Mutiara Pagi: Fitnah Dunia dan Sarang Laba-Laba (Renungan dari Surah Al-'Ankabut). Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Allah tidak pernah memilih nama bagi sebuah surah tanpa hikmah yang dalam. Di antara nama-nama itu, ada yang membuat hati bertanya, mengapa justru Al-'Ankabut—laba-laba—yang dipilih menjadi lambang bagi sebuah surah yang sejak ayat-ayat pertamanya berbicara tentang iman, ujian, dan keteguhan?
Bukankah Allah telah berfirman:
مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui."
(QS. Al-'Ankabut: 41)
Sebagian pengamatan ilmiah menunjukkan bahwa pada beberapa jenis laba-laba terdapat perilaku saling memangsa dalam siklus hidupnya, sehingga hubungan di dalamnya tampak rapuh dan jauh dari kasih sayang. Meski perilaku itu tidak berlaku pada semua spesies, ia mengingatkan kita bahwa kekuatan yang tampak dari luar belum tentu diiringi dengan kokohnya ikatan di dalam.
Namun, rahasia Surah Al-'Ankabūt tidak berhenti pada lemahnya benang yang dipintal. Ada makna yang lebih halus daripada helaian sutra itu, dan lebih dalam daripada mata yang memandangnya.
Lihatlah sarang laba-laba. Benang-benangnya saling bersilang, bertaut, dan berjalin begitu rumit hingga serangga yang masuk ke dalamnya semakin bergerak, semakin terbelit. Demikian pula fitnah dunia. Harta mengait kepada jabatan, jabatan mengait kepada ambisi, ambisi mengait kepada pujian manusia, dan pujian mengait kepada kesombongan. Satu ikatan menyeret kepada ikatan yang lain, hingga jiwa merasa sulit menemukan jalan pulang.
Karena itulah Allah membuka surah ini dengan firman-Nya:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji?"
(QS. Al-'Ankabūt: 2)
Ujian bukanlah tanda Allah meninggalkan hamba-Nya, melainkan bukti bahwa Dia sedang memurnikan iman mereka. Fitnah dunia hanyalah jaring yang tampak menakutkan bagi hati yang terpaut kepadanya. Adapun bagi hati yang bergantung kepada Allah, seluruh jaring itu hanyalah benang-benang rapuh yang akan putus oleh keteguhan tauhid.
Maka jangan takut kepada besarnya ujian. Takutlah jika hati kehilangan tempat bergantung kepada Allah. Sebab siapa yang bersandar kepada dunia akan terperangkap dalam jaringnya, sedangkan siapa yang bersandar kepada Rabb semesta alam akan melihat bahwa seluruh fitnah dunia hanyalah serapuh rumah laba-laba.
Semoga Allah menjadikan hati kita kokoh dalam iman, sabar ketika diuji, dan tidak tertipu oleh indahnya jaring-jaring dunia yang pada hakikatnya hanyalah kelemahan yang menyamar sebagai kekuatan. Aamiin. (*/312).
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar