Mutiara Pagi: Lidah yang Memikat, Hati yang Rusak, dan Jiwa yang Menjual Diri kepada Allah (Tadabbur Surat Al-Baqarah Ayat 204–207). Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
MUTIARA PAGI
•
21 Jul 2026 03:35
•
nataragung.id - Pemanggilan - Al-Qur'an adalah kitab yang mengungkap hakikat manusia. Ia tidak hanya menilai apa yang tampak di mata, tetapi juga membongkar isi hati yang tersembunyi. Dalam rangkaian ayat ini, Allah memperlihatkan dua tipe manusia yang saling bertolak belakang. Yang pertama adalah orang yang pandai berbicara, memikat pendengarnya dengan kata-kata yang indah, tetapi hatinya dipenuhi kerusakan. Yang kedua adalah orang yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi seluruh hidupnya dipersembahkan untuk mencari keridaan Allah.
1. Manusia yang Pandai Berbicara, tetapi Rusak Hatinya
Allah Ta'ala berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ
"Di antara manusia ada yang ucapannya tentang kehidupan dunia memikat hatimu, dan ia menjadikan Allah sebagai saksi atas apa yang ada dalam hatinya, padahal dialah penentang yang paling keras." (QS. Al-Baqarah: 204)
Ayat ini mengajarkan agar kita tidak mudah tertipu oleh kepandaian berbicara. Ada orang yang lisannya dipenuhi kata-kata manis, retorikanya mengagumkan, bahkan ia sering menyebut nama Allah untuk meyakinkan orang lain. Akan tetapi, semua itu hanyalah topeng yang menutupi niat buruk dalam hatinya.
Allah mengetahui apa yang tidak diketahui manusia. Manusia hanya mendengar ucapan, sedangkan Allah mengetahui isi hati.
2. Ukuran Keimanan Adalah Perbuatan
Allah melanjutkan:
وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
"Apabila ia berpaling (dari hadapanmu), ia berusaha membuat kerusakan di bumi, merusak tanaman dan keturunan. Dan Allah tidak menyukai kerusakan." (QS. Al-Baqarah: 205)
Di hadapan manusia ia berbicara tentang kebaikan, tetapi ketika tidak ada yang melihat, ia menjadi penyebar kerusakan.
Ungkapan "merusak tanaman dan keturunan" menunjukkan bahwa kerusakan akibat ulah manusia dapat menyentuh seluruh sendi kehidupan: ekonomi, lingkungan, keluarga, pendidikan, moral, bahkan masa depan generasi.
Islam mengajarkan bahwa iman yang benar selalu melahirkan perbaikan (ishlah), bukan kerusakan (fasad).
3. Kesombongan yang Menolak Nasihat
Kemudian Allah berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ ۚ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ
"Dan apabila dikatakan kepadanya, 'Bertakwalah kepada Allah,' kesombongan mendorongnya untuk terus berbuat dosa. Maka cukuplah neraka Jahanam baginya, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal." (QS. Al-Baqarah: 206)
Inilah tanda paling berbahaya dari kerasnya hati: tidak mau menerima nasihat.
Kalimat "Bertakwalah kepada Allah" seharusnya melembutkan hati seorang mukmin. Namun bagi orang yang dikuasai kesombongan, nasihat justru dianggap penghinaan. Harga dirinya mengalahkan kebenaran.
Kesombongan bukan hanya menolak Allah, tetapi juga menolak kebenaran ketika disampaikan kepadanya.
4. Manusia yang Menjual Dirinya kepada Allah
Setelah menggambarkan sosok yang buruk, Al-Qur'an menghadirkan sosok yang mulia.
Allah berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
"Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya demi mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (QS. Al-Baqarah: 207)
Inilah puncak keimanan.
Jika golongan pertama menggunakan agama untuk mencari keuntungan dunia, maka golongan kedua justru menyerahkan seluruh kehidupannya demi Allah.
Ungkapan "menjual dirinya" adalah gambaran yang sangat indah. Seorang mukmin menyerahkan waktu, tenaga, ilmu, harta, bahkan jika diperlukan jiwanya, untuk memperoleh satu keuntungan yang tidak ternilai, yaitu keridaan Allah.
Para ulama menyebutkan bahwa ayat ini termasuk menggambarkan pengorbanan para sahabat, di antaranya Shuhaib Ar-Rumi radhiyallahu 'anhu, yang rela meninggalkan seluruh hartanya demi dapat berhijrah bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Ia kehilangan dunia, tetapi memperoleh ridha Allah.
Sebagai renungan, mari kita kaji.
Empat ayat ini seakan-akan memperlihatkan dua jalan kehidupan.
Jalan pertama dihiasi dengan kata-kata yang indah, tetapi berakhir dengan kerusakan dan kesombongan.
Jalan kedua mungkin dipenuhi pengorbanan, tetapi berakhir dengan keridaan Allah.
Maka seorang mukmin hendaknya lebih sibuk memperbaiki hati daripada memperindah pidato. Lebih bersemangat menebarkan manfaat daripada membangun citra. Lebih mudah menerima nasihat daripada membela kesalahan. Dan lebih rela kehilangan kepentingan dunia daripada kehilangan keridaan Allah.
Karena pada akhirnya, manusia bukan dinilai dari kefasihan lisannya, melainkan dari ketulusan hatinya dan kebenaran amalnya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan yang disebut dalam firman-Nya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
"Dan di antara manusia ada yang menjual dirinya demi mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (QS. Al-Baqarah: 207)
Aamiin. (*/301).
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
? Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar