Mimbar Jum'at: 7 Keutamaan Shalat Berjamaah di Masjid. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Ketika Langkah Menuju Masjid Menjadi Saksi
Ada langkah-langkah yang tampak sederhana di mata manusia, tetapi sangat besar nilainya di sisi Allah.
Salah satunya adalah langkah menuju masjid.
Ketika azan berkumandang, dunia sebenarnya sedang memanggil kita kepada banyak hal.
Pekerjaan memanggil.
Bisnis memanggil.
Telepon memanggil.
Keluarga memanggil.
Keinginan memanggil.
Namun dari atas menara terdengar panggilan yang lebih tinggi:
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
“Marilah menuju shalat.”
Maka beruntunglah orang yang meninggalkan sejenak urusan dunia, lalu menjawab panggilan Allah.
Pertama, Pahala shalat berjamaah dilipatgandakan
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan, satu shalat yang sama.
Rakaatnya sama.
Al-Fatihahnya sama.
Rukuk dan sujudnya sama.
Tetapi ketika dilakukan bersama jamaah, Allah memberikan keutamaan yang jauh lebih besar.
Maka jangan memandang kecil langkah menuju masjid.
Bisa jadi langkah itu sedang mengangkat derajatmu tanpa engkau sadari.
Kedua, Setiap langkah menuju masjid menghapus dosa dan meninggikan derajat
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ أَتَى مَسْجِدَ قُبَاءٍ فَصَلَّى فِيهِ صَلَاةً كَانَ لَهُ كَأَجْرِ عُمْرَةٍ
Dan dalam hadits lain, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjelaskan keutamaan langkah menuju masjid:
وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ، لَمْ تَخْطُ خُطْوَةً إِلَّا رَفَعَ اللَّهُ لَهُ بِهَا دَرَجَةً، وَحَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً
“Apabila seseorang berwudu dengan sempurna kemudian keluar menuju masjid dan tidak ada yang mendorongnya keluar kecuali shalat, maka setiap langkah yang ia ayunkan akan mengangkat satu derajatnya dan menghapus satu kesalahannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jangan terburu-buru menuju masjid dengan menganggap perjalanan itu hanya jalan menuju shalat.
Perjalanannya sendiri adalah ibadah.
Setiap langkah bisa menjadi penghapus dosa.
Setiap langkah bisa menjadi tambahan derajat.
Ketiga, Mendapatkan cahaya pada hari kiamat
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid, bahwa mereka akan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Ada orang yang berjalan dalam gelap menuju masjid.
Mungkin tidak ada yang melihatnya.
Jalanan sepi.
Lampu redup.
Tetapi Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjanjikan cahaya yang sempurna pada hari kiamat.
Dunia melihat langkahnya sebagai langkah biasa.
Allah melihatnya sebagai jalan menuju cahaya.
Keempat, Mendapatkan naungan Allah
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda tentang tujuh golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat, di antaranya:
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ
“Seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan:
قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ
Bukan sekadar tubuhnya yang sering berada di masjid.
Hatinya yang terpaut kepada masjid.
Ia rindu azan.
Ia rindu saf.
Ia rindu sujud.
Ia merasa ada sesuatu yang hilang ketika terlalu lama jauh dari rumah Allah.
Kelima, Masjid menjadi tempat berkumpulnya hati orang-orang beriman
Allah berfirman:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. At-Taubah: 18)
Masjid bukan sekadar bangunan.
Ia adalah tempat hati-hati kaum Muslimin dipertemukan.
Orang kaya berdiri di samping orang miskin.
Pejabat berdiri di samping rakyat.
Orang tua berdiri di samping pemuda.
Tidak ada mahkota.
Tidak ada pangkat.
Tidak ada jabatan.
Semua berdiri dalam satu saf sebagai hamba Allah.
Keenam, Malaikat mendoakan orang yang menunggu shalat
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
وَالْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي صَلَّى فِيهِ، يَقُولُونَ: اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ
“Para malaikat terus mendoakan salah seorang di antara kalian selama ia masih berada di tempat shalatnya: ‘Ya Allah, rahmatilah dia. Ya Allah, ampunilah dia.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa indahnya.
Kita datang ke masjid untuk beribadah kepada Allah.
Tetapi ketika kita duduk menunggu shalat, para malaikat justru mendoakan kita.
Maka jangan selalu tergesa-gesa meninggalkan masjid setelah salam.
Duduklah sejenak.
Berdzikirlah.
Berdoalah.
Barangkali saat itulah doa para malaikat menyertaimu.
Ketujuh, Shalat berjamaah mendidik kita untuk mencintai Allah lebih daripada dunia
Allah berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyembah siapa pun di samping Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)
Setiap kali kita meninggalkan kesibukan lalu menuju masjid, sebenarnya kita sedang mengatakan kepada diri sendiri:
“Allah lebih utama.”
Ketika azan berkumandang dan kita menjawabnya, kita sedang mendidik hati agar tidak menjadi budak dunia.
Sebab orang yang terlalu mencintai dunia akan berat meninggalkannya.
Sedangkan orang yang mencintai Allah akan selalu menemukan jalan untuk kembali kepada-Nya.
JANGAN MENUNGGU RINDU KEPADA MASJID
Jika hari ini langkahmu masih berat, jangan menyerah.
Paksa dirimu untuk datang.
Karena sering kali rasa cinta lahir setelah kita membiasakan diri.
Datanglah ketika azan berkumandang.
Datanglah meski sedang sibuk.
Datanglah meski hati sedang gelisah.
Datanglah meski hidup sedang terasa berat.
Sebab masjid bukan tempat orang yang sudah sempurna.
Masjid adalah tempat orang-orang yang ingin memperbaiki dirinya di hadapan Allah.
Jika kakimu masih mampu berjalan, jangan biarkan azan memanggil sementara engkau tetap terlena.
Suatu hari nanti kaki ini akan berhenti melangkah.
Suatu hari nanti kita akan dibawa ke masjid bukan lagi untuk shalat, tetapi untuk dishalatkan.
Maka sebelum hari itu datang...
Perbanyaklah langkah menuju masjid.
Biarkan kaki yang berjalan menuju rumah Allah menjadi saksi.
Biarkan sajadah mengenal dahimu.
Biarkan masjid mengenal namamu.
Dan semoga ketika manusia lupa kepada kita, Allah tidak melupakan kita.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا مُعَلَّقَةً بِمَسَاجِدِكَ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.
“Ya Allah, jadikan hati kami terpaut kepada masjid-masjid-Mu, dan bantulah kami untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”
Aamiin. <>
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mimbar Jum'at
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar