Mimbar Jum'at: Ketika Pembawa Kebenaran Mulai di Jatuhkan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MIMBAR JUMAT 11 Sep 2026 00:47 Admin NA 38 kali dibaca
Mimbar Jum'at: Ketika Pembawa Kebenaran Mulai di Jatuhkan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Menjatuhkan orang-orang yang menyerukan kebaikan bukanlah fenomena zaman ini.

Jauh sebelum kita mengenal media sosial, sebelum ada potongan video, komentar, framing, dan opini yang digiring, para pembawa kebenaran telah menghadapi pola yang sama.

Nabi Nuh alaihis salam pernah mengalaminya.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

فَقَالَ ٱلْمَلَؤُا۟ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن قَوْمِهِۦ مَا هَـٰذَآ إِلَّا بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَـٰٓئِكَةًۭ مَّا سَمِعْنَا بِهَـٰذَا فِىٓ ءَابَآئِنَا ٱلْأَوَّلِينَ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌۭ بِهِۦ جِنَّةٌۭ فَتَرَبَّصُوا۟ بِهِۦ حَتَّىٰ حِينٍۭ

“Maka para pemuka orang-orang kafir dari kaumnya berkata, ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu. Dia ingin memperoleh kelebihan di atas kamu. Dan seandainya Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa malaikat. Kami belum pernah mendengar hal ini dari nenek moyang kami yang terdahulu. Dia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang terkena gangguan jiwa. Maka tunggulah terhadapnya sampai suatu waktu.’” (QS. Al-Mu’minun: 24–25)

Perhatikan bagaimana mereka berusaha mematikan dakwah Nabi Nuh.

Pertama: merendahkan sesuatu yang sebenarnya bukan kekurangan.

مَا هَـٰذَآ إِلَّا بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْ

“Dia hanyalah manusia seperti kalian.”

Mereka mengambil sesuatu yang biasa—kemanusiaan—lalu menjadikannya senjata untuk merendahkan.

Hari ini pun demikian.

Jika tidak menemukan kesalahan pada gagasan seseorang, carilah kekurangan pada dirinya.
Jika tidak mampu membantah ilmunya, persoalkan latar belakangnya.
Jika tidak mampu menjawab dalilnya, ungkit masa lalunya.

Ketika hujah tidak mampu dihancurkan, pribadi yang diserang.

Kedua: menuduh bahwa di balik kebaikan ada ambisi pribadi.

يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ

“Dia ingin memperoleh kelebihan di atas kalian.”

Mereka menggambarkan dakwah Nabi Nuh seakan-akan bukan untuk menyelamatkan manusia, tetapi untuk mendapatkan kedudukan di atas mereka.

Inilah salah satu cara paling halus untuk meracuni kepercayaan manusia:

niat baik dicurigai, pengabdian ditafsirkan sebagai ambisi, dan perjuangan dianggap sebagai pencarian popularitas.

Padahal kita tidak pernah diberi tugas untuk membongkar isi hati manusia.

Urusan hati adalah milik Allah.

Ketiga: membuat standar yang tidak pernah Allah tetapkan.

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَـٰٓئِكَةًۭ

“Seandainya Allah menghendaki, tentu Dia mengutus para malaikat.”

Mereka berkata: kalau benar utusan Allah, seharusnya malaikat.

Masalahnya, mereka membuat syarat sendiri, kemudian menjadikan syarat itu alasan untuk menolak kebenaran.

Begitulah ketika seseorang tidak ingin menerima kebenaran.

Ia bukan mencari kebenaran untuk diikuti, tetapi mencari-cari alasan agar kebenaran dapat ditolak.

Keempat: ketika dalil habis, fitnah dimulai.

إِنْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌۭ بِهِۦ جِنَّةٌۭ

“Dia hanyalah seorang laki-laki yang terkena gangguan jiwa.”

Tidak mampu menjawab risalahnya?

Labeli orangnya.

Tidak mampu membantah argumentasinya?

Serang pribadinya.

Tidak sanggup menghadapi kebenarannya?

Sebarkan tuduhan.

Fitnah sering kali menjadi senjata orang yang telah kehabisan hujah.

Kelima: membangun opini buruk, lalu menunggu kegagalan.

«فَتَرَبَّصُوا۟ بِهِۦ حَتَّىٰ حِينٍۭ»

“Maka tunggulah terhadapnya sampai suatu waktu.”

Mereka berharap waktu akan membunuh dakwahnya.

Mereka menunggu kapan orang itu jatuh.
Menunggu kapan jamaahnya berkurang.
Menunggu kapan pengaruhnya hilang.
Menunggu kapan ia melakukan kesalahan.

Seakan-akan kegagalan seorang pendakwah adalah kemenangan bagi mereka.

Tetapi mereka lupa:

Allah tidak menilai seorang hamba hanya dari seberapa banyak manusia mengikutinya. Allah menilai keikhlasan, kesungguhan, dan kebenaran perjuangannya.

Maka jangan heran jika orang yang menyerukan kebaikan terkadang dicela.

Jangan heran jika orang yang mengingatkan tentang akhirat dianggap sok suci.

Jangan heran jika orang yang mengajak kepada kebenaran justru dituduh mencari popularitas.

Itu bukan berarti setiap orang yang dikritik pasti benar. Tidak.

Seorang pembawa kebenaran pun tetap harus terbuka terhadap kritik, introspeksi, dan nasihat.

Tetapi ada perbedaan besar antara kritik yang lahir dari keinginan memperbaiki dan serangan yang bertujuan menjatuhkan.

Yang pertama adalah nasihat.

Yang kedua adalah fitnah.

Karena itu, jangan mudah menjadi pasukan yang ikut menyebarkan tuduhan hanya karena sebuah narasi terdengar meyakinkan.

Tabayyun sebelum menyebarkan.
Adil sebelum menilai.
Periksa sebelum percaya.
Dan pikirkan sebelum ikut menjatuhkan.

Sebab bisa jadi hari ini kita sedang ikut melempar batu kepada seseorang yang sedang berdiri di jalan kebenaran.

Dan bisa jadi, tanpa kita sadari, batu yang kita lemparkan kepada orang lain sedang menjadi saksi yang kelak berbicara tentang diri kita sendiri di hadapan Allah.

Sejarah berulang.
Cara berubah, tetapi pola sering kali sama.

Dulu mereka berkata:

“Dia hanyalah manusia seperti kita.”

“Dia ingin mencari kedudukan.”

“Kalau benar, mengapa bukan malaikat?”

“Dia orang gila.”

“Tunggu saja, nanti dia akan jatuh.”

Hari ini, mungkin kalimatnya berbeda.

Tetapi jika tujuannya sama—memadamkan cahaya kebenaran dengan menjatuhkan pembawanya—maka kita sedang menyaksikan pola yang pernah terjadi sejak zaman Nabi Nuh alaihi salam

Maka jadilah orang yang membantu kebenaran berdiri, bukan orang yang sibuk mencari cara agar pembawa kebenaran jatuh.

Sebab yang kita butuhkan bukan lebih banyak suara yang menjatuhkan, tetapi lebih banyak hati yang adil. <>
Natar, 11-9-2026

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mimbar Jum'at

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 5 = ?
Berita Terkait