Seri Buku: Sakai Sambayan, Gotong Royong yang Tak Boleh Hilang Seri 6: Jangan Sampai Hilang di Tangan Kita Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun.
Duduklah sebentar di beranda ini. Biar kutuangkan kopi Lampung yang masih mengepul, dan kuceritakan sesuatu yang membuat hatiku gelisah akhir-akhir ini. Bukan gelisah karena harga lada turun atau jalan kampung rusak. Gelisah karena ada sesuatu yang lebih dalam sedang terkikis pelan-pelan, tanpa kita sadari.
Dahulu kala, sebenarnya tidak terlalu lama, baru sekitar lima belas tahun silam, di sebuah kampung di tepi Way Sekampung, ada seorang tetua bernama Punyimbang Marga Sutan Ratu. Usianya sudah kepala delapan, tapi ingatannya masih tajam seperti mata pisau yang baru diasah.
Setiap kali ada Gawi, kerja adat bersama, rumahnya selalu jadi titik pertama orang berkumpul. Dari teras rumahnya, ia bisa menghitung siapa yang datang, siapa yang absen, dan yang paling ia sesalkan: siapa yang sudah lama tak muncul. Bukan karena ia suka mencatat kesalahan orang. Tapi karena ia tahu, satu orang yang absen berarti satu pasang tangan yang hilang dari kerja bersama.
Suatu sore, ia memanggil cucunya, Bujang, yang baru pulang dari Bandar Lampung. Pemuda itu sibuk dengan ponselnya, sesekali tertawa sendiri melihat layar. Tangannya lincah mengetik, tapi kakinya sudah lama tak menginjak tanah kampung untuk bekerja bersama.
"Bujang," kata sang Punyimbang pelan. "Kapan terakhir kau ikut Nayuh?"
Bujang mendongak, bingung. "Nayuh apa, Kakek?"
Sang kakek terdiam. Bukan karena marah. Tapi karena ia baru sadar, ada satu kata adat yang sudah hilang dari ingatan cucunya sendiri. Dan kalau kata saja bisa hilang, apalagi perbuatannya.
Nayuh. Nayuh adalah pesta adat pernikahan dalam tradisi Pepadun, puncak dari rangkaian Begawi, saat seluruh kampung bahu-membahu menyiapkan hidangan, mendirikan bangsal, menyambut tamu dari berbagai marga. Tanpa Sakai Sambayan, Nayuh hanya jadi pesta keluarga kecil yang kehilangan rohnya. Hidangan mungkin tetap tersaji, tapi tak ada lagi suara tawa orang-orang yang bergotong royong sejak subuh.
Tapi hari ini, mengumpulkan orang untuk Gawi semakin sulit. Anak muda sibuk dengan pekerjaan di kota. Ada yang bilang, "Sudah, saya kirim uang saja, biar orang lain yang kerja." Padahal, dan ini yang perlu kita renungkan bersama, Sakai Sambayan bukan soal uang. Ia soal kehadiran. Kehadiran tubuh, keringat, dan wajah yang tersenyum saat bekerja bersama.
Uang memang bisa membeli tenaga. Tapi uang tidak bisa membeli rasa kebersamaan yang lahir saat kau dan tetanggamu sama-sama mengangkat kayu, sama-sama berkeringat, sama-sama tertawa karena salah satu dari kalian tersandung. Itu bukan transaksi. Itu ikatan.
Individualisme masuk bukan lewat pintu depan. Ia menyusup lewat layar ponsel, lewat gaya hidup kota yang mengajarkan bahwa segalanya bisa dibeli, termasuk tenaga orang lain. Kita mulai lupa, ada hal yang tak bisa dibeli: rasa kebersamaan yang lahir dari keringat yang bercampur.
Menurut cerita lisan, dulu orang Lampung tidak pernah menghitung berapa kali ia membantu tetangga. Yang ia hitung adalah berapa kali ia tidak hadir. Karena satu ketidakhadiran terasa lebih berat dari seratus kehadiran.
Beberapa tahun lalu, dalam sebuah pertemuan adat di Gedung Sesat, para Punyimbang dari berbagai marga berkumpul. Salah satu dari mereka, Punyimbang dari Marga Unyi, berdiri dan berkata dengan suara berat:
"Kalau Nayuh tidak lagi dibantu, apa artinya jadi orang Lampung? Kita punya Piil Pesenggiri, tapi kalau Gawi di kampung tidak lagi ramai, kampung kehilangan rohnya."
Kalimat itu menggema. Karena ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar tradisi. Sakai Sambayan bukan cuma adat. Ia adalah cara kita jadi manusia Lampung yang sebenarnya.
Menurut adat, orang Lampung yang sejati bukan yang paling kaya, bukan yang paling tinggi jabatannya. Tapi yang hadir saat dipanggil, yang datang saat dibutuhkan. Itulah Nemui Nyimah dalam praktiknya, keramahan dan saling memberi, bukan dengan uang, tapi dengan diri sendiri.
Ada pula yang mengingatkan tentang Nengah Nyappur, keterbukaan dan kemampuan bersosialisasi. Orang yang menutup diri dari Gawi, menurut adat, sedang menutup pintu rezekinya sendiri. Bukan karena adat itu mistis, tapi karena hidup bersama memang begitulah adanya: kita tumbuh karena orang lain, dan orang lain tumbuh karena kita.
Dalam Kuntara Raja Niti, kitab adat warisan leluhur, ada petuah yang berbunyi: "Sai lapah, ninggal jejak. Sai diam, ninggal nama."
Artinya: yang pergi meninggalkan jejak, yang diam meninggalkan nama. Jejak itu bukan jejak kaki di tanah. Jejak itu adalah jejak kebaikan yang kita tinggalkan dalam hidup orang lain. Dan Sakai Sambayan adalah cara paling nyata untuk meninggalkan jejak itu.
Menurut syarak, petuah ini selaras dengan perintah Allah dalam Al-Qur'an tentang ta'awun, saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hidup sendiri. Islam mengajarkan jama'ah, kebersamaan. Maka Sakai Sambayan bukan hanya adat Lampung. Ia juga napas keislaman yang sudah lama mengakar di bumi Sai Bumi Ruwa Jurai.
Kabar baiknya, Sakai Sambayan belum mati. Ia hanya perlu dihidupkan kembali, dimulai dari hal-hal kecil.
Pertama, mulai dari tetangga. Kalau ada hajatan, jangan tunggu diundang. Datanglah lebih dulu. Bantu angkat kursi, bantu potong sayur, bantu apa saja. Kehadiran kita lebih berharga dari amplop yang tebal. Jangan tanya "apa yang bisa saya bantu?", langsung ambil pekerjaan yang ada. Itulah cara orang Lampung dulu bekerja: tanpa banyak bicara, tanpa banyak tanya.
Kedua, lihatlah Muli Mekhanai, organisasi pemuda kampung dalam struktur adat Lampung. Di banyak desa, merekalah yang kini menggerakkan Gawi. Mereka yang mengumpulkan tenaga, mencari dana, dan menjaga agar tradisi tetap berjalan. Mereka adalah generasi penerus yang tidak menunggu tua untuk peduli. Kalau di kampungmu belum ada Muli Mekhanai yang aktif, mengapa tidak kau yang memulainya?
Ketiga, bawa Sakai Sambayan ke kota. Di Bandar Lampung, tepatnya di kawasan Kedamaian, pemuda-pemuda Lampung yang merantau sudah memulai. Mereka membuat kelompok Gawi versi kota: gotong royong membersihkan masjid, membantu warga yang kena musibah, bahkan menggalang dana untuk kampung halaman. Sakai Sambayan tidak mengenal batas geografis. Ia hanya mengenal satu syarat: mau hadir.
Keempat, dan ini yang paling penting, ajarkan ke anak-anak lewat cerita, bukan lewat ceramah. Anak-anak tidak suka dinasihati, tapi mereka suka mendengar kisah. Ceritakan tentang kakek-nenek yang membangun masjid bersama, tentang seruit yang dibuat beramai-ramai, tentang hangatnya kebersamaan saat Ngelemang di malam hari. Biarkan mereka tumbuh dengan cerita itu di kepala, agar kelak mereka tahu dari mana mereka berasal.
Kelima, jangan malu dengan adat sendiri. Salah satu penyakit zaman ini adalah rasa rendah diri terhadap tradisi. Padahal, menurut penelitian para sarjana, nilai-nilai Piil Pesenggiri selaras dengan nilai Islam dan Pancasila. Sakai Sambayan adalah kearifan lokal yang relevan sepanjang zaman. Ia bukan barang kuno. Ia adalah jawaban untuk zaman yang semakin dingin dan individualis.
Menurut syarak, gotong royong adalah bagian dari ta'awun, saling menolong dalam kebaikan, yang diperintahkan Allah dalam Al-Qur'an. Dan menurut adat, ia adalah napas yang membuat kampung tetap hidup. Keduanya bertemu di satu titik: manusia tidak bisa hidup sendiri.
Sakai Sambayan adalah napas kampung. Kalau napas itu berhenti, kampung mati. Bukan mati dalam arti tidak ada orang yang tinggal di sana. Tapi mati dalam arti kehilangan jiwanya, kehilangan rasa saling memiliki, kehilangan kehangatan, kehilangan alasan untuk pulang.
Tapi selama masih ada satu orang yang datang saat dipanggil, selama masih ada satu bakul yang diantarkan, selama masih ada satu Gawi yang dikerjakan bersama, Sakai Sambayan masih hidup.
Tugas kita bukan sekadar mengenang. Tugas kita adalah menjadi orang yang hadir. Jangan jadi orang terakhir yang mengingatnya. Jadilah orang yang mewariskannya.
Mari kita renungkan sejenak. Ketika kelak cucu kita bertanya, "Kakek, apa itu Sakai Sambayan?", apa yang akan kita jawab? Apakah kita akan tersenyum dan bercerita tentang kehangatan beranda yang penuh orang? Ataukah kita akan terdiam, karena kita sendiri sudah lama melupakannya?
Sai Bumi Ruwa Jurai, tanah Lampung yang dihuni dua jurai, Pepadun dan Saibatin. Dua aliran, satu jiwa. Dan jiwa itu bernama Sakai Sambayan.
Jangan sampai hilang di tangan kita.
Tabik pun.
Daftar Pustaka
1. Kuntara Raja Niti. Naskah adat Lampung. Alih aksara dan terjemahan dalam Katalog Naskah Lampung. Jakarta: Balai Litbang Agama, 2021.
2. Mohammad Medani Bahagianda (Dalom Putekha Jaya Makhga). Sakai Sambayan Nilai Gotong Royong yang Melekat dalam Kehidupan Harian. Hatipena.
3. Mohammad Medani Bahagianda. Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, Seri 3: Sakai Sambayan, Gotong Royong sebagai Wujud Amal Saleh. Nataragung.id.
4. Sistim Gotong Royong dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Lampung. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Lampung, 1986.
5. Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Lampung. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996/1997.
6. Pudjiastuti, T. Aksara dan Naskah Kuno Lampung dalam Pandangan Masyarakat Lampung Kini. Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1996/1997.
7. Wibisono, D. Nilai Sakai-Sambayan dalam Kehidupan Masyarakat Lampung. Universitas Lampung, 2020.
8. Laporan Pemprov Lampung tentang Warisan Budaya Takbenda Indonesia, 2025.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar