Mutiara Pagi: Setetes Air di Lautan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
MUTIARA PAGI
•
22 Jul 2026 00:06
•
nataragung.id - Pemanggilan - Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah melukiskan hakikat dunia dengan sebuah perumpamaan yang sangat menggugah. Beliau bersabda:
مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ
"Tidaklah kehidupan dunia dibandingkan dengan akhirat melainkan seperti salah seorang di antara kalian mencelupkan jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia memperhatikan, berapa banyak air yang terbawa ketika jarinya diangkat kembali." (HR. Muslim no. 2858)
Bayangkanlah seseorang berdiri di tepi samudra. Ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam lautan, lalu mengangkatnya kembali. Berapa banyak air yang menempel di jarinya? Hanya setetes, bahkan mungkin kurang dari itu. Sedangkan hamparan samudra tetap membentang luas, tak bertepi sejauh mata memandang.
Begitulah dunia.
Rumah yang megah, kendaraan yang mewah, jabatan yang tinggi, pujian manusia, dan seluruh kenikmatan yang diperebutkan siang dan malam hanyalah setetes air. Adapun akhirat adalah samudra yang tak berujung; kehidupan yang kekal, tanpa batas waktu.
Allah Subḥanahu wata'ala mengingatkan:
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
"Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-A'la: 16–17)
Ironisnya, banyak manusia rela mengorbankan lautan demi mempertahankan setetes air. Mereka menggadaikan iman demi harta, meninggalkan shalat demi pekerjaan, melupakan Al-Qur'an demi hiburan, bahkan menghalalkan segala cara demi memperoleh kenikmatan yang sesaat.
Padahal setiap detik umur yang berlalu adalah langkah yang mendekatkan kita kepada akhirat. Dunia sedang meninggalkan kita, sedangkan akhirat sedang mendatangi kita. Tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan perjalanan itu.
Orang yang cerdas bukanlah yang paling banyak mengumpulkan dunia, tetapi yang paling pandai menjadikan dunia sebagai bekal menuju negeri yang kekal. Harta di tangan adalah nikmat, tetapi harta di hati adalah fitnah. Dunia boleh dimiliki, namun jangan sampai memiliki hati kita.
Semoga setiap kali kita melihat lautan, kita teringat sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Semoga setiap kali kita tergoda oleh gemerlap dunia, kita sadar bahwa semua itu hanyalah setetes air yang segera mengering.
Dan semoga Allah menjadikan hati kita lebih rindu kepada lautan kenikmatan yang telah Dia siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ هِيَ دَارَنَا وَقَرَارَنَا.
"Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan puncak pengetahuan kami. Jadikanlah surga sebagai tempat tinggal dan tempat kembali kami." آمين.
(*/302).
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
? Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar