Mimbar Jum'at: Jangan Merasa Aman Dari Makar Allah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MIMBAR JUMAT 18 Sep 2026 02:10 Admin NA 16 kali dibaca
Mimbar Jum'at: Jangan Merasa Aman Dari Makar Allah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Ada manusia yang begitu tenang melakukan kejahatan.

Ia menyusun tipu daya di balik senyum.
Merancang keburukan di balik kata-kata yang manis.
Menjatuhkan orang lain tanpa merasa bersalah.
Mengira karena tidak ada yang melihat, maka semuanya akan berlalu tanpa perhitungan.

Ia lupa: Allah melihat apa yang disembunyikan malam, sebagaimana Dia melihat apa yang dinampakkan siang.

Allah berfirman:

أَفَأَمِنَ الَّذِينَ مَكَرُوا السَّيِّئَاتِ أَن يَخْسِفَ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ

“Apakah orang-orang yang membuat makar yang jahat itu merasa aman dari bencana Allah yang membenamkan mereka ke dalam bumi, atau datang kepada mereka azab dari arah yang tidak mereka sadari?” (QS. An-Nahl: 45)

Menurut As-Sa‘di, ayat ini merupakan ancaman bagi orang-orang yang melakukan makar dan kejahatan, tetapi merasa aman karena hukuman Allah belum datang.

Padahal tertundanya hukuman bukan berarti terbebas dari hukuman.

Ada orang yang bertahun-tahun menanam duri, lalu heran ketika kakinya sendiri berdarah.

Ada yang menggali lubang untuk menjatuhkan saudaranya, lalu lupa bahwa bumi berada di bawah kekuasaan Allah.

Ada yang membangun istana di atas kezalimannya, lalu mengira pondasinya tidak akan pernah runtuh.

Padahal manusia hanya mampu melihat apa yang ada di depan matanya.

Allah mengetahui apa yang tersembunyi di balik tirai takdir.

Kita sering mengira keselamatan adalah ketika musibah belum datang.

Padahal keselamatan sejati adalah ketika Allah memberi kita kesempatan untuk bertaubat sebelum musibah itu datang.

Betapa banyak orang tidur dalam keadaan sehat, lalu tidak pernah membuka mata kembali.

Betapa banyak orang berangkat dengan rencana panjang, tetapi pulang hanya dalam kain kafan.

Betapa banyak orang merasa hidupnya kokoh, lalu dalam satu detik seluruh bangunan kehidupannya runtuh.

Karena itu, jangan pernah menjadikan kelonggaran sebagai tanda bahwa Allah meridhai.

Bisa jadi itu istidraj.
Bisa jadi itu kesempatan terakhir untuk kembali.

Jangan tunggu bumi berguncang untuk menyadari bahwa kita terlalu jauh dari Allah.

Jangan tunggu pintu kematian terbuka untuk menyadari bahwa selama ini kita terlalu sibuk membangun dunia dan lupa menyiapkan rumah keabadian.

Dan jangan pernah merasa aman ketika tangan masih mampu melakukan kezaliman.

Sebab azab Allah tidak selalu datang dengan suara petir.

Kadang ia datang melalui sesuatu yang paling dekat dengan kita.

Kadang melalui tubuh yang tiba-tiba kehilangan kekuatan.

Kadang melalui harta yang lenyap.

Kadang melalui anak yang menjadi sumber kesedihan.

Kadang melalui hati yang kehilangan ketenangan.

Dan kadang, ia datang ketika manusia sedang tertawa, sementara ia tidak tahu bahwa itu adalah tawa terakhirnya di dunia.

Maka sebelum Allah mengambil kita dari bumi, mari kita kembali kepada-Nya.

Sebelum tangan berhenti berbuat, gunakan ia untuk kebaikan.

Sebelum lidah terkunci, gunakan ia untuk istighfar.

Sebelum hati menjadi keras, lembutkan ia dengan mengingat Allah.

Sebab yang paling mengerikan bukanlah ketika azab datang dari arah yang tidak kita sadari.

Yang lebih mengerikan adalah: ketika azab datang, sementara hati sudah tidak lagi merasa takut kepada Allah.

Maka jangan merasa aman.

Jika hari ini Allah masih memberimu napas, itu bukan sekadar kesempatan untuk melanjutkan hidup. Itu adalah panggilan untuk kembali.

Kembalilah sebelum bumi menjadi saksi atas langkah-langkahmu.

Kembalilah sebelum malam menjadi tirai terakhir.

Kembalilah sebelum nama kita disebut bukan lagi dalam doa kehidupan,

tetapi dalam doa orang-orang yang mengantar kita menuju keabadian. <>
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mimbar Jum'at

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 9 = ?
Berita Terkait