Khutbah Jum'at: Sedikit Menjadi Banyak Karena Qana'ah Atau Merasa Cukup dan Ridha Atas Pemberian Allah. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

KHUTBAH JUM'AT 10 Sep 2026 01:15 Admin NA 14 kali dibaca
Khutbah Jum'at: Sedikit Menjadi Banyak Karena Qana'ah Atau Merasa Cukup dan Ridha Atas Pemberian Allah. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Tidak semua yang sedikit berarti kekurangan.

Dan tidak semua yang banyak berarti kecukupan.

Ada orang yang hartanya tidak banyak, tetapi hidupnya tenang. Rumahnya sederhana, makanannya biasa, kendaraannya tidak mewah, tetapi wajahnya penuh senyum dan tidurnya nyenyak.

Sebaliknya, ada orang yang hartanya melimpah, rumahnya besar, kendaraannya berganti-ganti, rekeningnya berlapis-lapis, tetapi hatinya selalu gelisah. Dalam kesempatan khutbah hari ini khatib akan membacakan Khutbah yang berjudul: "Sedikit Menjadi Banyak Karena Qana'ah Atau Merasa Cukup dan Ridha Atas Pemberian Allah."

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa bukan hanya tentang memperbanyak amal, tetapi juga tentang bagaimana hati kita menerima ketetapan Allah.

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan satu perkara yang sering kita lupakan:

“Sedikit menjadi banyak karena qana’ah.”

Tidak semua yang sedikit berarti kekurangan.

Dan tidak semua yang banyak berarti kecukupan.

Ada orang yang hartanya tidak banyak, tetapi hidupnya tenang. Rumahnya sederhana, makanannya biasa, kendaraannya tidak mewah, tetapi wajahnya penuh senyum dan tidurnya nyenyak.

Sebaliknya, ada orang yang hartanya melimpah, rumahnya besar, kendaraannya berganti-ganti, rekeningnya berlapis-lapis, tetapi hatinya selalu gelisah.

Mengapa?

Karena kecukupan bukan semata-mata persoalan jumlah harta. Kecukupan adalah keadaan hati.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di antara penyakit manusia adalah selalu melihat apa yang belum dimiliki, tetapi lupa menghitung apa yang telah Allah berikan.

Kita memiliki mata, tetapi sering digunakan untuk melihat milik orang lain.

Kita memiliki rumah, tetapi kita melihat rumah orang lain.

Kita memiliki kendaraan, tetapi kita membandingkannya dengan kendaraan tetangga.

Kita memiliki penghasilan, tetapi kita melihat penghasilan orang lain.

Kita memiliki keluarga, tetapi kita melihat kehidupan keluarga orang lain.

Akhirnya, nikmat yang sebenarnya besar terasa kecil karena kita terus membandingkannya dengan milik orang lain.

Di sinilah qana’ah menjadi obat.

Qana’ah bukan berarti malas.

Qana’ah bukan berarti menyerah.

Qana’ah bukan berarti berhenti bekerja.

Qana’ah adalah bekerja dengan sungguh-sungguh, berikhtiar dengan maksimal, kemudian menerima dengan lapang apa yang Allah tetapkan.

Kita mengejar rezeki, tetapi tidak menjadikan harta sebagai Tuhan.

Kita bekerja keras, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan terakhir.

Kita boleh memiliki banyak, tetapi hati tidak diperbudak oleh banyaknya milik.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Qad aflaḥa man aslama, wa ruziqa kafāfan, wa qanna‘ahullāhu bimā ātāh.

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

Perhatikanlah hadis ini.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak mengatakan:

“Beruntung orang yang memiliki harta paling banyak.”

Tetapi:

قَدْ أَفْلَحَ

“Benar-benar beruntung…”

Siapa?

مَنْ أَسْلَمَ

“Orang yang berserah diri kepada Allah.”

وَرُزِقَ كَفَافًا

“Diberi rezeki yang cukup.”

Dan:

وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Allah menjadikannya qana’ah dengan apa yang diberikan kepadanya.”

Jamaah rahimakumullah,

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa ukuran keberuntungan bukanlah berapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa tenang hati kita dengan apa yang Allah berikan.

Sebab boleh jadi seseorang memiliki sedikit, tetapi Allah memberikan keberkahan.

Sedikit makanan, tetapi cukup untuk menguatkan tubuh.

Sedikit penghasilan, tetapi mampu memenuhi kebutuhan keluarga.

Rumah sederhana, tetapi penuh sakinah.

