Mutiara Pagi: Sudah Enam Puluh.. Tapi Jiwa Masih Ingin Berlari. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 02 Sep 2026 00:15 Admin NA
Mutiara Pagi: Sudah Enam Puluh.. Tapi Jiwa Masih Ingin Berlari. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Ketika usia menjelang enam puluh tahun, kadang kita baru menyadari bahwa ternyata di dalam tubuh ini ada sebuah perdebatan yang belum selesai.

Hati masih berkata:

“Kita masih muda!”

Semangat menjawab:

“Masih banyak yang ingin dilakukan!”

Akal berkata:

“Masih banyak yang ingin dipelajari!”

Tetapi lutut, pinggang, dan persendian serempak menyahut:

“Pelan-pelan, Ustadz… kami juga punya hak untuk didengar!”

Dulu ketika ingin bepergian, tinggal berangkat.

Sekarang sebelum berangkat harus mengadakan musyawarah terlebih dahulu:

Kaki ditanya, “Sanggup?”

Lutut menjawab, “Insya Allah…”

Pinggang berkata, “Jangan terlalu lama.”

Napas menambahkan, “Jangan lupa istirahat.”

Belum selesai rapat internal, muncul pula tiga orang “pengawas”:

Gula darah, tekanan darah, dan kolesterol.

Mereka seperti panitia pengawasan yang tidak pernah mengenal istilah bubar.

Melihat makanan manis:

“Jangan banyak-banyak!”

Melihat makanan asin:

“Hati-hati!”

Melihat makanan berlemak:

“Kami sudah mengawasi dari tadi!”

Begitulah manusia ketika usia mulai bertambah.

Dulu kita sering berpikir tentang bagaimana mendapatkan dunia.

Sekarang perlahan kita belajar bertanya:

“Apa yang sudah saya siapkan untuk akhirat?”

Sebab Allah mengingatkan:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُوا ۖ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-An‘am: 132)

Maka bertambahnya usia seharusnya bukan sekadar bertambahnya angka.

Tetapi bertambahnya syukur.

Bertambahnya ilmu.

Bertambahnya amal.

Bertambahnya kesabaran.

Dan semakin dekatnya hati kepada Allah.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Manusia yang terbaik adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.” (HR. Tirmidzi)

Betapa indahnya…

Bukan panjang umur semata yang menjadi kebanggaan.

Tetapi umur yang panjang dan amal yang semakin baik.

Sebab usia adalah modal.

Hari-hari adalah kesempatan.

Dan setiap pagi yang masih Allah izinkan kita buka mata adalah sebuah pesan lembut:

“Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri.”

Karena itu, saya tidak ingin terlalu sibuk menghitung berapa tahun yang telah berlalu.

Saya ingin lebih sering menghitung:

Berapa kali saya bersyukur?

Berapa banyak dosa yang telah saya tinggalkan?

Berapa banyak hati yang pernah saya bahagiakan?

Berapa banyak ilmu yang telah saya bagikan?

Berapa banyak sedekah yang telah saya keluarkan?

Berapa banyak waktu yang saya gunakan untuk mengingat Allah?

Dan yang paling penting:

Apakah hari ini saya lebih dekat kepada Allah dibandingkan kemarin?

Itulah yang semestinya menjadi ukuran pertambahan usia.

Rambut boleh memutih.

Wajah boleh dipenuhi kerutan.

Langkah boleh semakin perlahan.

Tetapi semoga iman tidak ikut melemah.

Semoga hati tidak ikut menua.

Semoga semangat beribadah tidak pernah pensiun.

Sebab kita boleh pensiun dari pekerjaan…

tetapi tidak boleh pensiun dari kebaikan.

Kita boleh mengurangi aktivitas dunia…

tetapi jangan mengurangi hubungan dengan Allah.

Kita boleh berjalan lebih lambat…

tetapi jangan sampai langkah kita berhenti menuju kebaikan.

Dan kalau suatu hari tubuh berkata:

“Sudah waktunya beristirahat…”

Semoga hati masih berkata:

“Belum… masih ada doa yang ingin dipanjatkan, masih ada Al-Qur’an yang ingin dibaca, masih ada sedekah yang ingin diberikan, masih ada silaturahmi yang ingin dijaga, dan masih ada kebaikan yang ingin dilakukan.”

Enam puluh bukan akhir perjalanan.

Mungkin justru sebuah fase ketika kita mulai memahami bahwa dunia ini semakin singkat, sementara akhirat semakin dekat.

Maka tidak perlu takut menjadi tua.

Yang perlu kita takutkan adalah:

usia bertambah, tetapi iman tidak bertambah.

Umur memanjang, tetapi amal tidak berkembang.

Rambut memutih, tetapi hati tetap keras.

Hari berganti, tetapi kita tidak semakin dekat kepada Allah.

Semoga Allah memberikan kepada kita umur yang panjang dalam ketaatan, kesehatan yang menjadi sarana ibadah, rezeki yang penuh keberkahan, hati yang lembut, dan husnul khatimah.

Dan kalau nanti ditanya:

“Berapa usiamu?”

Biarlah KTP menjawab:

“Lebih dari enam puluh.”

Tetapi semoga catatan amal kita berkata:

“Ia memang semakin tua… tetapi setiap tahunnya semakin dekat kepada Allah.”

Karena pada akhirnya,

yang penting bukan berapa lama kita hidup,
tetapi untuk apa umur itu kita gunakan.

Dan satu lagi…

Kalau hati masih ingin berbuat banyak kebaikan, jangan dilarang.

Biarkan ia bermimpi.

Biarkan ia bersemangat.

Biarkan ia mencintai kehidupan.

Tetapi jangan lupa bertanya kepada lutut:

“Sanggup?”

Kalau lutut menjawab:

“Insya Allah, asal pelan-pelan…”

Maka kita pun berjalan.

Pelan-pelan…

Sambil bersyukur.

Sambil berdzikir.

Sambil tersenyum.

Dan semoga setiap langkah yang tersisa…

menjadi langkah menuju ridha Allah. (*/241).
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

6 + 5 = ?
Berita Terkait