Khutbah Jum'at: Benarkah Kita Mencintai Rasulullah ﷺ? Cinta Bukan Sekadar Pengakuan, Bukti Cinta Adalah Ittiba’. Penulis : Ma'ruf Ridho Syahrofi, S.Pi. *)
nataragung.id - Yogyakarta - Kita semua tentu mengatakan: “Saya mencintai Rasulullah ﷺ.” Tidak ada seorang Muslim yang rela dikatakan tidak mencintai Nabinya.
Namun pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri kita hari ini bukan hanya “Apakah saya mencintai Rasulullah?”, akan tetapi: “Apa bukti cinta saya kepada Rasulullah ﷺ?”
Karena cinta bukan sekadar ucapan. Cinta bukan sekadar perasaan. Cinta membutuhkan bukti. Dikesempatan khutbah hari ini, khatib akan membacakan Khutbah yang berjudul: "Benarkah Kita Mencintai Rasulullah ﷺ?
Cinta Bukan Sekadar Pengakuan, Bukti Cinta Adalah Ittiba"
KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Kita semua tentu mengatakan: “Saya mencintai Rasulullah ﷺ.” Tidak ada seorang Muslim yang rela dikatakan tidak mencintai Nabinya.
Namun pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri kita hari ini bukan hanya “Apakah saya mencintai Rasulullah?”, akan tetapi: “Apa bukti cinta saya kepada Rasulullah ﷺ?”
Karena cinta bukan sekadar ucapan. Cinta bukan sekadar perasaan. Cinta membutuhkan bukti.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pertama: Mencintai Rasulullah ﷺ Adalah Bagian dari Iman.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Para sahabat radhiyallahu ‘anhum mencintai Rasulullah ﷺ dengan cinta yang luar biasa. Tetapi cinta mereka bukan hanya di lisan. Mereka mengikuti beliau. Mereka menjalankan perintah beliau. Mereka meninggalkan sesuatu ketika mengetahui Rasulullah ﷺ melarangnya. Mereka rela mendahulukan petunjuk Rasulullah ﷺ daripada keinginan diri mereka sendiri. Inilah cinta yang sesungguhnya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kedua: Bukti Cinta yang Terbesar adalah Ittiba’
Allah telah memberikan ukuran yang sangat jelas tentang cinta.
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah, ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Perhatikan kalimat:
فَاتَّبِعُونِي
“Maka ikutilah aku.”
Inilah ittiba’. Maka semakin seseorang mencintai Rasulullah ﷺ, seharusnya semakin besar semangatnya mengetahui Sunnah beliau.
Bagaimana Rasulullah shalat?
Bagaimana beliau berdoa?
Bagaimana beliau bermuamalah?
Bagaimana beliau memperlakukan keluarganya?
Bagaimana aqidah yang beliau ajarkan?
Bagaimana ibadah yang beliau tuntunkan?
Karena orang yang benar-benar mencintai akan berusaha mengikuti orang yang dicintainya. Maka jangan sampai kita berkata “Saya mencintai Rasulullah ﷺ,” tetapi Sunnah beliau justru asing dalam kehidupan kita.
Jangan sampai kita mengatakan “Saya membela Rasulullah ﷺ,” tetapi ketika sabda beliau bertentangan dengan hawa nafsu kita, justru hawa nafsu yang kita dahulukan. Cinta Nabi bukan hanya diucapkan. Cinta Nabi harus terlihat dalam kehidupan.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ketiga: Cinta Berarti Beribadah Sesuai Tuntunan Beliau
Kita semua ingin beribadah kepada Allah. Kita semua ingin mendapatkan pahala. Namun niat baik saja belum cukup. Ibadah harus dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
Beliau bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan agama kami ini sesuatu yang bukan bagian darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Maka cinta kepada Rasulullah ﷺ bukanlah membuat cara-cara baru dalam beribadah yang tidak pernah beliau ajarkan.
Para sahabat adalah manusia yang paling mencintai Rasulullah ﷺ. Abu Bakar mencintainya. Umar bin Khattab mencintainya. Utsman bin Affan mencintainya. Ali bin Abi Thalib mencintainya. Seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhum mencintai beliau.
Maka jika kita ingin mengetahui bagaimana cara mencintai Rasulullah ﷺ dengan benar, Lihatlah bagaimana para sahabat mencintai beliau.
Mereka mencintainya dengan mengikuti. Mereka mencintainya dengan menaati. Mereka mencintainya dengan menjaga Sunnah.
Karena itu “Cinta sejati bukan menciptakan cara baru untuk mencintai Nabi. Cinta sejati adalah mengikuti cara yang Nabi ajarkan.”
Ketika datang suatu amalan dalam agama, tanyakan: “Apakah Rasulullah ﷺ mengajarkannya?” “Apakah para sahabat mengamalkannya?”
Jika iya, mari kita berlomba mengamalkannya. Jika tidak, maka bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ adalah dengan berhenti pada batas yang beliau tetapkan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Keempat: Hidupkan Sunnah Rasulullah ﷺ dalam Kehidupan Kita.
Mengikuti Rasulullah ﷺ tidak hanya dalam beberapa perkara ibadah.
Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Maka teladanilah Rasulullah ﷺ dalam seluruh kehidupan.
Rasulullah ﷺ jujur dan amanah. Sudahkah kita jujur dalam pekerjaan dan bisnis kita?
Rasulullah ﷺ baik kepada keluarganya. Sudahkah kita menjadi suami, ayah, dan anggota keluarga yang baik?
Rasulullah ﷺ menjaga lisannya. Bagaimana lisan dan media sosial kita?
Rasulullah ﷺ mengajarkan tauhid. Sudahkah kita membersihkan ibadah kita dari kesyirikan?
Rasulullah ﷺ mengajarkan kasih sayang kepada kaum Muslimin. Sudahkah kita menjaga kehormatan saudara kita?
Jamaah sekalian,
Mencintai Rasulullah ﷺ berarti menjadikan beliau teladan, bukan hanya tokoh yang namanya kita kenang. Pelajarilah sirah beliau. Ajarkan kepada anak-anak kita siapa Nabi mereka. Ceritakan perjuangannya. Ajarkan Sunnahnya. Perbanyak shalawat kepada beliau.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Dan khusus pada hari Jumat, hendaknya kita memperbanyak shalawat kepada beliau ﷺ. Bukan hanya pada bulan tertentu. Bukan hanya pada acara tertentu. Tetapi sepanjang kehidupan kita.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mari kita tutup khutbah pertama ini dengan satu pertanyaan:
“Benarkah kita mencintai Rasulullah ﷺ ?“
Jika iya, buktikan. Pelajari Sunnahnya. Ikuti petunjuknya. Tinggalkan larangannya. Hidupkan ajarannya. Perbanyak shalawat kepadanya. Dan ajarkan Sunnahnya kepada keluarga kita.
Jangan sampai cinta kita hanya indah di lisan, tetapi tidak meninggalkan bekas dalam kehidupan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang jujur dalam mencintai Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah menghidupkan kita di atas Sunnah beliau, mewafatkan kita di atas Sunnah beliau, dan mengumpulkan kita bersama beliau di surga.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Rasulullah ﷺ telah meninggalkan kepada umatnya jalan yang terang. Maka jika kita benar-benar mencintainya, peganglah Sunnah beliau sampai akhir kehidupan kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ
“Wajib atas kalian berpegang kepada Sunnahku dan Sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk setelahku.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, shahih)
Maka jangan malu mengikuti Sunnah ketika Sunnah terasa asing. Jangan tinggalkan Sunnah hanya karena banyak manusia tidak mengamalkannya. Dan jangan mendahulukan kebiasaan, tradisi, atau hawa nafsu apabila telah jelas petunjuk Rasulullah ﷺ.
Ingatlah, kita ingin bertemu Rasulullah ﷺ. Kita ingin dikumpulkan bersama beliau. Maka tempuhlah jalan yang beliau tinggalkan. Ajarkan pula kepada keluarga kita bahwa Muhammad ﷺ bukan hanya Nabi yang namanya mereka hafalkan.
Beliau adalah Nabi yang harus mereka cintai, kenali, dan teladani.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu dan kecintaan kepada Nabi-Mu Muhammad.
اللَّهُمَّ أَحْيِنَا عَلَى السُّنَّةِ، وَأَمِتْنَا عَلَى السُّنَّةِ، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Ya Allah, hidupkan kami di atas Sunnah, wafatkan kami di atas Sunnah, dan kumpulkan kami bersama Nabi kami Muhammad.
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا صِدْقَ مَحَبَّتِهِ وَحُسْنَ اتِّبَاعِهِ وَالثَّبَاتَ عَلَى سُنَّتِهِ.
Ya Allah, karuniakan kepada kami kecintaan yang jujur kepada Rasul-Mu, kemampuan mengikuti beliau dengan baik, dan keteguhan di atas Sunnahnya.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى.
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الْفِتَنِ وَالشُّرُورِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
Wallahu Ta’ala a’lam.
Penulis : Ma’ruf Ridho Syahrofi, S.Pi.
Ditulis di Yogyakarta, 01 September 2026 / 18 Rabiul Awwal 1448H
Khutbah Jum'at untuk dibaca pada tanggal: 4 September 2026
*) Penulis adalah: Manager Batik Travel Umroh - Haji dan Ketua Yayasan MPD Peduli Yogyakarta
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar