Khutbah Jum'at: Ketika Bumi Mengingatkan Kita - Menyikapi Musibah dan Bencana dengan Iman. Penyusun    : Ma'ruf Ridho Syahrofi, S.Pi. *)

KHUTBAH JUM'AT 10 Sep 2026 01:36 Admin NA 21 kali dibaca
Khutbah Jum'at: Ketika Bumi Mengingatkan Kita - Menyikapi Musibah dan Bencana dengan Iman. Penyusun    : Ma'ruf Ridho Syahrofi, S.Pi. *)

nataragung.id - Yogyakarta - Beberapa hari terakhir, berbagai peristiwa alam terjadi di negeri kita.
Gempa mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur. Kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah. Sebagian daerah menghadapi kekeringan dan panjangnya hari tanpa hujan. Gunung Anak Krakatau juga kembali menunjukkan aktivitas erupsinya.
Peristiwa-peristiwa ini seharusnya tidak sekedar menjadi berita yang kita baca lalu kita lupakan. Bagi seorang mukmin, semua itu mengingatkan kita bahwa:
Manusia itu lemah, sedangkan Allah Mahakuasa.
Teknologi manusia boleh maju. Bangunan boleh semakin kokoh. Prediksi cuaca semakin canggih. Tetapi ketika Allah menetapkan sesuatu terjadi, tidak ada seorang pun yang mampu keluar dari ketetapan-Nya. Khutbah hari ini khatib akan beri judul: "Ketika Bumi Mengingatkan Kita - Menyikapi Musibah dan Bencana"

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Beberapa hari terakhir, berbagai peristiwa alam terjadi di negeri kita.
Gempa mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur. Kebakaran hutan dan lahan masih terjadi di sejumlah wilayah. Sebagian daerah menghadapi kekeringan dan panjangnya hari tanpa hujan. Gunung Anak Krakatau juga kembali menunjukkan aktivitas erupsinya.
Peristiwa-peristiwa ini seharusnya tidak sekedar menjadi berita yang kita baca lalu kita lupakan. Bagi seorang mukmin, semua itu mengingatkan kita bahwa:
Manusia itu lemah, sedangkan Allah Mahakuasa.
Teknologi manusia boleh maju. Bangunan boleh semakin kokoh. Prediksi cuaca semakin canggih. Tetapi ketika Allah menetapkan sesuatu terjadi, tidak ada seorang pun yang mampu keluar dari ketetapan-Nya.

Maka bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi berbagai musibah yang terjadi?

Pertama: Yakinlah, Tidak Ada Musibah yang Terjadi di Luar Takdir Allah
Allah Ta’ala berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Gempa bukan bergerak sendiri. Gunung tidak meletus di luar kekuasaan Allah. Hujan turun dan berhenti dengan takdir Allah. Angin bertiup dengan izin Allah.
Semua yang terjadi di alam semesta ini berada di bawah ilmu, kehendak, dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tetapi beriman kepada takdir tidak berarti kita meninggalkan ikhtiar.
Kita tetap mengikuti peringatan ahli yang terpercaya. Kita tetap melakukan mitigasi. Kita tetap mengungsi ketika diperintahkan. Kita tetap menjaga lingkungan. Kita tetap berusaha memadamkan kebakaran dan membantu korban.

Tawakal bukan meninggalkan sebab.
Seorang mukmin mengambil sebab yang dibenarkan, kemudian hatinya bersandar kepada Allah. Ketika musibah datang, ia mengucapkan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kedua: Musibah Seharusnya Membuat Kita Bertaubat, Bukan Sekadar Berkomentar
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Musibah apa saja yang menimpa kalian adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahan kalian.” (QS. Asy-Syura: 30)
Ayat ini seharusnya membuat kita melihat ke dalam diri sendiri.
Ketika bencana terjadi, jangan sampai kesibukan kita hanya untuk merekam, mengunggah, membagikan berita, berdebat mengenai penyebabnya, tetapi hati kita tidak berubah.
Para salaf ketika melihat tanda-tanda kebesaran Allah, mereka takut dan kembali kepada Allah.
Diriwayatkan bahwa ketika terjadi gempa pada masa Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau mengingatkan manusia agar kembali dan bertaubat kepada Rabb mereka. Pembahasan ini juga dinukil dalam penjelasan para ulama tentang hikmah gempa dan musibah.
Maka ketika melihat berbagai bencana, tanyakanlah kepada diri kita:
Bagaimana shalat saya?
Bagaimana hubungan saya dengan Allah?
Apakah masih ada riba yang saya pertahankan?
Apakah masih ada hak manusia yang saya zalimi?
Apakah lisan saya penuh ghibah dan dusta?
Apakah keluarga saya sudah saya jaga dari maksiat?
Jangan sampai bumi berguncang, tetapi hati kita tidak berguncang.
Gunung memuntahkan isinya, tetapi dosa kita tidak membuat kita takut.
Air menghilang dari sebagian tempat, tetapi air mata taubat tidak pernah keluar dari mata kita.
Musibah terbesar bukanlah ketika bumi berguncang.
Musibah terbesar adalah ketika hati tidak lagi mengambil pelajaran.

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ketiga: Jangan Gegabah Mengatakan Setiap Bencana Pasti Azab
Ini juga harus kita pahami dengan benar.
Ketika musibah menimpa seseorang atau suatu daerah, kita tidak boleh dengan mudah menunjuk mereka lalu mengatakan:
“Ini pasti azab Allah karena dosa mereka.”
Tidak demikian sikap seorang Muslim. Musibah dapat memiliki banyak hikmah.
Bagi sebagian orang, ia bisa menjadi peringatan. Bagi sebagian yang lain, menjadi penghapus dosa. Bagi orang beriman yang bersabar, musibah bahkan dapat mengangkat derajatnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا
“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang Muslim, bahkan duri yang menusuknya sekalipun, kecuali Allah menghapus sebagian dosa-dosanya dengan sebab musibah tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Karena itu kita tidak mengetahui secara pasti apakah suatu musibah tertentu adalah ujian untuk meninggikan derajat, penghapus dosa, peringatan, atau hukuman. Yang terpenting adalah bagaimana seorang hamba merespons musibah tersebut.
Maka bagi saudara kita yang tertimpa musibah: Bersabarlah.
Jangan berburuk sangka kepada Allah. Jangan mengatakan sesuatu yang Allah murkai. Yakinlah bahwa kesabaran tidak pernah sia-sia.
Allah berfirman:
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu mereka yang apabila ditimpa musibah berkata, ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 155–156)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Keempat: Musibah Saudara Kita Adalah Panggilan untuk Menolong
Jika rumah kita aman, air masih mengalir, keluarga kita sehat, dan kita dapat duduk nyaman di masjid hari ini, maka jangan hanya mengatakan:
“Alhamdulillah, bukan daerah kita.”
Tetapi katakan:
“Apa yang bisa saya lakukan untuk saudara saya?”
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, menyayangi, dan berbelas kasih adalah seperti satu tubuh.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ketika satu bagian tubuh sakit, bagian tubuh yang lain ikut merasakan. Maka bantulah korban bencana sesuai kemampuan. Dengan harta. Dengan tenaga. Dengan makanan. Dengan air bersih. Dengan tempat tinggal. Dengan doa.
Dan ketika berdonasi, pilihlah lembaga dan pihak yang amanah agar bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Jangan pula memanfaatkan penderitaan manusia hanya untuk membuat konten. Jangan menyebarkan foto jenazah dan penderitaan korban tanpa kebutuhan. Jaga kehormatan saudara kita bahkan ketika mereka sedang berada dalam keadaan lemah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ketika melihat berbagai musibah terjadi, maka ada empat pelajaran yang harus kita bawa pulang:
Pertama, perkuat iman kepada takdir Allah.
Kedua, jadikan musibah sebagai momentum muhasabah dan taubat.
Ketiga, bersabar dan jangan gegabah memvonis korban sebagai orang yang sedang diazab.
Keempat, tumbuhkan kepedulian dan bantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah.

Jangan tunggu musibah datang ke rumah kita baru kita ingat Allah. Jangan tunggu air sulit didapat baru kita sadar nikmat air. Jangan tunggu rumah berguncang baru kita sadar nikmat keamanan. Jangan tunggu kehilangan keluarga baru kita menghargai kesempatan bersama mereka.
Nikmatilah nikmat Allah dengan syukur sebelum Allah mengujinya dengan kehilangan.
Semoga Allah menjaga negeri kita. Semoga Allah mengangkat musibah dari kaum Muslimin. Semoga Allah memberikan kesabaran kepada mereka yang tertimpa bencana.
Dan semoga Allah menjadikan segala peristiwa yang kita lihat sebagai sebab hati kita semakin dekat kepada-Nya.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Bencana mengingatkan kita tentang satu kenyataan:
Dunia ini bukan tempat tinggal selamanya.
Rumah yang kokoh dapat rusak. Harta yang dikumpulkan bertahun-tahun dapat hilang dalam hitungan menit. Orang yang pagi hari sehat, sore hari bisa menghadap Allah.
Maka jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar hidup kita.
Persiapkanlah pertemuan dengan Allah. Perbanyak taubat dan istighfar. Perbaiki shalat. Tunaikan hak manusia. Tinggalkan kemaksiatan. Dan manfaatkan kesehatan serta keamanan sebelum keduanya berubah.

Rasulullah ﷺ mengajarkan doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, berubahnya keselamatan yang Engkau berikan, datangnya hukuman-Mu secara tiba-tiba, dan dari seluruh kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim)

اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا مِنَ الْفِتَنِ وَالزَّلَازِلِ وَالْبَلَايَا وَالْمِحَنِ.
Ya Allah, jagalah negeri kami dari berbagai fitnah, gempa, bencana dan musibah.
اللَّهُمَّ الْطُفْ بِإِخْوَانِنَا الْمُصَابِينَ، وَارْحَمْ مَوْتَاهُمْ، وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ، وَآوِ مُشَرَّدَهُمْ.
Ya Allah, berikan kelembutan-Mu kepada saudara-saudara kami yang tertimpa musibah. Rahmatilah mereka yang meninggal, sembuhkan yang terluka, dan berikan tempat berlindung kepada mereka yang kehilangan tempat tinggal.
اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ.
Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, baik, bermanfaat dan tidak membawa mudarat.
اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْنَا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا.
Ya Allah, terimalah taubat kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Wallahu Ta’ala a’lam.

Khutbah Jum'at untuk dibaca pada tanggal:  11 September 2026

*) Penyusun : Ma'ruf Ridho Syahrofi, S.Pi.

Ditulis di Yogyakarta, 09 September 2026 / 26 Rabiul Awwal 1448H.

Penyusun adalah warga Desa Mandah Kecamatan Natar - Lamsel .

Manager Batik Travel Umroh - Haji dan Ketua Yayasan MPD Peduli Yogyakarta

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 6 = ?
Berita Terkait