Mimbar Jum'at; Di Mana Syukur atas Nikmat-Nikmat Itu? Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MIMBAR JUMAT 28 Aug 2026 00:19 Admin NA
Mimbar Jum'at; Di Mana Syukur atas Nikmat-Nikmat Itu? Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Ada satu hal yang sering luput dari kesadaran kita: manusia biasanya baru menyadari betapa besar sebuah nikmat setelah nikmat itu terganggu atau bahkan hilang.

Selama tubuh sehat, kita merasa semuanya biasa saja. Kita makan tanpa rasa sakit, tidur tanpa gangguan, berjalan tanpa kesulitan, berbicara tanpa hambatan, bekerja tanpa keluhan. Semua berlangsung begitu saja, setiap hari, hingga kita lupa bahwa kemampuan untuk melakukan hal-hal sederhana itu sesungguhnya adalah nikmat yang luar biasa.

Padahal, cukup satu bagian kecil dari tubuh mengalami gangguan, seluruh kehidupan bisa berubah. Rasa sakit yang mungkin berasal dari sesuatu yang sangat kecil dapat membuat seseorang kehilangan selera makan, tidak mampu tidur, sulit berkonsentrasi, bahkan tidak dapat menikmati pekerjaan dan aktivitas yang sebelumnya terasa biasa.

Di saat itulah manusia benar-benar menyadari betapa lemahnya dirinya.

Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ﴾

“Dan apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS. Fussilat: 51)

Ketika musibah datang, manusia menjadi sangat dekat dengan doa. Ketika sakit, lisannya mudah menyebut nama Allah. Ketika kesulitan menghimpit, ia berdoa dalam setiap keadaan. Berdiri, duduk, bahkan ketika berbaring, hatinya terus berharap kepada Rabb-nya.

Allah berfirman:

﴿وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا﴾

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri.” (QS. Yunus: 12)

Namun persoalannya bukan hanya bagaimana kita berdoa ketika musibah datang.

Persoalan yang jauh lebih penting adalah: bagaimana kita bersikap setelah musibah itu diangkat?

Sebab banyak manusia yang sangat mengenal Allah ketika berada dalam kesempitan, tetapi perlahan melupakan-Nya ketika kembali berada dalam kelapangan. Ketika sakit, ia berdoa dengan sungguh-sungguh. Ketika sehat kembali, ia segera kembali kepada kesibukannya. Ketika nikmat terganggu, ia menangis dan memohon. Tetapi ketika nikmat itu kembali, ia menerimanya seolah-olah semuanya memang sudah semestinya.

Padahal, Allah menggambarkan keadaan seperti ini dalam firman-Nya:

﴿فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُ﴾

“Maka setelah Kami hilangkan bahaya yang menimpanya, dia berlalu seakan-akan dia tidak pernah berdoa kepada Kami karena bahaya yang telah menimpanya.” (QS. Yunus: 12)

Inilah kelalaian yang sangat halus.

Bukan sekadar lupa bahwa kita pernah sakit, tetapi lupa kepada Allah yang telah menyembuhkan. Bukan sekadar lupa bahwa kita pernah berada dalam kesulitan, tetapi lupa kepada Dzat yang telah membuka jalan keluar. Bukan sekadar lupa akan musibah, melainkan lupa kepada Al-Mun‘im, Dzat Yang Maha Memberikan nikmat.

Kita sering kali menjadi orang yang sangat banyak berdoa ketika membutuhkan, tetapi menjadi sedikit bersyukur ketika telah mendapatkan apa yang diminta.

Kita tahu bagaimana cara mengangkat tangan ketika nikmat hilang, tetapi belum tentu tahu bagaimana cara menundukkan hati ketika nikmat kembali.

Padahal, sebagaimana sakit adalah ujian kesabaran, sehat adalah ujian kesyukuran.

Sebagaimana kesulitan menguji seberapa kuat kita bergantung kepada Allah, kelapangan menguji apakah kita tetap mengingat-Nya atau justru mulai merasa cukup dengan diri sendiri.

Karena itu, afiat bukan sekadar keadaan ketika rasa sakit telah hilang. Afiat adalah nikmat besar yang membutuhkan syukur. Bahkan, mungkin ujian ketika sehat lebih berat daripada ujian ketika sakit. Sebab rasa sakit sering membuat hati berkumpul dan kembali kepada Allah, sedangkan kesehatan kadang membuat manusia tenggelam dalam kesibukan hingga lalai mengingat-Nya.

Maka ketika rasa sakit mereda, jangan hanya merasa lega. Bersyukurlah.

Ketika engkau dapat tidur nyenyak setelah sebelumnya sulit memejamkan mata, bersyukurlah.

Ketika engkau dapat makan tanpa rasa sakit, bersyukurlah.

Ketika kakimu dapat berjalan tanpa nyeri, bersyukurlah.

Ketika tanganmu masih mampu bekerja, bersyukurlah.

Ketika lisanmu masih dapat berbicara, bersyukurlah.

Ketika tubuhmu masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari, bersyukurlah.

Bahkan ketika engkau sembuh melalui sebuah pengobatan, jangan lupa bersyukur kepada Allah atas obat yang menjadi sebab kesembuhanmu. Sebab Allah-lah yang menciptakan segala sebab, memberi manusia akal untuk menemukan pengobatan, memudahkan obat itu sampai kepada kita, dan dengan kehendak-Nya pula menjadikan obat tersebut bermanfaat.

Sesungguhnya, berapa banyak nikmat yang sedang kita miliki saat ini, tetapi tidak pernah kita hitung?

Betapa banyak nikmat dalam mata yang dapat melihat tanpa rasa sakit.

Betapa banyak nikmat dalam telinga yang masih mampu mendengar.

Betapa banyak nikmat dalam jantung yang terus berdetak tanpa harus kita perintahkan.

Betapa banyak nikmat dalam urat, saraf, tulang, dan seluruh anggota tubuh yang bekerja tanpa kita sadari.

Betapa banyak nikmat dalam satu malam tidur yang tenang.

Betapa banyak nikmat dalam satu suap makanan yang dapat kita nikmati.

Betapa banyak nikmat dalam satu langkah kaki yang dapat kita lakukan tanpa rasa sakit.

Semua itu begitu biasa karena Allah terus memberikannya kepada kita setiap hari.

Dan barangkali, karena nikmat itu terlalu sering hadir, kita justru lupa untuk bersyukur.

Padahal hati yang hidup tidak menunggu kehilangan untuk memahami nilai sebuah nikmat. Ia mampu melihat nikmat ketika nikmat itu masih ada. Ia tidak perlu jatuh sakit terlebih dahulu untuk bersyukur atas kesehatan. Ia tidak perlu kehilangan kemampuan berjalan untuk mengucapkan Alhamdulillāh atas kedua kakinya. Ia tidak perlu menunggu malam penuh derita untuk menyadari betapa mahalnya tidur yang nyenyak.

Hati yang hidup melihat nikmat, lalu mengenal Al-Mun‘im.

Ia melihat kesehatan, lalu memuji Al-Mu‘aafii.

Ia melihat kesulitan yang telah berlalu, lalu semakin dekat kepada Allah yang telah menyingkapkannya.

Maka marilah sesekali kita berhenti di tengah kesibukan hidup ini dan bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kita hanya pandai berdoa ketika kehilangan, tetapi lupa bersyukur ketika mendapatkan?

Jangan sampai kita begitu dekat kepada Allah ketika sedang sakit, tetapi begitu jauh ketika telah sehat.

Jangan sampai lisan kita basah dengan doa ketika musibah datang, tetapi kering dari pujian ketika musibah itu pergi.

Sebab seorang mukmin yang sadar akan nikmat tidak hanya berkata “Ya Allah, tolonglah aku” ketika berada dalam kesulitan. Ia juga berkata “Alhamdulillāh” ketika Allah telah mengangkat kesulitannya.

Dan mungkin, salah satu bentuk syukur yang paling indah adalah tetap dekat kepada Allah setelah kita tidak lagi berada dalam keadaan yang memaksa kita untuk mendekat kepada-Nya.

الحمد لله أولاً وآخراً، ظاهراً وباطناً

Segala puji bagi Allah, di awal dan di akhir, dalam keadaan lahir maupun batin. <>
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mimbar Jum'at

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 2 = ?
Berita Terkait