Pakaian biasa, tetapi menutup aurat dan menjaga kehormatan.

Kendaraan sederhana, tetapi mengantarkan kepada banyak kebaikan.

Itulah keberkahan.

Sedikit tetapi cukup, lebih baik daripada banyak tetapi membuat hati tidak pernah puas.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ

Wa in ta‘uddū ni‘matallāhi lā tuḥṣūhā, innallāha laghafūrur-raḥīm.

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Coba kita berhenti sejenak dan menghitung nikmat Allah.

Kita masih diberi kesempatan menghirup udara pagi.

Masih diberi jantung yang berdetak tanpa kita perintah.

Masih diberi mata untuk melihat.

Telinga untuk mendengar.

Lisan untuk berbicara.

Kaki untuk melangkah.

Tangan untuk bekerja.

Akal untuk berpikir.

Keluarga untuk dicintai.

Masjid untuk didatangi.

Iman untuk dipertahankan.

Kesempatan untuk bertaubat.

Dan yang paling besar:

Allah masih memberikan kita umur untuk memperbaiki diri sebelum kematian datang.

Namun sering kali kita mengatakan:

“Rezekiku sedikit.”

Padahal nikmat Allah tidak sedikit.

Yang sedikit mungkin hanya apa yang kita pegang.

Tetapi yang kita miliki sebagai nikmat Allah jauh lebih banyak daripada yang mampu kita hitung.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Qana’ah membuat kita berhenti menjadi budak perbandingan.

Sebab salah satu sumber kegelisahan manusia adalah terlalu sering membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.

Kita melihat seseorang mendapatkan rumah baru, lalu kita merasa rumah kita terlalu kecil.

Melihat orang membeli kendaraan baru, kita merasa kendaraan kita sudah tidak layak.

Melihat orang sukses, kita merasa diri kita gagal.

Melihat orang memiliki banyak uang, kita merasa rezeki kita sedikit.

Padahal kita tidak pernah tahu bagaimana ujian di balik kehidupan mereka.

Kita hanya melihat apa yang tampak.

Kita melihat nikmat mereka, tetapi tidak melihat ujian mereka.

Kita melihat hasilnya, tetapi tidak melihat perjuangannya.

Kita melihat senyumnya, tetapi tidak mengetahui air mata yang disembunyikannya.

Karena itu, jangan ukur hidup kita dengan kehidupan orang lain.

Allah telah menetapkan rezeki setiap hamba dengan hikmah-Nya.

Tugas kita adalah berusaha, berdoa, bersyukur, dan bertawakal.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Ada sebuah pertanyaan penting yang perlu kita bawa pulang hari ini:

“Mengapa aku merasa kekurangan, padahal Allah telah memberiku begitu banyak?”

Mungkin bukan nikmat Allah yang sedikit.

Mungkin syukur kita yang sedikit.

Bukan rezeki kita yang sempit.

Mungkin qana’ah kita yang sempit.

Bukan pemberian Allah yang kurang.

Mungkin keinginan kita yang terlalu panjang.

Keinginan manusia tidak memiliki batas.

Jika diberi satu, ingin dua.

Diberi dua, ingin tiga.

Diberi rumah, ingin rumah yang lebih besar.

Diberi kendaraan, ingin kendaraan yang lebih mahal.

Diberi jabatan, ingin jabatan yang lebih tinggi.

Diberi dunia, ingin lebih banyak lagi.

Jika hati tidak dididik dengan qana’ah, maka sebanyak apa pun dunia yang masuk ke dalam genggaman, tetap akan terasa kurang.

Karena itu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengingatkan:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Laisal-ghinā ‘an katsratil-‘araḍ, wa lākin al-ghinā ghinan-nafs.

“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah kekayaan yang sering kita lupakan.

Ada orang kaya secara materi, tetapi miskin ketenangan.

Ada orang banyak hartanya, tetapi miskin rasa syukur.

Ada orang besar rumahnya, tetapi sempit dadanya.

Ada orang sederhana kehidupannya, tetapi luas hatinya.

Maka marilah kita belajar menjadi kaya di dalam jiwa.

Bekerja keras, tetapi tetap qana’ah.

Berusaha mendapatkan yang halal, tetapi tidak rakus.

Mencari dunia, tetapi tidak kehilangan akhirat.

Memiliki harta, tetapi harta tidak memiliki hati kita.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang qana’ah, bersyukur, dan diberkahi rezekinya.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.

Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn

اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.

Ibadhallah...

اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 2 = ?
Berita Terkait