Mimbar Jum'at: Ketika Maslahat Ada, Saudara; Ketika Maslahat Usai, Berubah Cerita. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MIMBAR JUMAT 21 Aug 2026 02:25 Admin NA
Mimbar Jum'at: Ketika Maslahat Ada, Saudara; Ketika Maslahat Usai, Berubah Cerita. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Ada manusia yang datang kepada kita dengan membawa bahasa persaudaraan ketika ia sedang membutuhkan sesuatu. Ketika maslahat masih ada, kita adalah saudaranya. Tetapi ketika kepentingannya telah selesai, hubungan itu pun perlahan berubah.

Kisah saudara-saudara Nabi Yusuf 'alaihissalam memberi kita sebuah renungan yang sangat dalam tentang tabiat manusia.

Ketika mereka membutuhkan Bunyamin untuk dibawa bersama mereka agar mendapatkan jatah makanan, mereka berkata kepada ayahnya:

فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَىٰ أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Maka ketika mereka kembali kepada ayah mereka, mereka berkata, ‘Wahai ayah kami! Kami tidak akan mendapat jatah bahan makanan lagi, maka biarkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami mendapat jatah, dan sesungguhnya kami benar-benar akan menjaganya.’” (QS. Yusuf: 63)

Perhatikan kalimat mereka:

أَخَانَا — saudara kami.

Ketika ada kebutuhan, Bunyamin adalah saudara.

Ada kepentingan yang harus diselesaikan. Ada maslahat yang hendak diperoleh. Maka bahasa persaudaraan pun digunakan.

Tetapi setelah Bunyamin tertahan di Mesir, mereka kembali kepada ayahnya membawa kabar bahwa mereka telah kehilangan saudara mereka.

Mereka berkata:

قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ وَمَا شَهِدْنَا إِلَّا بِمَا عَلِمْنَا وَمَا كُنَّا لِلْغَيْبِ حَافِظِينَ ۝ وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ ۝

“Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan kami bukanlah orang-orang yang mengetahui perkara gaib. Dan tanyalah negeri yang kami berada di dalamnya dan kafilah yang kami datang bersamanya. Sesungguhnya kami benar-benar orang-orang yang jujur.’” (QS. Yusuf: 81–82)

Namun ayat 81 memberikan ungkapan yang sangat menarik:

قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّ ابْنَكَ سَرَقَ

“Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu telah mencuri.’” (QS. Yusuf: 81)

Perhatikan perubahan bahasanya.

Ketika mereka membutuhkan Bunyamin:

أَخَانَا — saudara kami.

Tetapi ketika Bunyamin tidak lagi memberikan maslahat kepada mereka:

ابْنَكَ — anakmu.

Seolah-olah, ketika kepentingan ada, dia adalah saudara kami.

Tetapi ketika kepentingan telah selesai, dia berubah menjadi anakmu.

Di sinilah Al-Qur’an mengajak kita merenung tentang sebuah penyakit hati yang kadang tidak kita sadari: menjalin hubungan karena kepentingan, bukan karena ketulusan.

Ada orang yang sangat dekat ketika membutuhkan kita.

Teleponnya sering. Pesannya panjang. Senyumnya lebar. Kata-katanya penuh persaudaraan.

Tetapi setelah kebutuhannya selesai, semuanya berubah.

Telepon berhenti.

Pesan menghilang.

Senyum menjadi dingin.

Dan kita baru sadar: ternyata yang ia butuhkan bukan kita, tetapi apa yang ada pada kita.

Maka jangan tertipu oleh kedekatan yang hanya muncul ketika seseorang memiliki kepentingan.

Orang yang membutuhkan kita akan datang ketika ia perlu.
Orang yang tulus akan tetap tinggal meskipun ia tidak lagi membutuhkan apa-apa dari kita.

Karena itu, jangan pula kita menjadi manusia yang menjadikan persaudaraan sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Jangan menyebut seseorang saudara hanya ketika ia bisa membantu kita, lalu menjauhinya ketika maslahat telah selesai.

Sebab manusia yang tulus tidak bertanya:

“Apa yang bisa aku dapat darimu?”

Tetapi ia bertanya:

“Apa yang bisa aku berikan kepadamu karena Allah?”

Dan di situlah letak perbedaan antara hubungan yang dibangun di atas kepentingan dengan persaudaraan yang dibangun di atas keimanan.

Maslahat akan selesai.

Harta akan habis.

Kedudukan akan berlalu.

Kebutuhan akan berganti.

Tetapi kebaikan yang dilakukan karena Allah tidak pernah sia-sia.

Maka jika suatu hari ada orang yang meninggalkanmu setelah kepentingannya selesai, jangan terlalu bersedih.

Barangkali Allah sedang memperlihatkan kepadamu sesuatu yang sebelumnya tidak engkau ketahui:

siapa yang mencintaimu, dan siapa yang hanya membutuhkanmu.

Tetaplah berbuat baik.

Tetaplah menjadi saudara yang tulus.

Sebab ukuran kemuliaan kita bukanlah seberapa banyak orang yang membutuhkan kita, tetapi seberapa ikhlas kita tetap berbuat baik ketika tidak ada lagi keuntungan yang bisa kita dapatkan.

Karena pada akhirnya, manusia mungkin lupa kepada kebaikan kita.

Tetapi Allah tidak pernah lupa.

Apa yang dilakukan karena Allah tidak akan pernah hilang, meskipun manusia yang menerimanya telah pergi. <>
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mimbar Jum'at

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

4 + 7 = ?
Berita Terkait