Mereka Kampanye Pakai Baju Adat, Tapi Setelah Menang Lupa. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik puun, para nengah nyappur, saibatin, pepadun, sai bumi ruwa jurai.
Izinkanlah saya, sebagai seorang yang diberikan amanah oleh leluhur untuk menjaga marwah adat, bercerita di beranda ini. Bukan untuk menggurui, melainkan untuk mengingatkan. Untuk mengajak kita semua merenung, sejauh mana kita masih memegang teguh piil pesenggiri di tengah hingar-bingar dunia yang serba instan.
Kisah ini saya mulai dari sebuah peristiwa yang selalu berulang di tanah Lampung. Saat pesta demokrasi tiba, para calon pemimpin berdatangan. Mereka datang membawa janji, berpakaian indah, dan bersalaman dengan kita semua. Namun, setelah kekuasaan berpindah tangan, semua janji itu seakan lenyap ditelan bumi. Budaya yang sempat dipuja, kini kembali menjadi anak tiri yang terlupakan.
Pernahkah, tabik puun memperhatikan, betapa semaraknya kampanye di Lampung? Di layar kaca, di spanduk-spanduk, para calon pemimpin kita datang dengan balutan pemakai, pakaian adat yang megah. Mereka memakai siger, menyandang gelar adat yang bahkan mungkin baru mereka ketahui namanya sehari sebelumnya. Mereka berfoto dengan para punyimbang, menari di atas pepadun, dan berjanji akan melestarikan Sai Bumi Ruwa Jurai.
Mereka akan mengaku-aku sebagai bagian dari kita. Mereka akan menyebut falsafah Nemui Nyimah (keramahan), Nengah Nyappur (keterbukaan), dan Sakai Sambayan (gotong royong) sebagai landasan kepemimpinan mereka. Mereka akan berbicara tentang Bejuluk Beadek (gelar kehormatan) seolah-olah mereka memahami makna mendalam di balik setiap pemberian nama.
Seorang budayawan muda Lampung, pernah mengingatkan kita tentang bahaya politik instan ini. Ia mengatakan:
"Politik, dalam watak dasarnya, bergerak dalam siklus pendek. Ia datang dengan janji, pergi bersama kepentingan, dan kembali lagi menjelang setiap pemilihan.
Sementara itu, kebudayaan Lampung adalah warisan yang telah melewati ujian ratusan tahun, bertahan bukan karena ia lentur mengikuti setiap hembusan kepentingan, melainkan karena ia teguh pada nilai-nilai yang mendefinisikan siapa kita."
Saya setuju dengan beliau. Adat bukanlah baju yang bisa dipakai dan dilepas seenaknya. Adat adalah piil pesenggiri, harga diri yang harus dijaga.
Mereka mungkin mengira rakyat ini pelupa. Namun, bagaimana mungkin kami melupakan? Kami adalah pewaris Kuntara Raja Niti, kitab yang mengajarkan bahwa piil harus dijaga, bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab. Dalam kitab suci adat itu, disebutkan: "Raja Piil-nya wanita, lemah lembut terhadap warga kerabat; Punyimbang Piilnya gadis, selalu berusaha mendapatkan cinta kasih." Ini mengajarkan bahwa setiap peran memiliki harga diri yang harus dijunjung tinggi.
Tapi yang terjadi setelah musim kampanye usai? Sepinya senyap. Janji pelestarian budaya hanya tinggal ucapan.
Pemerintah Provinsi Lampung, yang sering bersolek dengan pidato-pidato tentang kebudayaan, ternyata abai dalam tindakan nyata.
Kita mendengar alasan klise, "tidak ada dana." Sementara itu, kita melihat uang daerah dihabiskan untuk proyek-proyek yang jauh dari kebutuhan adat. Saya teringat kritik Dewan Penasehat LSM ELANG MAS, Jacob Ereste, yang menyoroti minimnya perhatian pemerintah pada kepustakaan budaya lokal.
Beliau berkata: "Budaya bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk dijaga, dibaca, ditulis, dan dipentaskan kembali."
Tetapi pemerintah kita lebih sibuk dengan "selebrasi" budaya, pesta perayaan yang instan, panggung megah di Taman Budaya untuk menunjukkan keberpihakan, tetapi ketika acara usai, para seniman kembali kelaparan, dan naskah-naskah kuno kembali berdebu di rak penyimpanan. Ini bukan pelestarian; ini adalah pemanfaatan budaya untuk citra politik.
Saya prihatin, tabik puun. Budaya Lampung saat ini berada dalam krisis yang nyata. Anak-anak muda kita sudah mulai malu berbahasa Lampung. Bahasa ibu kita, yang kaya dengan dialek "Api" dan "Nyow," perlahan ditinggalkan. Tanah ulayat, yang diatur dalam hukum adat yang adil, terus tergerus. Ratusan naskah kuno, yang menyimpan kearifan leluhur, terancam musnah karena tidak ada perhatian serius.
Inilah yang disebut oleh budayawan sebagai "reduksi nilai luhur." Ketika adok atau gelar adat mulai diserahkan kepada siapa saja demi kepentingan sesaat, maka martabat adat itu sendiri ikut runtuh.
Lebih parah lagi, ketika kita membiarkan budaya diinjak-injak oleh politik pragmatis, kita sedang mengajarkan kepada generasi muda bahwa kemunafikan adalah hal yang wajar. Kita sedang menghancurkan kepercayaan mereka pada warisan leluhur.
Novri mengatakan:
"Ketika adok kehilangan martabatnya, bukan hanya sebuah gelar yang hilang. Yang hilang adalah kepercayaan masyarakat terhadap lembaga adatnya sendiri, dan kepercayaan generasi mendatang bahwa warisan leluhur mereka masih layak untuk dijaga dan dibanggakan."
Di sinilah pentingnya kita kembali ke akar. Orang Lampung tidak hidup dalam kekosongan nilai. Kita memiliki Piil Pesenggiri, kita memiliki Pancasila, dan kita memiliki Islam. Ketiganya bukanlah entitas yang terpisah.
Falsafah Piil Pesenggiri:
* Pesenggiri (Harga Diri): Mengajarkan kita pantang menyerah, pantang mundur dalam membela kebenaran. Ini sejalan dengan semangat Islam untuk berjuang di jalan Allah, dan dengan sila Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Pancasila.
* Juluk-Adok (Gelar Kehormatan): Mengajarkan kita pentingnya nama baik dan adab. Dalam Islam, menjaga lisan dan memberikan gelar yang baik adalah anjuran. Dalam Pancasila, ini mencerminkan penghormatan pada martabat manusia.
* Nemui Nyimah (Ramah Tamah): Mengajarkan kita untuk memuliakan tamu. Ini adalah inti dari sila Kemanusiaan dan ajaran Islam tentang pentingnya silaturahmi.
* Nengah Nyappur (Bersosialisasi): Mengajarkan kita untuk bergaul, bermusyawarah, dan tidak membeda-bedakan. Ini adalah implementasi nyata dari sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dan juga semangat Islam yang inklusif.
* Sakai Sambayan (Gotong Royong): Mengajarkan kita tolong-menolong. Ini adalah jiwa dari sila Keadilan Sosial dan nilai hablum minannas (hubungan baik antar manusia) dalam Islam.
Ini bukan hanya sekadar jargon. Ini adalah way of life. Dalam sebuah kajian, bahkan disimpulkan bahwa nilai dan karakter Piil Pesenggiri itu sendiri merupakan pengejewantahan dari syariat Islam dan menjadi pilar ideologi Pancasila.
Seorang pemimpin Lampung sejati, yang memahami piil, tidak akan mungkin mengingkari janji. Karena dalam Islam, orang yang mengingkari janji adalah ciri orang munafik. Dan dalam adat Lampung, orang yang tidak memiliki piil adalah orang yang kehilangan harga diri.
Saya mendengar istilah "Janji Bui" (janji pragmatis ala napi) di kalangan wartawan Lampung untuk menggambarkan janji para pejabat. Janji yang ditaburkan hanya untuk meredam gejolak, bukan untuk ditepati. Janji yang jika nanti ditagih, tinggal menyiapkan seribu alasan.
Sudah saatnya kita, sebagai masyarakat Lampung, berhenti menjadi penonton yang terbuai. Kita harus menjadi pengawal yang kritis. Sebagaimana peran pers yang digambarkan oleh Juniardi dari Sinar Indonesia:
"Jurnalisme harus memiliki daya ingat yang lebih panjang dari siklus jabatan seorang pejabat.
Jika seorang pejabat menjanjikan perbaikan jalan atau pengentasan kemiskinan dalam 100 hari kerja, maka tugas pers adalah menagih janji tersebut di hari ke-101. Jangan biarkan 'janji bui' ini menjadi budaya birokrasi yang dianggap wajar."
Pesan ini bukan hanya untuk pers, tetapi untuk kita semua. Rakyat Lampung tidak butuh janji. Rakyat Lampung butuh bukti. Kami butuh pemerintah yang serius mengalokasikan dana untuk pelestarian budaya, yang tidak hanya sekadar pidato tentang adat, tetapi juga membangun perpustakaan yang kaya dengan naskah-naskah Lampung, yang mendukung para seniman dan budayawan, dan yang memastikan bahwa generasi muda kita bisa bangga berbahasa Lampung dan memahami warisan leluhurnya.
Tabik puun, marilah kita jadikan kisah ini sebagai renungan. Kita memiliki kekayaan budaya yang tak ternilai. Kita memiliki falsafah piil pesenggiri yang mengajarkan harga diri. Kita memiliki agama Islam yang mengajarkan kejujuran dan amanah. Kita memiliki Pancasila yang menjadi bintang penuntun bangsa.
Jangan biarkan semua itu dikotori oleh politisi yang hanya menjadikan budaya sebagai alat. Sudah saatnya kita bangkit. Mari kita jaga Sai Bumi Ruwa Jurai ini dengan sepenuh hati. Mari kita tegakkan piil pesenggiri, tidak hanya di mulut, tetapi dalam setiap tindakan kita.
Karena pada akhirnya, bukan gelar atau jabatan yang menentukan martabat kita, tetapi sejauh mana kita menjaga amanah dan menghormati nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur.
Pesan saya, sebagai penutup, sampaikanlah kepada para pemimpin kita: Kami adalah orang Lampung. Kami memiliki harga diri. Kami tidak akan rela jika adat dan budaya kami hanya menjadi komoditas politik. Tegakkanlah janjimu, atau siap-siaplah kehilangan kepercayaan rakyatmu. Semoga Allah melindungi Lampung dan seluruh warganya. Aamiin. <>
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar