Mengkaji Tantangan Globalisasi, Modernisasi, dan Perubahan Sosial. Menjaga Identitas Budaya di Dunia yang Tanpa Batas. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, saudara sekalian. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
Pagi ini, di beranda sederhana ini, biarlah kita duduk bersama mengenang sebuah kisah dari masa lalu, sebuah cerita yang mungkin akan mengingatkan kita pada perjalanan adat Lampung di tengah dunia yang kini tanpa batas.
Dahulu kala, di sebuah kampung tua bernama Pugung, hiduplah dua sekawan, Burhan dan Jamil. Mereka lahir dari marga yang berbeda, Burhan dari Saibatin Lampung Pesisir dan Jamil dari Pepadun Pubian, namun jiwa mereka seperti saudara. Sejak kecil, mereka diajari oleh tetua adat, Ki Baginda, tentang falsafah hidup yang dijaga turun-temurun. Tangan mereka diajari untuk saling memberi, hati mereka untuk terbuka, dan kaki mereka untuk melangkah bersama dalam Sakai Sambayan atau gotong royong.
Namun, waktu berlalu dan dunia berubah. Sebuah jalan besar dibangun melalui desa mereka, menghubungkan Pugung dengan kota-kota gemerlap yang mereka dengar hanya dalam cerita. Anak-anak muda seperti Burhan dan Jamil mulai tergoda. Bukan karena mereka tak cinta adat, tetapi mereka melihat bahwa dunia di luar sana menawarkan sesuatu yang lain, sebuah kehidupan yang serba cepat dan penuh kebebasan.
Burhan memilih pergi ke kota. Ia menjadi insinyur, sukses, dan hidup dengan segala kemudahan modern. Sepuluh tahun kemudian, ia pulang ke kampung. Ia datang dengan mobil baru, pakaian necis, dan lidah yang mulai fasih berbahasa asing. Tetapi ketika ia melihat upacara adat Cangget Agung, ada sebuah keganjilan di hatinya. Gerakan-gerakan para penari yang dulu ia hafal, kini terasa asing. Julukan adatnya, “Radin”, yang melekat pada dirinya, terasa seperti beban yang tidak ia pahami lagi maknanya.
Sementara Jamil, yang memilih tinggal di kampung, tetap memegang teguh gelar adatnya. Ia menjadi seorang petani yang sederhana, tetapi setiap upacara Begawi, ia selalu berada di barisan depan. Namun, ia pun mulai resah. Anak-anak muda di kampungnya lebih sering bermain gawai daripada belajar menari Tari Sembah atau mendengarkan petuah leluhur. Mereka adalah generasi yang akrab dengan dunia tanpa batas, namun mulai kehilangan peta untuk pulang ke rumah adatnya sendiri.
Suatu senja, Burhan dan Jamil bertemu di bawah pohon beringin tua yang pernah menjadi tempat mereka bermain. Mereka saling memandang. Burhan, yang kaya harta, merasa miskin jiwa karena gelar adatnya hanya tinggal nama. Jamil, yang setia di kampung, merasa cemas melihat adatnya perlahan ditinggalkan. Di situlah mereka sadar; baik yang pergi maupun yang tinggal, sama-sama dihadapkan pada pertanyaan yang sama: "Bagaimana menjaga identitas di dunia yang tanpa batas?"
Kisah Burhan dan Jamil adalah cermin dari perjalanan kita. Untuk memahami bagaimana menjaga identitas, kita harus menyelami dari mana kita berasal. Masyarakat adat Lampung, yang kita kenal dengan Sai Bumi Ruwa Jurai (satu bumi dua jurai), memiliki dua sistem adat utama: Saibatin yang memegang adat pesisir dan Pepadun yang menyebar di daratan. Namun di bawah perbedaan itu, mengalir sungai falsafah yang sama, yang menjadi roh adat Lampung.
Para leluhur kita telah mewariskan sebuah kitab rujukan yang bernama Kitab Kuntara Raja Niti. Di dalam lembaran-lembaran kunonya, tertanam pedoman hidup yang tidak hanya mengatur hukum, tetapi juga jiwa.
Dalam kitab inilah kita menemukan landasan falsafah orang Lampung, yang sering disebut dengan Piil Pesenggiri. Dalam sebuah aksara kuno dari Provinsi Lampung, disebutkan:
“Tandani Ulun Lampung Wat Pili-Pusanggikhi Mulia Heno Sehitung Wat Liom Khega Dikhi Juluq-Adoq Kham Pegung, Nemui-Nyimah Muakhi Nengah-Nyampokh Mak Ngungkung, Sakai-Sambayan Cawri.”
Kutipan ini mengingatkan kita bahwa orang Lampung memiliki lima nilai dasar. Yang pertama, Pesenggiri atau harga diri. Ini bukan tentang kesombongan, melainkan keberanian untuk mempertahankan kehormatan dan malu untuk melakukan perbuatan yang hina menurut agama dan masyarakat. Lalu ada Juluk-Adok, gelar kehormatan yang disandang, bukan hanya sebagai nama, tetapi sebagai tanggung jawab untuk menjadi pribadi yang bijaksana.
Kemudian Nemui Nyimah, sebuah tata cara keramah-tamahan yang mengajarkan kita untuk selalu terbuka, ramah, dan saling memberi. Ini adalah nilai yang membuat orang Lampung dikenal sebagai tuan rumah yang baik. Lalu Nengah Nyappur, keterbukaan dalam pergaulan. Ini bukan sekadar interaksi, melainkan kesejukan hati untuk menerima perbedaan dan tidak merasa lebih tinggi dari yang lain.
Dan yang terakhir, Sakai Sambayan, adalah roh gotong-royong yang menjadi kekuatan terbesar masyarakat Lampung, sebuah kesetiakawanan yang mengajarkan bahwa kita tidak bisa hidup sendirian. Nilai-nilai ini, tuan-tuan dan puan-puan, adalah penjaga marwah kita di tengah derasnya arus globalisasi.
Ketika dunia kini terhubung tanpa sekat, ketika budaya asing masuk begitu cepat melalui layar kaca dan gawai, kita tidak bisa memilih untuk menutup diri. Mengasingkan diri bukanlah pilihan orang Lampung, karena kita memiliki Nengah Nyappur. Namun, membiarkan diri larut tanpa arah juga bukan jalan, karena kita memiliki Pesenggiri.
Kesadaran akan identitas di dunia tanpa batas ini bukanlah tentang menolak modernitas.
Burhan, dalam cerita tadi, tidak perlu kembali ke kampung dengan meninggalkan semua ilmunya. Sebaliknya, ia bisa menjadi jembatan. Ia bisa menerjemahkan nilai-nilai luhur Sakai Sambayan dalam bahasa teknologi, mengajak sesama anak muda di kota untuk tetap bergotong-royong. Dengan kata lain, ia bisa menjadi warga dunia yang tetap berakar pada tanah kelahirannya.
Sebagai umat Islam, ini juga selaras dengan tuntunan kita. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiir
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."
Ayat ini mengajarkan bahwa keberagaman suku dan budaya, termasuk budaya Lampung, bukanlah penghalang, melainkan jalan untuk saling mengenal dan menghargai. Islam mengajarkan kita untuk mengenal jati diri agar dapat bersatu dalam kebaikan. Di sinilah letak keselarasan falsafah kita dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila ke-3 tentang Persatuan Indonesia. Dengan menjaga identitas, kita justru memperkaya kebangsaan kita.
Dalam budaya Lampung, ada sebuah tradisi dalam tari Sembah atau Ngakuk di mana gerakan tepuk tangan bukanlah sekadar irama, melainkan simbol kebersamaan. Tepuk tangan ini adalah afirmasi bahwa kita hadir, kita bersama, dan kita bersatu. Di tengah kehidupan modern yang serba individualistis, mungkin kita perlu belajar lagi dari tepuk tangan sederhana ini.
Seperti pesan dalam sebuah hadis Rasulullah SAW: “Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi” (HR. Bukhari). Kasih sayang dan kebersamaan adalah inti dari Sakai Sambayan. Jika kita kehilangan semangat untuk berbagi dan bergotong royong, maka kita kehilangan denyut nadi budaya kita. Sebaliknya, jika kita bawa nilai ini ke dalam kehidupan modern, kita bisa menjadi pribadi yang lebih manusiawi.
Maka, kepada anak-anak muda yang ada di perantauan, seperti Burhan, tetaplah berbangga dengan juluk adokmu. Itu adalah warisan yang tidak ternilai. Kepada para penjaga adat di kampung, seperti Jamil, tetaplah sabar mengajarkan. Karena pada akhirnya, dunia ini adalah milik mereka yang bisa beradaptasi, tetapi juga milik mereka yang tetap ingat dari mana asal mereka.
Jangan pernah takut mengulang istilah-istilah ini, karena justru dari sanalah marwah kita berdiri tegak. Di penghujung cerita, biarlah saya sampaikan sebuah petuah sederhana, “Muli mekhanai pesagikh, payah mak gham mekhana.” Lebih baik mati berpegang pada adat dan agama, daripada hidup hina tanpa keduanya. Namun, marwah ini bukan berarti kita kaku. Marwah ini adalah lentera yang akan membawa kita melangkah tanpa tersesat di dunia yang luas ini. Terimalah dengan lapang dada, karena adat Lampung mengajarkan kita untuk menjadi Ulun yang kuat, terbuka, namun tetap tahu diri.
Tabik pun, semoga kita selalu dalam lindungan-Nya.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar