Khutbah Jum'at: Nikmat Bukan Selalu Tanda Kemuliaan. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥanahu wata'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam perjalanan menuju akhirat.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita renungkan satu perkara yang sering membuat manusia keliru dalam menilai dirinya sendiri, yaitu: “Nikmat bukan selalu tanda kemuliaan.” Itulah judul Khutbah hari ini
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥanahu wata'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam perjalanan menuju akhirat.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita renungkan satu perkara yang sering membuat manusia keliru dalam menilai dirinya sendiri:
“Nikmat bukan selalu tanda kemuliaan.”
Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah
Salah satu kesalahan yang berbahaya adalah ketika seseorang mengira bahwa setiap kenikmatan dunia yang Allah berikan kepadanya merupakan tanda bahwa Allah sedang memuliakannya.
Ketika hartanya bertambah, ia berkata, “Allah mencintaiku.”
Ketika jabatannya naik, ia berkata, “Ini bukti kemuliaanku.”
Ketika usahanya sukses, rumahnya bagus, kendaraannya mewah, tubuhnya sehat dan hidupnya penuh kemudahan, ia merasa bahwa semua itu adalah tanda bahwa Allah ridha kepadanya.
Padahal, belum tentu.
Demikian pula ketika seseorang mengalami kesempitan hidup, kehilangan harta, sakit, gagal dalam usaha atau menghadapi berbagai kesulitan, jangan pula tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Allah sedang menghinakannya.
Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:
﴿فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ كَلَّا﴾
Fa ammal-insānu idzā mabtalāhu rabbuhu fa akramahu wa na‘amahu fa yaqūlu rabbī akraman. Wa ammā idzā mabtalāhu fa qadara ‘alaihi rizqahu fa yaqūlu rabbī ahānan. Kallā.
“Adapun manusia, apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku.’ Namun apabila Dia mengujinya lalu membatasi rezekinya, dia berkata, ‘Tuhanku telah menghinakanku.’ Sekali-kali tidak!” (QS. Al-Fajr: 15–17)
Perhatikan, jamaah rahimakumullah
Allah membantah dua kesimpulan manusia yang keliru.
Ketika diberi nikmat, manusia berkata, “Allah memuliakanku.”
Ketika diberi kesempitan, manusia berkata, “Allah menghinakanku.”
Allah menjawab:
كَلَّا
Sekali-kali tidak!
Artinya, ukuran kemuliaan di sisi Allah bukan semata-mata banyaknya harta, tingginya jabatan, luasnya rumah, banyaknya pengikut, atau mudahnya kehidupan.
Dunia adalah ujian.
Allah memberi kekayaan untuk menguji: apakah kita bersyukur atau kufur.
Allah memberi kekuasaan untuk menguji: apakah kita berlaku adil atau zalim.
Allah memberi ilmu untuk menguji: apakah ilmu itu diamalkan atau hanya digunakan untuk berbangga.
Allah memberi kesehatan untuk menguji: apakah tubuh digunakan untuk ketaatan atau kemaksiatan.
Allah memberi waktu untuk menguji: apakah waktu diisi dengan amal saleh atau dihabiskan dalam kelalaian.
Karena itu, semakin banyak nikmat yang kita terima, semakin besar pula tanggung jawab kita di hadapan Allah.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Lihatlah kisah Nabi Sulaiman alaihis salam
Allah memberinya kerajaan yang sangat besar. Allah memberinya kekuasaan, ilmu, kemampuan memahami bahasa burung dan berbagai karunia yang luar biasa.
Namun ketika beliau melihat sebuah nikmat yang begitu besar, beliau tidak berkata, “Aku hebat.”
Beliau tidak berkata, “Aku pantas mendapatkannya.”
Beliau justru berkata:
﴿هَٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ﴾
Hādzā min fadli rabbī liyabluwanī a asykuru am akfur.
“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya.” (QS. An-Naml: 40)
Subhanallah.
Inilah cara pandang seorang mukmin.
Ketika mendapatkan nikmat, ia tidak mabuk oleh nikmat. Ia justru bertanya:
“Apa yang Allah kehendaki dariku dengan nikmat ini?”
Ketika mendapatkan harta, ia bertanya:
“Apakah harta ini akan mendekatkanku kepada Allah atau menjauhkanku dari-Nya?”
Ketika mendapatkan jabatan:
“Apakah jabatan ini akan membuatku semakin amanah atau semakin sombong?”
Ketika mendapatkan kesehatan:
“Apakah tubuh ini akan kugunakan untuk beribadah atau untuk bermaksiat?”
Ketika mendapatkan ilmu:
“Apakah ilmu ini akan membuatku semakin tawaduk atau semakin merasa paling tahu?”
Jamaah rahimakumullah,
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah penampilan duniawi.
Beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Innallāha lā yanzhuru ilā shuwārikum wa amwālikum, walākin yanzhuru ilā qulūbikum wa a‘mālikum.
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Maka jangan merasa mulia hanya karena memiliki harta.
Jangan merasa lebih tinggi hanya karena memiliki jabatan.
Jangan merasa lebih baik hanya karena memiliki rumah yang lebih besar.
Jangan merasa lebih terhormat hanya karena memiliki kendaraan yang lebih mahal.
Sebab semua itu akan kita tinggalkan.
Yang akan menemani kita ke dalam kubur bukan rumah kita, bukan kendaraan kita, bukan jabatan kita, bukan rekening kita.
Yang akan menemani kita adalah iman dan amal saleh.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Inna akramakum ‘indallāhi atqākum.
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
Ini adalah prinsip yang harus kita pegang.
Kemuliaan tidak diukur dari apa yang masuk ke dalam rumah kita, tetapi dari apa yang masuk ke dalam hati kita.
Bukan berapa banyak yang kita miliki, tetapi berapa banyak yang kita syukuri.
Bukan seberapa tinggi kedudukan kita di mata manusia, tetapi seberapa tinggi ketakwaan kita di sisi Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada orang yang hartanya banyak tetapi hidupnya jauh dari Allah.
Ada orang yang jabatannya tinggi tetapi hatinya kosong.
Ada orang yang rumahnya megah tetapi keluarganya jauh dari agama.
Ada orang yang tubuhnya sehat tetapi waktunya habis untuk maksiat.
Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi lisannya basah dengan zikir.
Hartanya tidak banyak, tetapi tangannya ringan bersedekah.
Rumahnya sederhana, tetapi di dalamnya dibacakan Al-Qur’an.
Kedudukannya mungkin tidak tinggi di mata manusia, tetapi namanya mulia di sisi Allah karena ketakwaannya.
Karena itu, jangan ukur keberhasilan hidup hanya dengan ukuran dunia.
Tanyakan kepada diri kita:
Apakah setelah mendapatkan nikmat, shalat kita semakin baik?
Apakah setelah harta bertambah, sedekah kita semakin banyak?
Apakah setelah kedudukan naik, kita semakin rendah hati?
Apakah setelah usaha berhasil, kita semakin dekat kepada Allah?
Kalau jawabannya iya, maka nikmat itu telah menjadi jalan menuju kemuliaan.
Tetapi jika nikmat justru membuat kita meninggalkan shalat, meremehkan orang lain, sombong, lupa kepada Allah dan semakin cinta dunia, maka berhati-hatilah.
Bisa jadi apa yang kita sebut nikmat, sebenarnya adalah ujian yang belum kita selesaikan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, bukan hamba yang tertipu oleh nikmat.
أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Alhamdu lillāhi ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, kamā yuḥibbu rabbunā wa yardhā. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَنُورُ السَّالِكِينَ، وَوَصِيَّةُ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Uuṣīkum ‘ibādallāh wa nafsī bitaqwāllāh, fa innahā zādal-muttaqīn, wa nūrus-sālikīn, wa waṣiyyatu rasūli rabbil-‘ālamīn. Fattaqullāha ḥaqqa tuqātih, wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا.
Allāhumma ighfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt. Allāhumma ṭahhir qulūbanā, wa aṣliḥ aḥwālanā, wa bārik lanā fī a‘mārinā wa arzāqinā, wa rfa‘il-balā’a ‘annā wa ‘an bilādinā.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَلُزُومَ طَاعَتِكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ.
Allāhumma ij‘alnā min ‘ibādikas-ṣāliḥīn, warzuqnā ṣidqat-tawakkuli ‘alaik, wa ḥusnaẓ-ẓanni bik, wa luzūma ṭā‘atika fis-sirri wal-‘alan. Yā muqallibal-qulūb tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa yā muṣarrifal-qulūb ṣarrif qulūbanā ilā ṭā‘atik.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَاجْعَلْهُمْ رُحَمَاءَ بِالرَّعِيَّةِ، قُوَّامًا بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ.
Allāhumma aṣliḥ wulāta umūrinā, wa waffiqhum limā fīhi ṣalāḥud-dīn wad-dunyā, waj‘alhum ruḥamā’a bir-ra‘iyyah, quwwāman bil-ḥaqqi wal-‘adl.
اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Allāhumma ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirah ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
‘Ibādallāh, innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhil-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy. Ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn. Fa dzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar