Mimbar Jum'at: Empat Fase Yang Dilalui Bersama Pasangan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MIMBAR JUMAT 04 Sep 2026 01:00 Admin NA
Mimbar Jum'at: Empat Fase Yang Dilalui Bersama Pasangan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Pernikahan bukanlah perjalanan yang setiap jalannya selalu dipenuhi bunga. Ada masa ketika cinta terasa begitu indah, ada saat ketika kenyataan mulai membuka mata, ada waktu ketika ujian membuat hati terluka, dan ada fase ketika dua insan akhirnya belajar tentang arti bertahan.

Sebab mencintai seseorang ketika segala sesuatu terasa indah mungkin mudah. Namun, tetap memilih untuk saling menjaga ketika kekurangan mulai terlihat, perbedaan mulai terasa, dan ujian datang silih berganti, di situlah cinta sedang tumbuh menuju kedewasaan.

1.Fase Euforia: Ketika Semuanya Terasa Indah

Inilah fase awal ketika dua insan sedang menikmati kebersamaan. Semua terasa menyenangkan. Kekurangan seakan belum tampak, perbedaan belum terasa mengganggu, dan dunia seolah cukup untuk dimiliki berdua.

Pesan sederhana terasa istimewa. Pertemuan singkat terasa begitu berharga. Senyuman pasangan mampu menghilangkan lelah. Pada masa ini, seseorang mudah berkata, “Aku akan selalu mencintaimu.”

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya. Dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Cinta adalah nikmat dari Allah. Namun, jangan sampai euforia membuat seseorang lupa bahwa pernikahan bukan hanya tentang menerima keindahan pasangan, melainkan juga belajar menerima kenyataan tentang dirinya.

Solusinya: jangan hanya membangun cinta di atas perasaan. Bangunlah cinta di atas iman, ilmu, komunikasi, dan tujuan yang sama untuk menuju Allah. Karena perasaan bisa berubah, tetapi cinta yang diikat oleh ketakwaan memiliki alasan yang lebih kuat untuk bertahan.

2.Fase Realita: Ketika Kekurangan Mulai Terlihat

Setelah waktu berlalu, mata mulai melihat apa yang dahulu tidak terlihat. Ternyata pasangan memiliki kebiasaan yang tidak kita sukai. Ada perbedaan cara berpikir, karakter, kebiasaan, bahkan cara menyelesaikan masalah.

Mulailah muncul ego.

“Kenapa kamu tidak seperti yang aku harapkan?”

“Kenapa kamu tidak mengerti aku?”

“Dulu kamu tidak seperti ini.”

Padahal, boleh jadi bukan pasangan yang berubah. Hanya saja, dahulu cinta membuat kita belum melihat seluruh kenyataan.

Di sinilah kita harus mengingat pesan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu perangainya, maka ia akan menyukai perangainya yang lain.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan sebuah cara pandang yang sangat indah: jangan hanya melihat satu kekurangan hingga melupakan sekian banyak kebaikannya.

Tidak ada pasangan yang sempurna. Jika engkau mencari seseorang tanpa kekurangan, engkau akan terus mencari dan tidak pernah menemukan. Sebab sebelum menuntut pasangan menjadi sempurna, ingatlah bahwa diri kita sendiri pun memiliki banyak kekurangan.

Solusinya: belajarlah menerima tanpa berhenti memperbaiki. Sampaikan kekurangan pasangan dengan lembut, bukan dengan penghinaan. Kritiklah perilakunya tanpa merendahkan harga dirinya. Ketika berbeda pendapat, ingatlah bahwa pasangan bukan musuh yang harus dikalahkan, melainkan teman hidup yang harus diajak menemukan jalan keluar bersama.

3. Fase Ujian: Ketika Jarak, Kesalahpahaman, dan Air Mata Datang

Tidak semua hari dalam pernikahan dipenuhi tawa.

Akan ada kesalahpahaman yang membuat hati menjauh. Ada perkataan yang keluar saat emosi lalu meninggalkan luka. Ada masa ketika komunikasi terasa sulit. Ada persoalan ekonomi, keluarga, pekerjaan, anak, kesehatan, atau masalah lain yang datang tanpa diduga.

Pada fase ini, cinta diuji.

Bukan lagi sekadar, “Apakah aku bahagia bersamamu?” Tetapi, “Apakah kita tetap mau berjuang memperbaiki keadaan ini bersama-sama?”

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, maka boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

Betapa banyak rumah tangga yang hampir runtuh, tetapi kemudian menjadi lebih kuat setelah berhasil melewati ujian. Betapa banyak air mata yang dahulu dianggap akhir dari segalanya, ternyata kemudian menjadi jalan menuju pemahaman yang lebih dalam.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi)

Solusinya: ketika masalah datang, jangan memperbesar masalah dengan ego. Berhentilah sejenak ketika emosi sedang tinggi. Jangan membahas persoalan dengan suara yang semakin meninggi. Belajarlah meminta maaf, meskipun merasa memiliki alasan. Belajarlah memaafkan, meskipun hati belum sepenuhnya pulih.

Jika ada jarak, dekatkan dengan komunikasi. Jika ada luka, sembuhkan dengan kejujuran. Jika ada kesalahpahaman, jangan hanya berasumsi—duduklah dan berbicaralah.

Dan jika masalah terasa terlalu berat, jangan hanya mencari jalan keluar kepada manusia. Bawalah persoalan rumah tangga ke dalam doa dan sujud.

4.Fase Kedewasaan: Bukan Lagi Siapa yang Paling Benar, tetapi Siapa yang Paling Mampu Bertahan dan Memperbaiki

Inilah fase ketika cinta mulai matang.

Tidak lagi sibuk menghitung siapa yang paling banyak berkorban. Tidak lagi selalu ingin memenangkan setiap perdebatan. Tidak lagi menjadikan kata “maaf” sebagai kekalahan.

Dua insan mulai memahami bahwa rumah tangga tidak dibangun oleh dua orang yang sempurna, tetapi oleh dua orang yang sama-sama bersedia memperbaiki diri.

Pada fase ini, seseorang belajar bahwa terkadang diam lebih baik daripada membalas. Terkadang mengalah lebih mulia daripada menang. Terkadang meminta maaf lebih indah daripada membuktikan siapa yang benar.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ

“Dan janganlah kamu melupakan kebaikan di antara kamu.” (QS. Al-Baqarah: 237)

Inilah salah satu rahasia bertahannya sebuah hubungan: jangan biarkan satu kesalahan menghapus seluruh kenangan tentang kebaikan.

Ketika pasangan sedang membuatmu kecewa, ingat kembali hari-hari ketika ia pernah berjuang untukmu. Ketika pertengkaran terjadi, jangan biarkan kemarahan membuatmu lupa bahwa di hadapanmu adalah orang yang telah berbagi perjalanan hidup bersamamu.

Solusi untuk Bertumbuh Menuju Kedewasaan

Pertama, jadikan Allah sebagai tujuan bersama.
Suami dan istri harus menyadari bahwa mereka bukan hanya berjalan menuju usia tua, tetapi sedang berjalan menuju akhirat. Ketika tujuan akhir sama, perbedaan di tengah perjalanan akan lebih mudah diselesaikan.

Kedua, perbaiki komunikasi.
Bicaralah untuk memahami, bukan hanya untuk membalas. Dengarkan pasangan sampai selesai. Jangan memotong pembicaraan hanya karena ingin segera membuktikan diri benar.

Ketiga, jangan membawa semua masalah ke tempat lain sebelum dibicarakan dengan pasangan.
Jangan biarkan masalah kecil menjadi besar karena terlalu banyak melibatkan orang lain. Jagalah kehormatan dan rahasia rumah tangga.

Keempat, biasakan melihat kebaikan pasangan.
Setiap hari, ingatlah minimal satu kebaikan yang telah dilakukan pasangan. Bersyukur kepada pasangan akan membantu hati untuk tidak mudah dikuasai oleh kekurangannya.

Kelima, jangan berhenti saling mendoakan.
Ada saat ketika nasihat tidak lagi mampu menembus hati, tetapi doa yang tulus dapat mengetuk pintu langit.

Allah Subḥanahu wata'ala mengajarkan doa:

«رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا»

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74)

Pada akhirnya, pernikahan bukan tentang menemukan seseorang yang tidak pernah membuat kita kecewa.

Pernikahan adalah tentang menemukan seseorang yang, dengan segala kekurangannya, tetap ingin kita ajak pulang kepada Allah.

Akan ada fase euforia ketika semuanya terasa indah.

Akan ada fase realita ketika kekurangan mulai terlihat.

Akan ada fase ujian ketika kesalahpahaman dan air mata datang.

Dan semoga, setelah semua itu, kita sampai pada fase kedewasaan—ketika cinta tidak lagi hanya berkata:

“Aku mencintaimu karena kamu sempurna.”

Tetapi:

“Aku tahu engkau memiliki kekurangan, aku pun demikian. Namun, selama kita masih mau sama-sama memperbaiki diri, saling memaafkan, saling menguatkan, dan menggenggam tangan menuju Allah, maka perjalanan ini masih layak untuk diperjuangkan.”

Karena cinta yang dewasa bukanlah cinta yang tidak pernah diuji.

Cinta yang dewasa adalah cinta yang, setelah diuji, tetap memilih untuk kembali memperbaiki, memaafkan, dan bertahan dalam kebaikan.

Bukan lagi tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling bijak.
Bukan tentang siapa yang paling menang, tetapi siapa yang mampu menyelamatkan.
Dan bukan sekadar tentang siapa yang bertahan, tetapi tentang dua hati yang bersama-sama bertahan di jalan Allah. <>
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mimbar Jum'at

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

9 + 7 = ?
Berita Terkait