atap, lalu setelah sepakat, bergotong royong mengerjakannya. Orang Pepadun memadatkan semangat itu dalam dua kata, Sakai Sambayan.
Kata inilah yang hendak saya ajak kamu renungkan malam ini.
Sakai, menurut cerita lisan, adalah tali tak terlihat yang menghubungkan manusia dengan manusia. Saat menanam padi, kamu membutuhkan aku. Saat mendirikan rumah, aku membutuhkan tenagamu. Si miskin memerlukan pinjaman kerbau dari si kaya, dan si kaya memerlukan bantuan tenaga si miskin. Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah, sebab pada akhirnya kita semua saling membutuhkan.
Sambayan, artinya saling menopang, saling menguatkan. Sesuatu yang tak sanggup ditahan satu tangan akan berdiri tegak bila dua tangan menyangganya. Kamu jatuh, aku menarikmu. Aku lelah, kamu menggantikanku sebentar. Bukan belas kasihan, melainkan saling menopang, seperti bangku berkaki tiga, hilang satu kaki maka rubuhlah ia.
Para tetua dahulu punya ungkapan yang bila diucapkan dalam bahasa Lampung terasa sangat indah: "Telanjak kicik pekhda angkon, telanjak guai pekhda haga." Artinya, satu langkah kecil bersama, itulah yang membuat langkah besar terwujud; dipikul sendiri terasa berat, dipikul bersama terasa ringan.
Tentang hal itu, ada satu kisah kecil yang diwariskan turun-temurun.
Alkisah, hiduplah seorang lelaki bernama Suttan di sebuah tiyuh di pesisir. Ia ingin mendirikan sebuah lamban, yakni rumah kayu adat. Ia tidak memanggil siapa pun dan tidak menyebar undangan. Begitu fajar menyingsing, ia mulai menebang kayu seorang diri.
Namun baru saja matahari naik ke atas kepala, tetangga pertama datang. Tanpa bicara sepatah kata, ia mengambil kapak dan ikut menebang. Lalu tetangga kedua, ketiga. Menjelang tengah hari, hampir seluruh lelaki di tiyuh itu sudah hadir. Para perempuan menyalakan tungku dan memasak di dapur, orang-orang tua duduk di bawah pohon meraut pasak bambu, bahkan anak-anak ikut mengangkut potongan kayu kecil.
Menjelang senja, rangka rumah itu sudah berdiri. Suttan berdiri di bawah rangka itu, matanya basah. Ia bertanya, "Aku tidak memanggil kalian. Mengapa kalian semua datang?"
Seorang tetua tersenyum dan berkata, "Kamu tidak perlu memanggil. Begitu kamu mulai bergerak, kami pun tahu."
Itulah Sakai Sambayan.
Ia bukan aturan yang tertulis di atas kertas. Ia sesuatu yang diketahui oleh tubuh, ketika kamu melihat tetangga mengangkat beban berat, kakimu sendiri melangkah mendekat; ketika kamu mendengar ada keluarga yang sakit, tanganmu sendiri memasak sepanci bubur lebih banyak.
Menurut adat lama orang Lampung, semangat ini adalah salah satu pilar dari Piil Pesenggiri. Piil Pesenggiri adalah jiwa seluruh bangsa Lampung, maknanya "lebih baik mati daripada kehilangan harga diri sebagai manusia." Namun harga diri itu tidak dibangun dengan bertahan seorang diri. Ia punya empat tiang: Nemui Nyimah, kehangatan menerima tamu; Nengah Nyappur, kesediaan berteman dengan siapa saja; Juluk Adok, kelayakan menyandang nama dan gelar; dan satu lagi, yaitu Sakai Sambayan.
Menariknya, Sakai Sambayan bukan sekadar "membantu". Dalam ingatan sebagian tetua Saibatin, Sakai dapat dimaknai "siap dinilai", dan Sambayan berarti "siap menilai sesama". Bukan dalam arti saling mencela, melainkan dalam arti: dalam hidup berkampung, tak ada seorang pun yang bersembunyi di sudut. Apa yang kamu kerjakan terlihat oleh semua. Apa yang tidak kamu kerjakan pun terlihat. "Terlihat" bukanlah tekanan, melainkan pengingat lembut, kamu adalah bagian dari sini, setiap gerakmu berhubungan dengan orang lain.
Kemudian Islam masuk ke tanah Lampung. Para leluhur menyadari bahwa Sakai Sambayan sejalan dengan ajaran iman. Menurut syarak, kaum mukmin itu laksana satu bangunan, saling menguatkan. Nabi pun bersabda, siapa yang melepaskan satu kesulitan saudaranya, Allah akan melepaskan satu kesulitannya.
Karena itu, para tetua bila membicarakan Sakai Sambayan sering menambahkan satu kalimat: "Menurut syarak, ini juga termasuk berbuat kebaikan." Membantu mendirikan rumah adalah kebaikan; datang ke Nayuh membawa sekantong gula atau sebotol minyak pun kebaikan. Kamu tidak perlu menunggu kaya baru memberi. Setiap tenaga yang kamu berikan adalah tabungan berkah yang tak terlihat, untuk dirimu, untuk keluargamu.
Hari ini Lampung telah berubah. Banyak orang pergi ke kota, tinggal di rumah berdinding pagar, tak lagi perlu berseru agar orang datang menolong memasang atap. Sebagian menganggap Sakai Sambayan terlalu lambat, tak sebanding dengan menyewa tukang.
Namun percayalah, Sakai Sambayan tidak pernah hilang. Ia hanya berganti pakaian.
Dahulu membantu mengangkat kayu, kini membantu mengangkat niat baik. Dahulu sekampung bergotong royong memperbaiki jalan, kini beberapa keluarga bersama-sama patungan membeli kipas angin untuk masjid. Dahulu saat Nayuh setiap keluarga membawa satu hidangan, kini ada yang berseru di grup pesan, "Besok ada yang perlu dibantu?" lalu tiga orang menjawab, "Saya datang."
Bentuknya berubah. Maknanya tetap.
Selama masih ada satu orang yang bersedia mengulurkan tangan saat orang lain membutuhkan, Sakai Sambayan tetap hidup. Selama masih ada satu orang yang merasa "bahagia sendirian bukanlah bahagia", ia tetap hidup.
Ketika para leluhur melangkah keluar dari kaki Sekala Brak, mereka tidak membawa apa-apa. Tak ada uang, tak ada rumah, tak ada jalan. Yang mereka punya hanyalah satu sama lain. Berkat "kamu menolongku, aku menolongmu", mereka membuka umbul, mendirikan tiyuh, dan berjalan dari generasi ke generasi hingga hari ini.
Maka dari itu, pesan saya kepada kamu yang muda: jangan menganggap "menolong orang" itu merugi. Bahu yang kamu pakai untuk memikul beban orang lain, suatu hari akan ada yang memikul bebanmu. Keringat yang kamu lap untuk orang lain, suatu hari akan ada yang mengelap keringatmu.
Itulah Sakai Sambayan.
Itulah sebabnya ia tidak boleh hilang.
Tabik puun.
Daftar Pustaka
1. Bahagianda, M. M. (2026). Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Seri 3: Sakai Sambayan, Gotong Royong sebagai Wujud Amal Saleh. Nataragung.id.
2. Bahagianda, M. M. (2026). Buku Seri Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 4, Sakai Sambayan: Hidup Saling Membantu. Nataragung.id.
3. Bahagianda, M. M. (2022). Serial Buku Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung. Kata Pengantar dari 6 Seri Tulisan. JDIH Pemerintah Provinsi Lampung.
4. Bahagianda, M. M. (2025). Buku Sumpah Uppu Tuyuk Pubian Bukuk Jadi dan Buay Beliuk. Nataragung.id.
5. Bahagianda, M. M. (2026). Ramadhan dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung: Ramadhan dan Pendidikan Moral Generasi Muda. Nataragung.id.
6. Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju.
7. Junus, U. (1964). Some Remarks on Minangkabau Social Structure. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 120.
8. Kuntara Raja Niti: Pedoman Hidup Masyarakat Adat Lampung. (2005). Lembaga Adat Provinsi Lampung.
9. Naskah Kertas Gangsa Marga Anak Tuha. Koleksi Adat Pekon Purwosari, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur.
10. Naskah Kuno Kuntara Raja Niti (Transliterasi). Koleksi Museum Lampung.
11. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. (1982). Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Lampung. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.
12. Suryadi, dkk. (2008). Dinamika Adat Lampung: Saibatin dan Pepadun. LP2L Press.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar