Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung Tuhuk dan Kearifan Masyarakat Pesisir. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca yang saya muliakan. Hari ini, izinkanlah saya, layaknya seorang punyimbang adat yang duduk bersila di beranda, membawa kita semua menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia.
Kita akan menyusuri pesisir barat Lampung, di mana ombak Samudra Hindia berbisik dan langit bertemu laut. Di sana, tersimpan sebuah kekayaan yang tak kalah berharga dari emas dan permata, yaitu Tuhuk, ikan marlin yang menjadi nyawa bagi masyarakat pesisir. Lebih dari sekadar santapan, tuhuk adalah cerminan kearifan dan kedekatan ulun Lampung dengan alam bahari yang maha luas.
Coba bayangkan, sepagi mungkin di sebuah dermaga di Krui, Kabupaten Pesisir Barat. Nelayan-nelayan mulai berdatangan dengan perahu-perahu kecil yang sarat hasil laut. Di antara ikan-ikan itu, ada seekor ikan gagah dengan moncong menyerupai tombak dan sirip punggung yang tegap berdiri. Itulah dia, ikan tuhuk, atau yang dikenal dunia sebagai ikan marlin.
Masyarakat setempat begitu akrab dengan ikan ini, bahkan sejak Kabupaten Pesisir Barat diresmikan pada tahun 2013, tuhuk diangkat menjadi maskot kebanggaan. Patung dan logonya pun menghiasi berbagai sudut kota Krui.
Di tangan para ibu dan para pedagang kuliner, ikan tuhuk yang perkasa di lautan itu berubah menjadi hidangan-hidangan yang menggugah selera. Ada gulai taboh iwak tuhuk, gulai segar dengan santan dan rempah yang kaya. Ada pula perosmasin ikan tuhuk, sajian asam pedas tanpa santan yang menyegarkan lidah.
Dan yang paling terkenal, sate tuhuk. Daging marlin yang tebal dan berwarna kemerahan, mirip daging sapi, ditusuk dan dibakar dengan bumbu sederhana, menghasilkan cita rasa yang gurih dan lembut, tak kalah dengan sate daging pada umumnya.
Kuliner-kuliner ini bukanlah makanan sehari-hari yang sembarangan. Ia sering kali hadir dalam hajatan besar, kenduri, atau saat hari raya, menjadi penanda bahwa ada peristiwa penting dan sukacita yang sedang dirayakan.
Mengapa ikan ini begitu istimewa? Karena di balik setiap suapan daging tuhuk, tersirat nilai-nilai luhur falsafah hidup orang Lampung, yaitu Piil Pesenggiri. Para tetua kita mewariskan Piil Pesenggiri sebagai tiang penyangga kehidupan, yang dirinci dalam kitab-kitab adat seperti Kuntara Raja Niti. Falsafah ini terdiri dari lima pilar. Mari kita kaitkan satu per satu dengan kehidupan nelayan dan kuliner tuhuk.
Pertama, Bejuluk Beadek. Ini adalah pilar tentang gelar kehormatan. Seorang ulun Lampung sejak kecil diberi juluk (nama julukan) dan saat dewasa akan disematkan adek (gelar) dalam upacara adat. Bagi masyarakat pesisir, ikan tuhuk adalah “gelar kehormatan” mereka.
Menjadi nelayan yang andal menangkap tuhuk adalah sebuah kebanggaan, sebuah tanda keahlian dan keberanian. Begitu pula seorang ibu yang pandai memasak gulai taboh atau sate tuhuk, keahliannya itu adalah sebuah gelar tak tertulis yang dihormati di dapur dan di kampung.
Kedua, Nemui Nyimah, yaitu keramahan dan sikap saling memberi. Bayangkan ketika Anda berkunjung ke rumah seorang nelayan di Pesisir Barat. Tidak lengkap rasanya jika tidak disuguhi sepiring sate tuhuk atau semangkuk gulai taboh yang hangat.
Menyajikan hidangan berbahan tuhuk bagi tamu adalah puncak dari keramahan, karena ini menunjukkan bahwa sang tuan rumah memberikan yang terbaik dari hasil lautnya. Inilah wujud nyata dari nemui nyimah, membuka tangan dan hati untuk sesama.
Ketiga, Nengah Nyappur, yang berarti keterbukaan dan pandai bergaul. Nelayan tuhuk tidak bisa bekerja sendirian. Mereka harus berbaur, berbagi informasi tentang ombak dan arus, serta bekerja sama dalam kelompok.
Bahkan, warung-warung sate tuhuk di Krui dan Liwa menjadi tempat berkumpulnya berbagai kalangan, dari nelayan, pedagang, hingga pendatang. Di sanalah terjadi percampuran, obrolan, dan silaturahmi yang mencerminkan semangat nengah nyappur.
Keempat, Sakai Sambayan, gotong-royong yang menjadi nafas kehidupan masyarakat Lampung. Menangkap ikan marlin bukanlah pekerjaan ringan. Ikan ini bisa berbobot lebih dari 200 kilogram, sehingga memerlukan kekuatan dan kerja sama tim saat menarik jaring atau tali pancing.
Begitu pula saat mengolah tuhuk menjadi hidangan untuk sebuah hajatan besar, ibu-ibu di kampung akan saling bahu-membahu, membersihkan ikan, meracik bumbu, dan memasak bersama. Semangat sakai sambayan inilah yang membuat pekerjaan berat menjadi ringan.
Masyarakat pesisir Lampung tidak hanya pandai menangkap ikan, mereka juga memiliki kearifan dalam menjaga alam. Ada sebuah tradisi bernama Ngumbai Lawok, yang dilakukan sebagai ungkapan syukur atas karunia yang diperoleh dari laut. Tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga kelestarian alam. Nelayan tidak boleh serakah, mereka memiliki aturan-aturan turun-temurun tentang kapan harus melaut dan bagaimana memperlakukan laut dengan hormat.
Ini adalah cerminan dari nilai-nilai luhur yang sejalan dengan ajaran agama dan Pancasila. Allah SWT berfirman yang artinya:
وَهُوَ الَّذِىۡ سَخَّرَ الۡبَحۡرَ لِتَاۡكُلُوۡا مِنۡهُ لَحۡمًا طَرِيًّا وَّتَسۡتَخۡرِجُوۡا مِنۡهُ حِلۡيَةً تَلۡبَسُوۡنَهَاۚ وَتَرَى الۡـفُلۡكَ مَوَاخِرَ فِيۡهِ وَلِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِهٖ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ
Wa Huwal lazii sakhkharal bahra litaakuluu minhu lahman tariyyanw wa tastakhrijuu minhu hilyatan talbasuunahaa wa taral fulka mawaakhira fiihi wa litabtaghuu min fadlihii wa la'allakum tashkuruun
"Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl: 14).
Ayat ini mengajarkan bahwa laut adalah karunia Tuhan yang harus dimanfaatkan dengan penuh rasa syukur dan tanggung jawab, bukan dengan keserakahan.
Nilai-nilai Piil Pesenggiri yang melandasi kehidupan masyarakat pesisir ini, mulai dari semangat gotong-royong (sakai sambayan) hingga keterbukaan (nengah nyappur), adalah manifestasi dari ajaran Islam yang rahmatan lil alamin dan sekaligus tiang penyangga ideologi Pancasila, terutama sila ketiga dan kelima. Ini menunjukkan bahwa antara adat, agama, dan negara tidak pernah terpisah, melainkan saling menguatkan dalam bingkai kehidupan yang harmonis.
Tabik pun, dari uraian singkat ini, kita dapat memetik sebuah pelajaran bahwa sepiring sate tuhuk atau semangkuk gulai taboh bukanlah sekadar makanan. Ia adalah simbol dari ketangguhan, keberanian, kerja sama, dan keramahan masyarakat pesisir Lampung. Ia adalah cerminan dari falsafah Piil Pesenggiri yang hidup dan bernapas dalam keseharian mereka.
Dengan menikmati dan melestarikan kuliner berbahan tuhuk ini, kita tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga turut menjaga marwah adat dan identitas kebangsaan. Mari kita jaga laut kita, lestarikan tradisi kita, dan banggakan warisan kuliner Lampung untuk generasi yang akan datang. Semoga Allah meridai langkah kita semua.
Daftar Pustaka:
1. Antara News. (2022). Daya tarik ragam kuliner ikan tuhuk khas Pesisir Barat.
2. Atlantis Press. (2023). Ngumbai Lawok Tradition as a Form of Environmental Sustainability of Fishing Communities in Tanggamus Regency.
3. Garuda - Garba Rujukan Digital. (2026). Integration of Coastal Lampung Customary Values with Islamic Teachings.
4. Garuda - Garba Rujukan Digital. (2026). The Role of Piil Pesenggiri Values in Strengthening Cultural Resilience.
5. Kompas Travel. (2010). Sensasi Sate Ikan Marlin.
6. PALTV. (2023). Gulai Taboh Ikan Tuhuk Hingga Satai Tuhuk: Jejak Kuliner Marlin di Krui, Lampung.
7. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. (2018). Sate Ikan Tuhuk.
8. Raden Intan Repository. (2025). Living Qur’an: Nilai Filosofis Piil Pesenggiri pada Tradisi Masyarakat Lampung.
9. Repository UIN Raden Intan Lampung. (2023). Piil Pesenggiri Philosophy of Life Concept in Religious Moderation.
10. Tribratanews Polda Lampung. (2026). Ikan Blue Marlin Jadi Primadona di Kabupaten Pesisir Barat Lampung.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar