Peran Generasi Muda, Pendidikan, dan Teknologi dalam Pelestarian Adat. Generasi Muda sebagai Pewaris Adat Lampung Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, nakhoda muda dan seluruh sanak keluarga.
Izinkanlah seorang punyimbang tua ini bercerita di beranda sembari menyeruput kopi pahit. Kisanak, saya masih teringat jelas tentang seorang pemuda dari Kampung Sukadana, hulu dari jalur Abung. Namanya dulu Arif, sebelum ia akhirnya menyandang gelar Sutan Batin Gemah Ripah. Ia anak muda yang gemar dengan keriuhan dunia modern. Gawai selalu di tangan, ia lebih akrab dengan dunia maya daripada dengan tetua di balai adat.
Sampai suatu ketika, tanah pusaka keluarganya di tepian Way Sekampung hendak dijual.
Arif santai saja, "biar saja, Pak. Saya lebih butuh uang untuk modal usaha."
Bukan main marahnya ayahnya. Bukan karena soal harta, melainkan karena sebidang tanah itu adalah tanah ulayat yang di dalamnya terkandung pesenggiri leluhur. Tertanam sejarah Buay Unyi, marga yang dulu dipimpin oleh seorang penyimbang sakti yang rela berkorban demi tegaknya adat kebumian. Dari situlah cerita tentang pentingnya identitas ini saya mulai, anak muda.
Kisanak, cerita Arif tadi bukanlah isapan jempol. Saya sering mendengar kisah serupa. Generasi sekarang kerap bingung: apa sebenarnya yang begitu istimewa dari semua ritual, gelar, dan pantangan ini? Mengapa harus repot-repot memikirkan bejuluk beadek, gelar adat yang panjang dan kadang terdengar asing di telinga modern? Jawabannya, karena adat Lampung bukan sekadar tarian atau baju bagus. Ini adalah tameng identitas. Ini adalah perisai yang menjaga kita dari tergerus zaman.
Barangkali kisanak pernah bertanya, apa yang membedakan kita, Sai Bumi Ruwa Jurai, dua kelompok besar adat Lampung, Pepadun dan Saibatin? Dulu, ada cerita yang berkembang di kalangan kami di daerah pedalaman.
Konon, di kaki Gunung Pesagi, di Sekala Brak, hiduplah seorang raja yang bijaksana. Setelah kerajaannya mencapai puncak kejayaan, raja membagi wilayahnya berdasarkan watak dan lokasi. Ada yang memilih untuk merantau ke pesisir yang bergelombang, menjadi kelompok Saibatin, yang terdiri dari Paksi Pak, Keratuan, dan beberapa keratuan lainnya. Mereka memilih cara hidup yang tegas, dengan satu pimpinan tunggal atau junjungan yang jelas.
Lalu, ada saudara-saudara mereka yang lebih suka tinggal di daratan dan pedalaman yang subur. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai kelompok Pepadun, seperti Abung Siwo Mego, Mego Pak Tulang Bawang, dan Pubian Telu Suku. Mereka lebih mengedepankan musyawarah, di mana keputusan diambil bersama di atas Cakak Pepadun. Bukan hanya bangsawan, setiap orang yang berjasa atau berwibawa bisa naik dan mendapat gelar. Saya sebagai bagian dari Pepadun merasa, di sinilah demokrasi khas kita lahir jauh sebelum kata itu populer.
Apakah perbedaan itu membuat kita terpecah? Sama sekali tidak. Saya sering menyaksikan prosesi begawi, acara pernikahan adat yang megah. Di sana, falsafah Sakai Sambayan berdenyut kencang. Saat keluarga sedang sibuk menyiapkan hajatan, seluruh tetangga dan kerabat dari berbagai penjuru datang bergotong-royong. Tidak ada batasan Pepadun atau Saibatin. Semua bahu-membahu menanak nasi di tungku tiga batu yang melambangkan kekuatan. Saya sering tersenyum melihat pemuda zaman now yang sibuk dengan ponsel, tetapi saat ada hajatan, mereka lincah mengangkat kursi dan meja. Itulah Sakai Sambayan.
Cerita tentang lahirnya marga juga menarik. Ambil contoh Federasi Abung Siwo Mego yang artinya Abung Sembilan Marga. Sembilan marga ini, Unyi, Nyerupa, Unyai, Nuban, Subing, Beliyuk, Kunang, Selagai, Anak Tuha, dikatakan lahir dari sembilan anak sungai yang mengalir dari satu sungai besar. Dalam bahasa kiasan kami, ini mengajarkan bahwa meskipun berasal dari aliran yang berbeda, kita semua adalah bagian dari satu ?kesatuan. Dalam kitab adat kuno yang masih kami simpan, seperti Kitab Kuntara Raja Niti, tertulis aturan tentang bagaimana setiap marga saling menjaga dan menghormati.
Saya ingin mengutip sepenggal bunyi dalam kitab Oendang-Oendang Adat Krui yang sering kami dengar: "Sikam galang pak ghimah, tiyuh galang pak ghimah." Kurang lebih artinya, "Kita kuat karena tetangga, kampung kuat karena warga." Kutipan sederhana ini bukan sekadar kata-kata indah. Ini adalah pengingat bahwa Nemui Nyimah (sikap ramah dan saling memberi) harus kita tumbuhkan, terutama pada generasi muda agar mereka mudah diterima di mana pun berada.
Nah, di sinilah titik pentingnya, ananda. Dalam setiap sub-bahasan adat kita, terdapat tautan erat dengan ajaran Ilahi dan Pancasila. Para tetua dulu tidak pernah mengajarkan ritual yang sia-sia atau bertentangan dengan syariat. Misalnya, dalam falsafah Nengah Nyappur, keterbukaan dan bersosialisasi, Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiir
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."
Lalu, tentang Pesenggiri, harga diri. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu (rendah hati) dan jangan ada orang yang melampaui batas atas orang lain." (HR. Muslim).
Pesenggiri bagi kami bukanlah kesombongan, melainkan menjaga kehormatan diri dan tidak merendahkan orang lain. Itulah yang membuat kita Bupiil Bupesenggiri.
Kembali ke kisah Arif tadi. Saat sang ayah menjelaskan makna Pesenggiri dan sejarah leluhur di tanah itu, Arif mulai sadar. Tanah itu bukan sebidang lahan. Di situlah kakeknya dulu mengadakan Cakak Pepadun, ritual penobatan adat yang mensyaratkan kekuatan dan sumpah setia kepada Punyimbang. Ritual itu sendiri, meskipun terlihat sakral, pada hakikatnya adalah akad (perjanjian) yang sangat dijunjung dalam Islam, seperti janji setia kepada pemimpin selama tidak dalam kemaksiatan. Arif akhirnya mengurungkan niat jualnya dan justru mengajak pemuda lainnya untuk menggali sejarah di prasasti dan naskah kuno.
Anak muda, marwah adat Lampung bukanlah beban yang menghambat langkahmu. Ia adalah akar yang membuatmu tidak tumbang saat badai globalisasi menerjang. Titian gham, pik-pik gham. Pegang erat gelarmu, itu adalah doa dan tanggung jawab. Di dalam setiap gerakan tarian, setiap bait syair, dan setiap keputusan di balai adat, terkandung lima pilar falsafah: Pesenggiri sebagai harga diri, Juluk-Adok sebagai pengakuan, Nemui Nyimah sebagai keramahan, Nengah Nyappur sebagai keterbukaan, dan Sakai Sambayan sebagai gotong-royong.
Seiring perkembangannya, kajian akademis tentang integrasi budaya Lampung dengan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan kian diperkuat, salah satunya melalui karya tulis para cendekiawan adat. Seorang intelektual yang juga merupakan sesepuh adat dengan gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, Bapak Mohammad Medani Bahagianda, dalam berbagai paparannya selalu menekankan bahwa akar budaya Lampung telah selaras dengan prinsip-prinsip luhur sejak dahulu.
Inilah kekayaan kita. Inilah harta yang tidak akan habis dimakan zaman. Jangan biarkan api peradaban ini padam karena kita sebagai pewaris justru sibuk memadamkannya. Saya titipkan marwah ini di pundakmu. Mari bersama kita jaga Tanean (halaman) kita, karena generasi muda bukanlah penonton, melainkan pelaku utama dalam seni kehidupan bernama Adat Lampung.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar