Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Seruwit, Rasa Kebersamaan di Bumi Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 31 Oct 2026 01:53 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 43 kali dibaca
Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Seruwit, Rasa Kebersamaan di Bumi Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun.
Kalau kau duduk di tepi sungai Lampung, lalu kau lihat sekelompok orang mengelilingi seekor ikan bakar, semangkuk tempoyak, dan beberapa piring lalapan, jangan buru-buru menghampiri. Berhentilah dulu. Dengarkan. Kau akan mendengar tawa, mendengar cerita, mendengar seluruh rahasia sebuah bangsa tentang "kebersamaan".
Itulah nyeruit. Orang luar sering menerjemahkannya sebagai "makan ikan". Tapi terjemahan itu justru membuang hal yang paling penting.
Seruwit itu ikan apa? Para punyimbang tua akan bercerita, itu ikan kecil di sungai, tubuhnya mungil, rasanya sungguh gurih. Di sungai-sungai Lampung, seruwit tidak pernah berenang sendirian. Mereka bergerombol, persis seperti manusia di tanah ini, Sai Bumi Ruwa Jurai, dua jurai manusia, yang sejak dahulu tahu cara berjalan bersama.
Memancing seruwit ada aturannya. Tidak boleh pakai jala besar, itu namanya tamak. Harus pakai bambu halus, dipancing satu per satu, cukup untuk sekali makan lalu berhenti. Kehati-hatian ini bergema dalam Kitab Kuntara Raja Niti. Kitab yang diwariskan dari Dalom di Pampangan itu, ditulis dalam aksara kuno Hat Lampung, memuat aturan paling penting bagi kaum. Salah satunya menyebut, sebuah tiyuh yang "kurang kanian", kekurangan pangan, adalah aib. Sebaliknya, cukup berarti berhenti, cukup berarti berbagi. Itulah batas yang tertanam dalam diri orang Lampung.
Jadi seruwit bukan sekadar ikan. Ia adalah penjelmaan dari batas itu.
Meja nyeruit tidak punya tempat utama.
Ini hal yang paling menyentuh hati saya. Lihatlah balai adat Pepadun, ada sutan, ada tuan, ada ratu, tingkatan jelas, tak satu pun keliru. Tapi begitu duduk di meja nyeruit, sutan dan khadin bahu-membahu, minak dan muli mekhanai semeja. Tangan (atau jari) meraih ikan yang sama, tak ada yang lebih mulia dari yang lain.
Kebiasaan "makan mengelilingi" ini menyimpan kesetaraan paling sederhana orang Lampung. Sakai Sambayan, kata kuno yang diterjemahkan sebagai "gotong royong", sebenarnya lebih berat dari sekadar "tolong-menolong". Ia mengatakan: kesulitanmu adalah kesulitanku, kenyangmu juga kenyangku. Kalau satu ikan tak cukup dibagi? Sobek, satu suap untuk masing-masing. Tak ada yang lebih, tak ada yang kurang.

Ajaran Islam menemukan pintu masuk paling alami dalam hal ini. Allah berfirman dalam Al-Qur'an: 
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اِخۡوَةٌ فَاَصۡلِحُوۡا بَيۡنَ اَخَوَيۡكُمۡ ‌ۚ‌وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ
Innamal mu'minuuna ikhwatun fa aslihuu baina akhawaykum wattaqul laaha la'allakum tuhamuun
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al Hujurat ayat 10)

Saudara duduk semeja, di mana ada batas "aku" dan "kamu"? Nemui Nyimah yang berarti "saling memberi", Nengah Nyappur yang berarti "meleburkan diri", pada akhirnya hanyalah satu meja, satu ikan, satu tangan yang terulur.
Filsuf Lampung suka berkata: Pil pesenggiri bukanlah kesombongan, melainkan tanggung jawab. Seseorang yang punya gelar, punya adok, bukan untuk duduk di meja menunggu dilayani. Justru sebaliknya, yang punya gelar harus lebih dulu meraih ikan, menyobeknya, dan menyerahkannya kepada yang paling jauh.
Tempoyak adalah durian yang difermentasi.
Yang pertama kali mencicipi sering mengerutkan dahi. Aromanya, entah wangi atau busuk, kuat, keras kepala, tak mau berkompromi. Tapi orang Lampung mencintainya, mencintai dengan dalam. Semangkuk tempoyak yang baik butuh waktu. Durian harus matang pas, garam harus diuleni pas, tempayan harus ditutup pas, lalu tunggu. Tiga hari, lima hari, kadang seminggu.
Kau menunggunya, ia pun menunggumu.
Kesabaran "menunggu" ini mengingatkan saya pada pasal-pasal tentang tiyuh dalam Kitab Kuntara Raja Niti. Apa yang dibutuhkan sebuah tempat untuk menjadi "baik tiyuh", tempat yang baik? Butuh balai adat, butuh masjid, butuh beduk, butuh orang yang mau tinggal, mau menunggu, mau menancapkan akar ke dalam tanah. Semua itu butuh waktu.
Dan tempoyak dalam nyeruit mengingatkan setiap orang yang duduk: hal baik tak bisa tergesa-gesa. Persaudaraan pun tak bisa tergesa-gesa. Hari ini kau berbagi ikan dengan orang semeja, esok kalian masih akan bersama memperbaiki jalan, bergotong royong, mengantar jenazah. Nengah Nyappur bukan soal sekali kenal lalu selesai, melainkan "melebur bersama" seumur hidup.
Orang Lampung punya ungkapan, kira-kira begini: tak perlu bicara, ikan pun tahu.
Artinya, saat makan ikan mengelilingi meja, hati tak bisa disembunyikan. Seekor ikan dibagi adil atau tidak, terlihat dari tangan yang membaginya. Siapa yang lebih dulu menjulurkan sumpit, siapa yang menunggu, siapa yang menyisakan bagian perut ikan terbaik untuk orang tua, gerakan-gerakan kecil ini lebih jujur dari kata-kata mana pun.
Karena itu nyeruit selalu soal makan sambil bicara.
Bubandung, syair panjang itu, bisa dinyanyikan terus hingga ikan dingin lalu panas lagi, hingga bulan naik. Yang tua akan bercerita tentang marga, bagaimana keturunan Suntan dari Kelumbayan berjalan jauh ke Napal, lalu ke Pekon Susuk hari ini. Yang muda mendengarkan, sementara jari masih mengingat sisa tempoyak terakhir di piring. Anehnya, cerita-cerita itulah yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bukan di ruang kelas, tapi di tepi meja makan.

Saya berpikir, mungkin inilah sebabnya adat Lampung masih hidup hingga kini. Bukan karena wibawa punyimbang, tapi karena malam-malam mengelilingi meja ini. Wibawa membuat orang patuh, seekor ikan membuat hati mendekat.
Saya pernah mengikuti beberapa kali nyeruit. Yang paling tak terlupakan, di sebuah tiyuh sederhana. Tuan rumahnya seorang khadin, tak banyak bicara, hanya terus menyisipkan ikan ke mangkuk saya.
Saya menolak. Ia menatap saya, lalu mengucapkan kalimat yang hingga kini terpatri di hati: "Bejuluk beadek artinya bukan kau punya nama, tapi ketika orang menyebut namamu, ia mau duduk di sampingmu."
Baru kemudian saya tahu, kalimat sederhana itu justru inti terdalam dari bejuluk beadek. Gelar tak pernah menjadi plakat yang tergantung di ambang pintu. Ia dipanggil, ditegaskan, dihidupkan dalam nyeruit dari waktu ke waktu.
Tapi yang berkumpul, adalah manusia Sai Bumi Ruwa Jurai. Mereka dengan cara paling sederhana menjaga kebenaran paling sederhana: yang makan bersama, hatinya bersama.
Kebenaran ini, Allah telah firmankan dalam Al-Qur'an. Sila ketiga dan kelima Pancasila telah menyebutkannya. Para punyimbang Lampung tak perlu membuka kitab, mereka mengatakannya dengan seekor ikan.
Tabik pun.

Sumber Referensi:
1. Koentara Radjaniti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng, Repositori Kemdikbud, fragmen naskah
2. Skripsi "Pelestarian Budaya Kearifan Lokal Bejuluk Beadek pada Masyarakat Lampung Pepadun", Universitas Lampung
3. RRI.co.id, "Mengenal Falsafah Lampung Piil Pesenggiri", 2024
4. Repository Raden Intan, "Nilai-Nilai Islam dalam Tradisi Nyambai Adat Lampung Sai Batin", 2020
5. "Piil Pesenggiri dalam Dunia Pendidikan", RRI.co.id, 2026
6. "Tradisi Butetah, Warisan Adat Pemberian Gelar bagi Masyarakat Lampung Saibatin", RRI.co.id, 2026
7. Publikasi UBL, "Kuntara Raja Niti", 2021
8. Cerita Tanah Lado, Repositori Kemdikbud

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 5 = ?
Berita Terkait