Mutiara Pagi: Ketika Dunia Menjadi Dalih untuk Mengakali Langit.Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 04 Aug 2026 02:46 adm@nataragung.id

nataragung.id - Pemanggilan - Ada dosa yang tidak datang dengan wajah pembangkangan, tetapi dengan pakaian kepatuhan. Ia tidak mengangkat pedang untuk memerangi syariat, melainkan mengenakan jubah agama agar tampak seolah-olah tunduk kepadanya. Begitulah hawa nafsu bekerja; ia tidak selalu mengajak manusia meninggalkan jalan Allah, tetapi sering membisikkan agar tetap berjalan di atasnya sambil mengubah arah langkah sedikit demi sedikit, hingga akhirnya tujuan tidak lagi menuju ridha-Nya, melainkan menuju dunia yang memikat mata.

Dunia adalah tamu yang tidak pernah menetap, tetapi betapa banyak hati yang membangun istana untuknya. Ia laksana fatamorgana yang berkilau di padang pasir; semakin dikejar, semakin jauh ia berlari, sementara usia semakin dekat kepada senja.

Di antara lembar-lembar Al-Qur'an, Allah mengabadikan sebuah kisah yang mengguncang nurani. Kisah tentang suatu kaum yang tidak berani berkata, "Kami menolak perintah Allah." Mereka memilih jalan yang lebih halus: mereka mematuhi dengan lisan, tetapi menentang dengan siasat. Mereka tidak menangkap ikan pada hari Sabtu, sebagaimana dilarang. Mereka hanya memasang perangkap sebelumnya dan memanen hasilnya sesudahnya. Seolah-olah hukum Allah dapat ditipu oleh perubahan waktu, padahal Yang menetapkan hukum itu adalah Dzat yang mengetahui rahasia sebelum ia menjadi bisikan.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

"Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabtu. Lalu Kami berfirman kepada mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina.'"
(QS. Al-Baqarah: 65)

Mereka mengira telah berhasil memperdaya hukum, padahal yang mereka tipu hanyalah diri mereka sendiri. Sebab syariat bukan sekadar rangkaian lafaz yang dapat dikelabui oleh kecerdikan akal, tetapi cahaya yang menembus niat paling tersembunyi di dasar hati.

Karena itu Allah berfirman pula:

فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

"Maka ketika mereka melampaui batas terhadap apa yang dilarang kepada mereka, Kami berfirman kepada mereka, 'Jadilah kalian kera yang hina.'"
(QS. Al-A'raf: 166)

Betapa menggetarkan. Hukuman itu bukan semata karena tangan mereka mengambil ikan, tetapi karena hati mereka telah kehilangan pengagungan kepada Allah. Mereka menjadikan kecerdikan lebih tinggi daripada ketundukan, dan keuntungan lebih mulia daripada ketaatan.

Begitulah dunia memperdaya manusia. Mula-mula ia hanya meminta sedikit kelonggaran, kemudian sedikit pembenaran, lalu sedikit perubahan nama. Hingga akhirnya yang haram diberi nama yang indah, yang batil dihias dengan istilah yang memikat, dan yang zalim dipoles menjadi kebijakan. Nama berubah, tetapi hakikat tetap sama. Manusia mungkin dapat memperdaya mata sesamanya, tetapi tidak pernah mampu memperdaya Allah Yang Maha Mengetahui isi dada.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengingatkan:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

"Sesungguhnya setiap amalan bergantung pada niatnya."

Dan beliau juga memperingatkan:

لَا تَرْتَكِبُوا مَا ارْتَكَبَتِ الْيَهُودُ، فَتَسْتَحِلُّوا مَحَارِمَ اللَّهِ بِأَدْنَى الْحِيَلِ

"Janganlah kalian melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi sehingga kalian menghalalkan apa yang diharamkan Allah dengan berbagai tipu daya."

Sungguh, Allah tidak meminta kita menjadi manusia yang pandai mencari celah, tetapi hamba yang tulus mencari keridhaan-Nya. Sebab keikhlasan lebih dicintai Allah daripada kecerdasan yang kehilangan rasa takut kepada-Nya.

Hari ini, kisah itu masih hidup, hanya wajahnya yang berganti. Ada yang menjual agamanya demi jabatan, ada yang menukar amanah dengan keuntungan, ada yang memetik ayat sesuai hawa nafsunya dan meninggalkan ayat yang menghalangi ambisinya. Mereka tidak merasa sedang melawan Allah, padahal sedikit demi sedikit mereka sedang menjauh dari-Nya.

Maka wahai jiwa, janganlah engkau menjadi seperti mereka yang sibuk memperindah alasan, sementara amalnya kehilangan keberkahan. Jangan jadikan syariat sebagai tangga menuju dunia, tetapi jadikan dunia sebagai ladang untuk menggapai akhirat.

Sebab pada akhirnya bukan kepandaian kita mencari celah yang akan menyelamatkan, melainkan ketulusan kita untuk taat. Bukan banyaknya keuntungan yang akan ditimbang, tetapi bersihnya hati ketika menghadap Rabb semesta alam.

Berbahagialah orang yang lebih memilih kehilangan dunia daripada kehilangan ridha Allah. Sebab dunia yang ditinggalkan karena Allah akan diganti dengan kemuliaan yang tidak pernah sirna, sedangkan dunia yang diraih dengan mengakali syariat hanyalah kenikmatan sesaat yang berakhir dengan penyesalan yang panjang.

Semoga Allah menjadikan hati kita hati yang jujur dalam beribadah, lisan yang lurus dalam berkata, dan langkah yang istiqamah di atas Al-Qur'an dan Sunnah, sehingga kita tidak mengulangi jejak kaum yang dihancurkan karena lebih mencintai dunia daripada kebenaran. Aamiin. (*/310).
WaAllahu A'lam


✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
? Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 3 = ?
Berita Terkait