Seri Buku: Sakai Sambayan, Gotong Royong yang Tak Boleh Hilang Seri 5: Sakai Sambayan dalam Pancasila Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 30 Sep 2026 01:49 • Admin NA • 64 kali dibaca
Seri Buku:   Sakai Sambayan, Gotong Royong yang Tak Boleh Hilang  Seri 5: Sakai Sambayan dalam Pancasila  Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun.

Sebelum kau bertanya siapa aku, cukup kau tahu saja, aku ini anak yang dibesarkan di tanah Lampung, minum air Way Tulang Bawang. Hari ini aku ingin bercerita tentang sebuah tangga.

Itu sudah puluhan tahun silam. Di sebuah kampung kecil di wilayah Pepadun (sistem kekerabatan patrilineal di pedalaman Lampung), hiduplah seorang pemuda bernama Ani. Ia menabung hasil panen lada selama tiga tahun penuh, sampai akhirnya cukup untuk membangun rumah sendiri. Pagi hari peletakan batu pertama, langit masih gelap ketika Ani mendengar suara di luar rumah. Dibukanya pintu, dua puluh lebih tetangga sudah berdiri di kabut pagi. Ada yang memikul kayu, ada yang membawa atap anyaman daun kelapa, dan beberapa orang tua duduk sambil mengunyah pinang, tersenyum menunggu untuk "mengarahkan".

Tanpa undangan, tanpa upah, bahkan tak ada yang ingat siapa yang pertama mengabarkan.

Inilah Sakai Sambayan.

Di Lampung ada pepatah yang diwariskan berabad-abad: Sakai Sambayan gawi. Artinya "bekerja bersama, memikul bersama". Kau mungkin pernah dengar kata "gotong royong" di tempat lain, itu istilah Indonesia untuk "saling membantu". Tapi di Lampung, Sakai Sambayan melangkah lebih dalam.

Ia bukan sekadar "kerja bareng". Ia adalah salah satu akar dari pohon besar bernama Piil Pesenggiri.

Kalau kau belum akrab dengan Piil Pesenggiri, biar kujelaskan dengan cara paling sederhana: inilah tulang punggung orang Lampung. Pesenggiri adalah harga diri, semangat seseorang yang lebih memilih berdiri tegak mati daripada berlutut hidup. Tapi harga diri tak pernah jadi urusan penyendiri. Leluhur Lampung sudah lama memahami: harga diri seseorang hanya bisa tegak dalam keterhubungan dengan orang lain. 

Karena itu Piil Pesenggiri menumbuhkan lima tiang, Pesenggiri (harga diri), Juluk-Adok (gelar dan kehormatan), Nemui Nyimah (keramahan dan saling memberi), Nengah Nyappur (keterbukaan dan pergaulan), serta Sakai Sambayan (gotong royong dan kebersamaan).

Saibatin (sistem kekerabatan di pesisir Lampung) dan Pepadun (sistem kekerabatan di pedalaman) berselisih paham dalam banyak hal selama berabad-abad, tapi soal Sakai Sambayan, keduanya tak pernah bersitegang. Ngelemang, membuat beras ketan dalam bambu, dari menebang bambu sampai menyalakan api, tak akan berjalan tanpa tujuh orang atau lebih: lelaki menebang bambu, perempuan merendam beras, orang tua mengawasi api, anak-anak menyodorkan kayu. Dalam sebatang lemang, tersimpan seluruh pembagian kerja dan keakraban satu masyarakat.

Tapi yang ingin kusampaikan lebih dalam dari itu.

Di Lampung beredar sebuah kitab hukum kuno bernama Kuntara Raja Niti. Tak ada tahun pasti kapan ia ditulis; ada yang mengatakan berasal dari era Hindu-Buddha, lalu dilebur kembali oleh Islam. Di dalamnya, pasal kedua puluh tiga memuat aturan tentang Piil Pesenggiri, dan ada satu bait berbahasa Lampung kuno, coba kubacakan untukmu: Nengah-Nyampogh mak ngungkung, Sakai-Sambaian gawi.

Terjemahannya kira-kira: “Jangan menutup diri, jangan mengurung diri; segala sesuatu hendaknya dilandasi gotong royong.”

Kalimat ini ditulis ratusan tahun lalu, tapi hingga kini masih menjadi pegangan para tetua kampung saat menasihati generasi muda.

Yang lebih menarik perhatianku adalah dialog dalam kitab lain. Di Kuntara Raja Niti ada petuah tentang "berjalan", yang bagiku sangat berkesan:

“Jangan takut berjalan di muka, siapa tahu di belakang ada harimau; jangan takut berjalan di belakang, siapa tahu di depan ada macan.”

Artinya: berjalan di depan, jangan takut, siapa tahu di belakang ada harimau; berjalan di belakang, juga jangan takut, siapa tahu di depan ada macan. Kalau masuk ke semak berduri, pelankan langkah, pelan, tapi pasti sampai.

Apakah ini sekadar soal berjalan? Tentu bukan. Ini tentang bagaimana seseorang harus menempatkan diri dalam kelompok: kau tidak berjalan sendirian di padang gurun; ada orang di belakangmu, ada juga di depanmu. Inilah sisi lain Sakai Sambayan, ia bukan cuma "kerja bareng", tapi semacam kontrak sosial tentang rasa aman.

Waktu kecil aku pernah ikut kakek ke Begawi, upacara adat terbesar di Lampung, perpaduan ritual adat dan syukuran. Ratusan orang berkumpul: menyembelih kerbau, memasak seruit (hidangan khas Lampung berupa ikan dengan sambal, dibumbui tempoyak durian fermentasi, disajikan dengan aneka sayuran segar), mendirikan tenda, menyambut tamu. Tanpa Sakai Sambayan, semua ini mustahil berjalan.

Tapi yang paling membekas bagiku justru hal kecil.

Kakek menunjuk seorang lelaki paruh baya yang sibuk mondar-mandir mengangkat kayu bakar, lalu berkata: “Lihat? Tiga tahun lalu dia membangun rumah, seluruh kampung datang. Hari ini dia datang untuk 'melunasi' utangnya.”

"Utang apa?" tanyaku.

"Utang Sakai," kakek tersenyum. “Bukan uang, tapi hati.”

Baru kemudian aku paham, logika Sakai Sambayan bukanlah "tukar-menukar", melainkan mengalir. Hari ini kau membantuku, besok aku membantunya, lusa dia membantumu, bantuan mengalir tanpa henti seperti air Way Tulang Bawang di urat nadi kampung. Tak ada yang mencatat dalam buku utang, karena komunitas sejati tak butuh pertukaran yang presisi. Setiap orang punya timbangan di hatinya, tapi timbangan itu tidak mengukur "berapa yang kuberi", melainkan "apakah aku masih berada dalam aliran itu".

Beberapa tahun terakhir, para peneliti mulai menaruh perhatian pada Sakai Sambayan. Ada yang merangkum kerangka lengkap Piil Pesenggiri dari teks Kuntara Raja Niti, dan memastikan Sakai Sambayan adalah pilar inti "nilai berbagi" di dalamnya. Ada pula yang meneliti tradisi Ngelemang di Desa Way Mengaku, dan menemukan bahwa seluruh proses pembuatan lemang adalah bahan ajar hidup Sakai Sambayan, dari menebang bambu, merendam beras, sampai mengawasi api, setiap langkah adalah latihan "hadir bersama".

Mohammad Medani Bahagianda, seorang penulis budaya Lampung, dalam seri karyanya berulang kali menegaskan satu hal: Sakai Sambayan bukan barang museum, ia terus bernafas dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang meninggal, tetangga otomatis berdatangan: yang memasak memasak, yang menggali kubur menggali kubur, yang menerima tamu menerima tamu. Tak ada yang memberi komando, karena adat (hukum kebiasaan) itu sendiri adalah perintah.

Kakekku tak bisa baca tulis, ia tak paham teori "kontrak sosial". Tapi ia tahu satu hal: seseorang bisa berjalan cepat, tapi sekelompok orang baru bisa berjalan jauh.

Aku harus jujur padamu. Di Lampung hari ini, Sakai Sambayan memang tak lagi se"otomatis" dulu. 

Di beberapa kampung, jadwal gotong royong ditempel di dinding balai desa, tapi yang datang cuma sedikit. Anak muda merantau ke kota, sibuk mencicil rumah, mengejar KPI, sulur Sakai warisan leluhur itu seperti perlahan mengering.

Tapi aku tidak pesimis.

Lihatlah, pada 2025, Pemerintah Provinsi Lampung mengajukan dua belas Warisan Budaya Takbenda (WBTbI) ke pemerintah pusat, di antaranya Seghak Asah (tradisi saling mengasah dalam kebersamaan) dan Ghamas (bentuk kerja kolektif), nyawanya semua adalah Sakai Sambayan. Para sarjana mendiskusikan kaitan Sakai Sambayan dengan sila kelima Pancasila (Pancasila, lima prinsip dasar negara Indonesia) di ruang kuliah. Seorang peneliti bahkan mengembangkan modul pembelajaran elektronik berbasis "Sakai Sambayan" untuk pendidikan kewarganegaraan di sekolah dasar.

Benih itu tidak hilang. Ia hanya tumbuh dengan cara yang berbeda.

Izinkan aku menyelesaikan ceritanya.

Rumah Ani selesai dalam tiga hari. Sore hari ketika helai terakhir atap daun kelapa terpasang, seluruh kampung makan bersama di depan rumah baru itu. Hidangan dibawa dari rumah masing-masing: ada yang membawa semangkuk seruit, ada yang membawa sepanci kopi lampung. Tanpa pidato, tanpa upacara pengguntingan pita. Ayah Ani, seorang Punyimbang (kepala adat marga) yang pendiam, hanya mengucapkan dua kalimat: “Tabik pun. Rumah ini bukan milik Ani. Rumah ini milik kita semua.”

Tabik pun. Rumah ini bukan Ani punya. Rumah ini kita semua punya.

Sakai Sambayan, pada akhirnya, adalah mengingatkan setiap orang: tanah yang kau pijak adalah tanah yang juga dipijak orang lain. Atap yang kau bangun menahan hujan dan angin, menghangatkan hati manusia.

Daftar Pustaka

1. Pudjiastuti, T. (1996/1997). Aksara dan Naskah Kuno Lampung dalam Pandangan Masyarakat Lampung Kini. Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

2. Katalog Naskah Lampung. (2021). Jakarta: Balai Litbang Agama.

3. Mohammad Medani Bahagianda (Dalom Putekha Jaya Makhga). Sakai Sambayan Nilai Gotong Royong yang Melekat dalam Kehidupan Harian. Hatipena.

4. Mohammad Medani Bahagianda. Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, Seri 3: Sakai Sambayan, Gotong Royong sebagai Wujud Amal Saleh. Nataragung.id.

5. Piil Pesenggiri. Wikipedia Bahasa Indonesia.

6. Sistim Gotong Royong dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Lampung. (1986). Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Lampung.

7. Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Lampung. (1996/1997). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

8. Kuntara Raja Niti sebagai rujukan adat Lampung. CORE.

9. Laporan Pemprov Lampung tentang Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2025.

10. Wibisono, D. (2020). Nilai Sakai-Sambayan dalam Kehidupan Masyarakat Lampung. Universitas Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 9 = ?
Berita Terkait