Mimbar Jum'at: Jangan Biarkan Mata Meresahkan Hati. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MIMBAR JUMAT 14 Aug 2026 03:45 Admin NA
Mimbar Jum'at: Jangan Biarkan Mata Meresahkan Hati. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Tidak semua yang engkau ketahui akan menambah ilmumu.
Tidak semua yang engkau lihat akan menambah kebahagiaanmu.
Dan tidak semua yang diperlihatkan dunia kepadamu pantas engkau simpan di dalam hatimu.

Ada pengetahuan yang menjadi cahaya, tetapi ada pula pengetahuan yang hanya menambah gelap di dalam jiwa. Ada pandangan yang membuka mata hati, tetapi ada pula pandangan yang justru menutup mata terhadap nikmat Allah yang telah berada di depan kita.

Sesungguhnya, di antara penyakit zaman ini ialah bahwa manusia terlalu banyak melihat, tetapi terlalu sedikit merenungi; terlalu banyak mengetahui kehidupan orang lain, tetapi terlalu sedikit mengenali dirinya sendiri.

Setiap hari mata dibawa berjalan-jalan ke dalam kehidupan manusia melalui jendela kecil yang bernama telepon genggam. Di sana ia melihat rumah-rumah yang megah, perjalanan-perjalanan yang jauh, meja-meja yang penuh hidangan, wajah-wajah yang tersenyum, kendaraan-kendaraan yang indah, pakaian-pakaian yang mahal, serta keberhasilan-keberhasilan yang dipamerkan seakan hidup seluruh manusia hanyalah musim bunga yang tak pernah mengenal gugur.

Lalu pulanglah mata itu kepada rumahnya.

Tetapi, sering kali ia tidak pulang sendirian.

Ia membawa perbandingan.

Dan perbandingan adalah seorang tamu yang apabila dibiarkan masuk ke dalam hati, ia akan duduk di atas kursi syukur, lalu perlahan-lahan mengusirnya.

Maka seseorang yang semula merasa cukup, tiba-tiba merasa miskin. Padahal hartanya tidak berkurang.

Seseorang yang semula bersyukur atas rumahnya, tiba-tiba merasa sempit. Padahal dinding rumahnya tidak berubah.

Seseorang yang semula menikmati makan bersama keluarganya, tiba-tiba merasa hidupnya hambar. Padahal cinta di sekelilingnya masih tetap sama.

Apakah yang berubah?

Bukan nikmatnya. Tetapi pandangannya.

Bukan kehidupan yang menjadi lebih sempit, tetapi hati yang mulai mengukurnya dengan kehidupan orang lain.

Begitulah dunia masuk ke dalam jiwa: kadang-kadang bukan melalui pintu kemiskinan, tetapi melalui jendela pandangan.

Engkau melihat orang lain pergi ke tempat-tempat yang indah, lalu engkau menyangka bahwa kebahagiaan sedang menunggu di sana. Engkau melihat mereka makan di tempat-tempat mewah, lalu engkau mengira bahwa kenikmatan hanya tinggal di atas meja-meja yang mahal. Engkau melihat mereka beristirahat di tempat-tempat yang menawan, lalu engkau lupa bahwa dahulu, di rumah sederhana yang engkau miliki, engkau pernah tertawa bersama orang-orang yang engkau cintai, dan pada saat itu engkau tidak merasa kekurangan apa pun.

Bukan karena kebahagiaan telah meninggalkanmu.

Tetapi karena matamu telah pergi mencarinya terlalu jauh.

Engkau melihat kendaraan baru, lalu kendaraanmu sendiri terasa tua. Engkau melihat telepon yang lebih canggih, lalu apa yang ada di tanganmu terasa usang. Padahal kendaraanmu masih membawamu ke tempat tujuan, dan teleponmu masih memenuhi kebutuhanmu.

Tetapi dunia mempunyai cara yang halus untuk membuat manusia lupa bersyukur. Ia tidak selalu mengambil apa yang kita miliki.

Kadang ia hanya menunjukkan kepada kita apa yang dimiliki orang lain, sampai kita merasa seakan-akan apa yang ada di tangan kita tidak lagi berarti.

Demikian pula rumah. Engkau dahulu tidur di dalamnya dengan tenang. Dinding-dindingnya menyaksikan doamu. Sudut-sudutnya menyimpan suara anak-anak dan keluargamu. Atapnya menaungimu dari panas dan hujan.

Lalu suatu hari engkau melihat rumah orang lain. Lebih besar. Lebih indah. Lebih mewah.

Kemudian engkau kembali ke rumahmu dengan mata yang sama, tetapi dengan hati yang berbeda.

Dahulu engkau melihat rumahmu dengan rasa syukur. Sekarang engkau melihatnya dengan rasa kurang.

Dahulu rumah itu adalah tempat pulang. Kini ia terasa seperti tanda bahwa engkau belum sampai ke mana-mana.

Padahal rumah itu tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah mata yang telah diajari dunia untuk tidak pernah merasa cukup.

Bahkan keberhasilan manusia pun dapat menjadi ujian bagi orang yang hanya melihat hasil tanpa melihat perjalanan.

Engkau melihat seseorang berdiri di puncak, tetapi engkau tidak melihat berapa kali ia jatuh ketika mendakinya. Engkau melihat senyumnya, tetapi tidak mengetahui berapa banyak air mata yang telah ia sembunyikan. Engkau melihat hasil panennya, tetapi tidak melihat berapa lama ia mencangkul tanah kehidupannya.

Kemudian engkau membandingkan perjalananmu dengan akhir perjalanan orang lain.

Lalu engkau berkata: “Aku telah terlambat.” Padahal setiap manusia mempunyai jamnya sendiri.

Ada yang datang lebih dahulu, tetapi tidak bertahan lama.

Ada yang lambat tiba, tetapi menetap dalam kemuliaan.

Ada yang diberi jalan lapang, dan ada yang dibawa menuju kemuliaan melalui jalan yang sempit dan berliku.

Sebab Allah tidak menciptakan manusia untuk berjalan di atas satu jalan, menuju satu pintu, dan sampai pada waktu yang sama.

Setiap jiwa mempunyai perjalanan.

Setiap perjalanan mempunyai ketentuan.

Dan setiap ketentuan mempunyai hikmah yang hanya dapat dibaca oleh hati yang sabar.

Karena itu Allah Ta‘ala berfirman:

﴿وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ﴾

“Dan janganlah sekali-kali engkau tujukan pandanganmu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia, untuk Kami uji mereka dengannya.” (QS. Thaha: 131)

Betapa agungnya ayat ini.

Allah menyebut segala kemewahan dunia itu sebagai

زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

bunga kehidupan dunia.

Bunga itu indah dipandang. Tetapi ia tidak kekal. Hari ini ia merekah. Esok ia layu. Dan setelah itu, angin akan membawa kelopaknya pergi.

Maka jangan tertipu oleh sesuatu yang indah hanya karena engkau belum melihat akhir keindahannya.

Dan perhatikanlah firman Allah:

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ

“Untuk Kami uji mereka dengannya."

Apa yang engkau lihat sebagai kemewahan pada orang lain, boleh jadi sesungguhnya adalah lembaran ujian yang belum engkau baca.

Apa yang engkau pandang sebagai keberuntungan, mungkin di dalamnya terdapat pertanggungjawaban yang panjang.

Jangan mengira bahwa orang yang diberi lebih banyak telah selesai urusannya dengan dunia. Bisa jadi justru hisabnya lebih panjang.

Nikmat bukan hanya hadiah. Ia juga amanah.

Harta akan bertanya kepada pemiliknya: dari mana ia datang dan ke mana ia pergi?

Waktu akan bertanya: untuk apa ia dihabiskan?

Kedudukan akan bertanya: untuk siapa ia digunakan?

Dan setiap kenikmatan akan datang pada hari ketika manusia berdiri di hadapan Tuhannya, lalu kenikmatan itu menjadi saksi: apakah ia disyukuri atau dilalaikan?

Karena itu, janganlah engkau memandang apa yang dimiliki orang lain seolah-olah mereka telah keluar dari ujian.

Mereka diuji dengan apa yang mereka miliki. Dan engkau diuji dengan apa yang tidak engkau miliki.

Mereka diuji dengan kekayaan. Engkau mungkin diuji dengan kesabaran.

Mereka diuji dengan keluasan. Engkau diuji dengan rasa cukup.

Dan tidak ada seorang pun yang keluar dari dunia ini tanpa membawa lembaran ujiannya masing-masing.

Sebab itulah, ayat ini bukan sekadar perintah untuk menjaga mata. Ia adalah penjagaan terhadap hati. Karena mata adalah jalan yang paling dekat menuju hati.

Apa yang berulang kali dipandang oleh mata, perlahan-lahan akan mengetuk pintu hati.

Apa yang terus-menerus dilihat, lambat-laun akan diinginkan.

Apa yang terus-menerus diinginkan, jika tidak dimiliki, dapat melahirkan kesedihan.

Dan kesedihan yang tidak dijaga dapat berubah menjadi iri.

Lalu iri yang tidak disembuhkan dapat berubah menjadi dengki.

Kemudian hati mulai bertanya dengan suara yang tidak baik: “Mengapa dia mendapatkannya, sedangkan aku tidak?”

Padahal pertanyaan itu adalah awal dari lupa terhadap pembagian Allah.

Maka jagalah pandanganmu sebagaimana engkau menjaga makananmu.

Tidak semua yang tampak lezat boleh engkau makan.

Dan tidak semua yang indah boleh engkau biarkan menetap dalam pandangan.

Sebagaimana makanan yang rusak dapat meracuni tubuh, demikian pula pandangan yang terus-menerus dipenuhi perbandingan dapat meracuni hati.

Ada tontonan yang tidak melukai mata, tetapi melukai rasa syukur.

Ada gambar yang tidak mengurangi hartamu, tetapi membuatmu merasa miskin.

Ada kehidupan orang lain yang tidak mengambil satu pun nikmat darimu, tetapi setelah engkau melihatnya, engkau merasa bahwa nikmatmu tidak lagi cukup.

Maka berhati-hatilah. Jangan biarkan telepon genggammu menjadi jendela yang setiap hari memperlihatkan kepadamu apa yang belum engkau miliki.

Jadikanlah ia jendela yang mengingatkanmu kepada Allah.

Bukalah untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari kegelisahan.

Gunakan untuk mengambil manfaat, bukan untuk mengumpulkan perbandingan.

Jadikan ia jalan yang mendekatkanmu kepada kebenaran, bukan lorong panjang yang membawa hatimu semakin jauh dari rasa syukur.

Sebab, sesungguhnya kemiskinan yang paling menyedihkan bukanlah kosongnya tangan, tetapi kosongnya hati dari rasa cukup.

Dan kekayaan yang paling indah bukanlah banyaknya yang tersimpan di dalam rumah, tetapi tenangnya hati ketika memandang apa yang telah Allah letakkan di dalam kehidupan.

Kaya bukanlah ketika engkau memiliki segala yang engkau inginkan.

Kaya adalah ketika engkau mampu bersyukur atas apa yang engkau miliki, bersabar atas apa yang belum engkau miliki, dan tetap ridha kepada Allah atas apa yang telah Dia tetapkan untukmu.

Maka jangan tanyakan kepada dunia:

“Apa lagi yang belum kumiliki?”

Tetapi tanyakanlah kepada hatimu:

“Berapa banyak nikmat yang telah kumiliki, tetapi belum kusyukuri?”

Barangkali, selama ini engkau tidak kekurangan kebahagiaan.

Engkau hanya terlalu sering melihat ke tempat lain.

Padahal kebahagiaan itu mungkin sedang duduk di dekatmu.

Di rumahmu. Di meja makanmu. Dalam senyum keluargamu. Dalam kesehatan yang masih tersisa.

Dalam waktu yang masih Allah panjangkan. Dalam hati yang masih diberi kesempatan untuk kembali kepada-Nya.

Maka tundukkanlah pandanganmu dari apa yang membuatmu lupa kepada nikmat, dan angkatlah pandangan hatimu kepada Dzat yang telah memberi segala nikmat.

Sebab dunia tidak akan pernah selesai memperlihatkan kepadamu apa yang tidak engkau miliki.

Tetapi Allah telah memberikan kepadamu sesuatu yang jauh lebih besar:

hati yang mampu bersyukur, jika engkau menjaganya.

Dan barang siapa telah memiliki hati yang bersyukur, maka sesungguhnya ia telah menemukan kekayaan yang tidak dapat dibeli oleh dunia.

فَالْغِنَى لَيْسَ فِي كَثْرَةِ مَا تَمْلِكُ، وَلَكِنَّهُ فِي قَلْبٍ رَاضٍ، وَلِسَانٍ شَاكِرٍ، وَنَفْسٍ تَعْرِفُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى.

Maka kekayaan bukanlah pada banyaknya apa yang engkau miliki, melainkan pada hati yang ridha, lisan yang bersyukur, dan jiwa yang mengetahui bahwa apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih kekal. <>
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mimbar Jum'at

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 2 = ?
Berita Terkait