Mutiara Pagi: Jangan Ukur Dirimu Dengan Keberhasilan Orang Lain. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 26 Aug 2026 01:43 Admin NA
Mutiara Pagi: Jangan Ukur Dirimu Dengan Keberhasilan Orang Lain. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Jangan pernah menjadikan hidup orang lain sebagai penggaris untuk mengukur hidupmu sendiri.

Setiap manusia memulai perjalanan dari titik yang berbeda. Ada yang sejak awal memiliki jalan yang lapang, ada yang harus berjalan tertatih-tatih. Ada yang memperoleh pendidikan dan kesempatan yang luas, sementara yang lain harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Ada yang cepat sampai karena jalannya lurus, ada pula yang lambat karena harus melewati banyak tanjakan.

Maka, keberhasilan tidak bisa diukur dengan satu ukuran yang sama untuk semua orang.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan, beban, keadaan, dan ujian yang berbeda. Karena itu, perjalanan hidup mereka pun tidak mungkin sama.

Jangan merasa gagal hanya karena orang lain telah sampai pada sesuatu yang belum engkau miliki. Jangan pula merasa rendah karena langkahmu lebih lambat. Bisa jadi, orang lain sedang berlari di jalan yang rata, sedangkan engkau sedang mendaki gunung. Bukankah berjalan beberapa langkah saat mendaki kadang membutuhkan tenaga lebih besar daripada berlari di jalan yang datar?

Yang seharusnya engkau bandingkan bukanlah dirimu dengan orang lain, tetapi dirimu hari ini dengan dirimu di masa lalu.

Tanyakan kepada dirimu:

Apakah imanku hari ini lebih baik daripada kemarin?
Apakah ilmuku bertambah?
Apakah akhlakku semakin baik?
Apakah kesabaranku semakin kuat?
Apakah aku semakin dekat kepada Allah?

Jika jawabannya ada kemajuan, walaupun kecil, maka jangan anggap dirimu gagal. Engkau sedang bertumbuh.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kemajuan tidak selalu berupa lompatan besar. Kadang ia hanya berupa satu langkah kecil yang dilakukan dengan istiqamah. Sedikit demi sedikit, hari demi hari, seseorang berubah tanpa ia sadari.

Allah Subḥanahu wata'ala juga berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ ۝ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya.” (QS. An-Najm: 39–40)

Perhatikanlah, Allah tidak memerintahkan kita untuk menjadi seperti orang lain. Yang Allah lihat adalah usaha dan perjuangan kita. Setiap orang akan mempertanggungjawabkan perjalanan hidupnya sendiri.

Karena itu, jangan habiskan hidupmu dengan menghitung keberhasilan orang lain hingga lupa mensyukuri kemajuanmu sendiri.

Mungkin dahulu engkau mudah marah, sekarang mulai belajar menahan diri. Dahulu engkau jarang membaca Al-Qur'an, sekarang mulai membacanya setiap hari. Dahulu engkau jauh dari masjid, sekarang mulai merindukan azan. Dahulu engkau mudah putus asa, sekarang mampu bertahan dalam ujian.

Bukankah itu semua adalah keberhasilan?

Jangan meremehkan perubahan kecil. Sebab pohon yang besar pun tidak tumbuh dalam semalam. Ia bermula dari benih kecil, lalu berakar, bertunas, tumbuh perlahan, diterpa hujan dan angin, hingga akhirnya berdiri tegak.

Fakta kehidupan juga menunjukkan bahwa setiap orang memiliki “garis start” yang berbeda. Latar belakang keluarga, pendidikan, kondisi ekonomi, kesempatan, lingkungan, kemampuan, dan ujian hidup tidak sama. Karena itulah membandingkan hasil akhir tanpa melihat titik awal dan perjalanan seseorang adalah perbandingan yang tidak adil.

Maka berhentilah bertanya, “Mengapa aku belum seperti dia?”

Mulailah bertanya, “Apakah aku sudah lebih baik daripada diriku yang dahulu?”

Jika hari ini engkau lebih sabar, itu kemajuan.
Jika hari ini engkau lebih berilmu, itu kemajuan.
Jika hari ini engkau lebih dekat kepada Allah, itu keberhasilan yang besar.
Dan jika hari ini engkau jatuh, tetapi masih memiliki keinginan untuk bangkit, itu pun tanda bahwa engkau belum kalah.

Jangan bandingkan halaman pertama hidupmu dengan halaman keseratus kehidupan orang lain.

Teruslah berjalan. Tidak perlu menjadi orang lain. Jadilah dirimu yang terus diperbaiki, hari demi hari.

Sebab keberhasilan sejati bukan ketika engkau berhasil mengalahkan orang lain, tetapi ketika engkau berhasil menjadi lebih baik daripada dirimu yang kemarin—dan terus berjalan menuju ridha Allah.

“Jangan iri pada jauhnya perjalanan orang lain. Lihatlah langkahmu sendiri. Selama engkau bergerak menuju kebaikan, sekecil apa pun langkah itu, engkau tidak sedang tertinggal. Engkau sedang dalam perjalanan.”

اللَّهُمَّ اجْعَلْ يَوْمَنَا خَيْرًا مِنْ أَمْسِنَا، وَغَدَنَا خَيْرًا مِنْ يَوْمِنَا

“Ya Allah, jadikanlah hari kami lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok kami lebih baik daripada hari ini.” (*/236).
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 4 = ?
Berita Terkait